{"id":30,"date":"2018-03-30T13:10:43","date_gmt":"2018-03-30T13:10:43","guid":{"rendered":"http:\/\/endahjubaedah.staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/?p=30"},"modified":"2018-10-20T13:12:34","modified_gmt":"2018-10-20T13:12:34","slug":"jurnal-metode-bermain-konstruktif-lego","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/endahjubaedah\/2018\/03\/30\/jurnal-metode-bermain-konstruktif-lego\/","title":{"rendered":"JURNAL METODE BERMAIN KONSTRUKTIF LEGO"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\">MENINGKATKAN KEMAMPUAN KONSENTRASI ANAK HIPERAKTIF MELALUI METODE BERMAIN KONSTRUKTIF LEGO<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Oleh: Endah Jubaedah<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong>ABSTRAK<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left\"><strong>Kemampuan konsentrasi anak hiperaktif kelas B di RA Al-Bayyinah masih tergolong rendah dengan persentase keberhasilan kurang dari 26,33%. Hal ini disebabkan oleh faktor proses pembelajaran masih bersifat klasikal dan membosankan bagi anak karena guru kurang memanfaatkan media pembelajaran. Sebagai alternatif untuk meningkatkan kemampuan konsentrasi anak, peneliti melakukan penelitian tindakan kelas dengan metode bermain konstruktif lego dengan harapan proses pembelajaran dapat lebih menarik dan inisiatif anak sehingga kemampuan konsentrasi anak lebih optimal. <\/strong><strong>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis<\/strong><strong> kemampuan konsentrasi anak hiperaktif <\/strong><strong>\u00a0mengenai bagaimana <\/strong><strong>penerapan metode bermain konstruktif lego di RA Al-Bayyinah Muarasanding Garut. <\/strong><strong>Kemampuan <\/strong><strong>konsentrasi anak hiperaktif <\/strong><strong>meningkat <\/strong><strong>dari siklus ke siklus <\/strong><strong>melalui bermain <\/strong><strong>konstruktif <em>lego. <\/em>S<\/strong><strong>ebelum tindakan persentase<\/strong><strong> 26,33<\/strong><strong>%. Pada siklus I,\u00a0 kemampuan konsentrasi anak hiperaktif meningkat menjadi 3<\/strong><strong>1,50<\/strong><strong>% kriteria berkembang sesuai harapan.<\/strong> <strong>Sedangkan pada siklus 2, kemampuan konsentrasi anak hiperaktif mengalami<\/strong><strong> peningkatan <\/strong><strong>\u00a089<\/strong><strong>,48<\/strong><strong>% pada kriteria berkembang sesuai harapan. Peningkatan kemampuan konsentrasi anak sudah melampaui indikator keberhasilan yang sudah ditetapkan\u00a0 yaitu 80%.<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li><strong>PENDAHULUAN<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Anak Hiperaktif merupakan masalah kesehatan mental berbasis neurologi yang banyak terjadi pada anak. sebagian besar anak hiperaktif menunjukan perilaku hiperaktif dan implusif dengan atau tanpa masalah berkesulitan dalam pemusatan perhatian. Pada sebagian kecil anak yang teridentifikasi anak hiperaktif\u00a0 hanya mengalami gejala dalam masalah ini. Pada masa ini, jumlah anak yang mengalami masalah perhatian (<em>inattentiveness<\/em>) semakin meningkat.<\/p>\n<p>Pendapat yang sama dikemukanan Douglas memberi gambaran tentang model defisit, problem dan kesukaran anak hiperaktif dimulai dari ketidak-mampuan untuk memperhatikan, kontrol perilaku yang rendah dan kecenderungan untuk mencari dan membutuhkan stimulus. Masalah yang ada kaitannya dengan konsentrasi, impulsivitas dan banyaknya stimulus yang datang kemampuan konsentrasi yang kurang menyebabakan anak hiperaktif sering mengalami kegagalan.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Metode Bermain Konstruktif Lego<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Metode merupakan bagian dari strategi kegiatan. Metode berdasarkan strategi kegiatan sudah dipilih dan ditetapkan. Metode merupakan cara, yang dalam bekerjanya merupakan alat untuk mencapai tujuan. Yang dimaksud bermain konstruktif yaitu kegiatan yang menggunakan berbagai benda yang ada untuk menciptakan suatu hasil karya tertentu.<\/p>\n<p>Dengan permainan konstruktif kemampuan anak dapat terlihat dari segi tujuannya yaitu untuk mewujudkan pikiran, ide, dan gagasan yang nantinya dapat menjadi \u00a0sebuah karya nyata. Terdapat dua jenis permainan konstruksi, yaitu bermain konstruksi yang bersifat cair \u00a0seperti air, pasir, spidol, dan lain sebagainya. Selain itu ada permainan konstruksi terstruktur seperti balok-balok, lego, dan lain sebagainya.<\/p>\n<p>Breton melakukan penelitian \u00a0Tahun 1999 hasilnya anak hiperaktif banyak dialami oleh anak laki-laki dari pada anak perempuan, estimasi 2-4% untuk anak perempuan, dan 6-9% untuk anak laki-laki usia 6-12 tahun.<\/p>\n<p><strong>Tahapan Perkembangan Bermain<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li>Bermain fungsional, yaitu kegiatan bermain yang ditandai dengan gerakan otot yang berulang-ulang, desebut juga motor play.<\/li>\n<li>Bermain konstruktif, yaitu kegiatan bermain yang menggunakan objek atau bahan tertentu untuk membentuk sesuatu seoerti balaok\/lego, kardus bekas, play doug dll.<\/li>\n<li>Bermain simbolik, yaitu kegiatan bermain pura-pura, memerankan suatu objek. Biasanya muncul di akhir tahap sensorimotor.<\/li>\n<li>Bermain dengan peraturan (<em>game with rules<\/em>) Dimana anak sudah memahami dan bersedia memenuhi peraturan permainan.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Hubungan Penggunaan Metode Bermain Konstruktif Lego dan Konsentrasi Anak Hiperaktif<\/strong><\/p>\n<p>Metode bermain adalah suatu metode pembelajaran melalui kegiatan bermain anak dapat mengembangkan kreativitas, kemampuan konsentrasi,perkembangan kognisi, kegiatan bermain dapat dapat membantu penyaluran kelebihan tenaga, setelah melakukan bermain anak dapat memperoleh keseimbangan anatara kegiatan dengan menggunakan kekuatan tenaga dan kegiatan yang memrlukan ketenagaan. Anak dapat menyalurkan rasa ingin tahunya dengan menggunakan metode bermain.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Metode Penelitian<\/strong><\/li>\n<li><strong>Jenis Penelitian<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (<em>Classroom Action Research<\/em>). Menurut Wardani, penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru didalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerja guru sehingga, hasil belajar siswa meningkat sanjaya menyatakan bahwa pola penelitian tindakan kelas dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Pola Guru Peneliti,<\/li>\n<li>Pola Kolaboratif,<\/li>\n<li>Pola Penelitian Terintegrasi.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pola kolaboratif, yaitu penelitian yang melibatkan beberapa pihakbaik guru, kepala sekolah, dosen, maupun mahasiswa. Arikunto menyatakan bahwa dalam penelitian kolaboratif, pihak yang melakukan tindakan adalah guru itu sendiri, sedangkan yang diminta melakukan pengamatan terhadap berlangsungnya proses tindakan adalah peneliti bukan guru yang sedang melakukan tindakan. Penelitian ini guru sebagai pengajar dan peneliti bertindak sebagai pengamat. Zaenal Abiq mengatakan bahwa penelitian merupakan cara yang strategis untuk memperbaiki layanan kependidikan yang harus dilaksanakan dalam konteks pembelajaran di kelas dan meningkatkan kualitas program sekolah secara keseluruhan. Oleh karena itu semua kegiatan selalu diamati, kemudian direfleksi dengan harapan dapat meningkatkan pembelajaran.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Setting Penelitian <\/strong><\/li>\n<li><strong>Waktu Penelitian<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Penelitian ini dilakukan pada akhir semester ganjil dan berlanjut pada awal semester genap. Penelitian dimulai pada bulan Desember serta berlanjut pada bulan Januari dan Februari. Kurun waktu tersebut digunakan peneliti untuk melakukan observasi guna untuk mengetahui kemampuan konsentrasi anak, melakukan perencanaan (menyusun RPPH, menyiapkan media, dan menyiapkan instrumen pengamatan), pelaksanaan tindakan penelitian, elakukan pengamatan dan refleksi.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong>Tempat penelitian<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Tempat penelitian yang diambil yaitu di RA Al-Bayyinah Muarasanding Kecamatan Garut Kota Kabupaten Garut. Penelititian di RA Al-Bayyinah dengan alasan metode pembelajarannya masih bersifat klasikal dan metode ceramah yang membuat anak bosan, tidak menarik minat belajar anak dalam menerima materi pembelajaran yang disampaikan guru.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Sumber dan Obyek Penelitian<\/strong><\/li>\n<li>Subjek Penelitian<\/li>\n<\/ol>\n<p>Subjek penlitian tindakan kelas ini adalah anak-anak kelas B RA Al-Bayyinah Desa Muarasanding Kecamatan Garut Kota Kabupaten Garut Tahun Pelajaran 2017\/2018 yang berjumalah 60 anak, terbagi atas tiga kelas, kelas B1, B2 dan B3. Sebagai subjek penelitian tindakan diambil yaitu kelas B2 terdiri dari 19 siswa, 6 orang perempuan dan 13 orang\u00a0 laki-laki.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>Objek Penelitian<\/li>\n<\/ol>\n<p>Objek penelitian tindakan kelas ini adalah tentang mengembangkan kemampuan konsentrasi anak hiperaktif melalui metode bermain konstruktif lego.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Metode Pengumpulan Data<\/strong><\/li>\n<li>Observasi<\/li>\n<\/ol>\n<p>Observasi adalah kegiatan pengamatan (pengambilan data) untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran. Dalam penelitian ini guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar, sedangkan peneliti mengamati, menilai, dan mendokumentasi semua tindakan selama proses belajar.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>Interview\/Wawancara<\/li>\n<\/ol>\n<p>Wawancara atau interview dapat diartikan dapat sebagai teknik mengumpulkan data dengan menggunakan bahasa lisan baik secara tatap muka ataupun melalui saluran media tertentu. Jadi interview adalah salah satu cara pengumpulan data dengan mengadakan dialog atau tanya jawab dengan orang yang menjadi nara sumber informasi atau keterangan secara lisan dan saling berhadapan dengan orang yang diminta keterangan.<\/p>\n<p>Teknik interview yang dipakai dalam penelitian ini adalah interview bebas terpimpin yaitu proses pengajuan pertanyaan yang dilakukan secara bebas tetapi isi pertanyaannya berpedoman kepada pokok-pokok yang ditetapkan terlebih dahulu. Wawancara ini ditunjukkan kepada guru kelompok B2 yang dapat memberikan informasi tentang data yang dibutuhkan oleh peneliti dalam mengembangkan kemampuan konsentrasi anak hiperaktif RA Al-Bayyinah Muarasanding Garut.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li>Dokumentasi<\/li>\n<\/ol>\n<p>Satori menyatakan bahwa dokumentasi adalah catatan kejadian yang sudah lampau yang dinyatakan dalam bentuk lisan, tulisan dam karya ilmiah. Dokumentasi yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu pengumpulan data anak yang berupa catatan-catatan perilaku, kejadian dan foto-foto saat proses pembelajaran. Dokumentasi untuk mengetahui perkembangan anak dan permasalahan yang ada agar dapat dilakukan tindakan dan analisis dengan benar untuk meningkatkan kemampuan konsentrasi anak.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Instrumen Pengumpulan Data<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Sanjaya menyatakan bahwa instrumen dalam penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Dengan menggunakan instrumen pengumpulan data bertujuan untuk memperoleh data kemudian dibandingkan dengan standar yang telah di tentukan.<\/p>\n<p>Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pedoman pengamatan digunakan peneliti untuk panduan yang dapat membantu melakukan pengamatan agar lebih terarah informasi tentang seluruh proses pembelajaran.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Teknik Analisis Data<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Pengelolaan data merupakan langkah penting dalam penelitian tindakan kelas. Sudjana menyatakan bahwa analissi data adalah suatu proses mengolah dan menginterprestasikan data dengan tujuan untuk mendudukan berbagai informasi sesuai dengan fungsinya sehingga memiliki makna dan arti yang jelas sesuai tujuan penelitian.<\/p>\n<p>Data yang diperoleh dalam penelitian ini dikumpulkan dan dianalisis. Semua data yang diperoleh melalui observasi dan dokumentasi dirangkum dalam satu rangkuman perkembangan anak dan analisis dengan membandingkan perkembangan anak yang seharusnya dicapai. Selain untuk mengetahui perkembangan anak yang diharapkan sesuai dengan tingkat pencaian perkembangan. Adapun rumus yang digunakan untuk mencari presentasi dalam penilaian ini sebagai berikut :<\/p>\n<p><em>f<\/em><\/p>\n<p><em>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/em>P\u00a0 =<em>\u00a0\u00a0 N <\/em>x100%<\/p>\n<p>Keterangan :<\/p>\n<p>f =\u00a0 frekuensi yang dicari persentasinya<\/p>\n<p>N =\u00a0 <em>number of cases<\/em> (Jumlah frekuensi atau banyaknya individu)<\/p>\n<p>P = Angka Persentase<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Indikator Keberhasilan<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Dalam penelitian ini indikator keberhasilan adalah mengembangkan kemampuan konsentrasi anak hiperaktif di RA Al-Bayyinah. Kemampuan konsentrasi yang dimaksud adalah konsentrasi anak, antusias anak, tanggung jawab, keterampilan mengerjakan tugas. Keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini ditunjukan dengan adanya pengembangan kemampuan konsentrasi anak kearah yang lebih baik. Menurut\u00a0 Arikunto (2010 : 192), keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila 76% atau lebih mendapat nilai dengan kriteria baik. Hasil yang dicapai anak untuk kemampuan konsentrasi anak hiperaktif melalui metode bermain konstruktif lego sebagai berikut :<\/p>\n<ol>\n<li>Anak mampu konsentrasi dalam ketepatan menyelesaikan tugas<\/li>\n<\/ol>\n<p>Kriteria baik ditunjukan apabila 76% atau lebih anak atau lebih bisa konsentrasi.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>Anak memiliki antusisme dan keberanian menjawab tugas dalam pembelajaran<\/li>\n<\/ol>\n<p>Kriteria baik ditunjukan apabila 76% atau lebih anak atau lebih memiliki inisiatif untuk melakukan kegiatan belajar tanpa bantuan.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Desain Penelitian<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Desain penelitian merupakan rancangan peneliti dalam menghadapi sebuah penelitian dan menjadi panduan penelitian. Seperti yang diutarakan oleh Nazir desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanan penelitian. Tujuan dari desain ini adalah sebagai panduan peneliti dalam penelitian pustaka.<\/p>\n<p>Dalam penelitian ini, maka desain penelitian yang dibuat berdasarkan tahapan-tahapan sebagai berikut :<\/p>\n<ol>\n<li>Menentukan permasalahan<\/li>\n<li>Menyusun perangkat metodologi yang terdiri dari rangkaian metode-metode yang mencakup;<\/li>\n<li>Menentukan metode pengukuran atau prosedur operasional konsep<\/li>\n<li>Menentukan sumber data yang digunakan<\/li>\n<li>Menentukan teknik pengumpulan data<\/li>\n<li>Menentukan metode analisis<\/li>\n<li>Analisis data<\/li>\n<li>Interprestasi data<\/li>\n<\/ol>\n<p>Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dengan mengacu pada penelitian model Kurt Lewin bahwa penelitian tindakan terdiri dari empat komponen pokok yang juga menunjukan langkah yaitu perencanaan atau <em>planning<\/em>, tindakan atau <em>acting<\/em>, pengamatan atau <em>observing<\/em>, dan refleksi atau <em>reflecting<\/em>.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Kesimpulan<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Berdasarkan deskripsi data hasil pengamatan penelitian tindakan dengan menggunakan metode bermain konstruktif lego pada peserta didik RA Al-Bayyinah yang dilaksanakan selama dua siklus, maka dapat disimpulkan :<\/p>\n<ol>\n<li>Kemampuan konsentrasi anak hiperaktif di kelompok B RA Al-Bayyinah Muarasanding Garut Kota masih sangat rendah, hal ini dapat dilihat dalam kegiatan pembelajaran untuk anak, masih ada anak yang tidak mampu konsentrasi dalam menerima materi pembelajaran dari guru. Ditambah dengan kurangnya antusisme anak pada saat pembelajaran juga kurangnya penggunaan media pembelajaran, semakin menambah bukti bahwa kemampuan konsentrasi anak di RA Al-Bayyinah harus ditingkatkan.<\/li>\n<li>Meningkatkan kemampuan konsentrasi anak hiperaktif dikelompok B RA Al-Bayyinah Muarasanding Garut Kota sebelum tindakan dengan persentase 26,33%. setelah diberi tindakan melalui bermain <em>lego <\/em>Pada siklus I,\u00a0 kemampuan konsentrasi anak hiperaktif meningkat menjadi 31,50% berada pada kriteria berkembang sesuai harapan. Sedangkan pada siklus 2, kemampuan konsentrasi anak hiperaktif mengalami 89,48% yaitu berada pada kriteria berkembang sesuai harapan. Dengan demikian meningkatkan kemampuan konsentrasi anak hiperaktif di kelompok B RA Al-Bayyinah Muarasanding Garut Kota dapat dikatakan berhasil karena peningkatan kemampuan konsentrasi anak sudah melampaui indikator keberhasilan yang sudah ditetapkan\u00a0 yaitu 80%.<\/li>\n<li><strong>Saran<\/strong>\n<ol>\n<li>Bagi lembaga sekolah<\/li>\n<\/ol>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p>Hendaknya sekolah memberikan pelatihan, sosialisasi dan sarana prasarana bagi guru terkait dengan metode pembelajaran anak usia dini.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>Bagi guru<\/li>\n<\/ol>\n<p>Penelitian ini bisa dipakai sebagai rujukan atau literasi dalam metode pembelajaran aktif anak usia dini.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li>Bagi Peneliti berikutnya<\/li>\n<\/ol>\n<p>Untuk peneliti selanjutnya dipersilahkan untuk menggunakan penelitian ini sebagai rujukan atau literasi dalam kegiatan-kegiatan ilmiah dimasa yang akan datang.<\/p>\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><\/p>\n<p>Mayke S.Tedjasaputra<em>.<\/em> 2001.<em> Bermain Mainan dan Permainan Untuk Anak Usia Dini. <\/em>Jakarta: Grasindo.<\/p>\n<p>Nana, Sudjana. 2004. Pendidikan Tindakan Kelas. Bandung: PT Sinar Bumi<\/p>\n<p>Nurul Inova, Vebriani. 2013. Skripsi. Meningkatkan Kreativitas Anak melalui kontruktif Lego. Tidak Diterbitkan. Yogyakarta. UNY<\/p>\n<p>Wina, Sanjaya<em>.<\/em> 2011. <em>Penelitian Tindakan Kelas<\/em><em>. <\/em>Jakarta: Prenada media Group<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MENINGKATKAN KEMAMPUAN KONSENTRASI ANAK HIPERAKTIF MELALUI METODE BERMAIN KONSTRUKTIF LEGO Oleh: Endah Jubaedah ABSTRAK Kemampuan konsentrasi anak hiperaktif kelas B di RA Al-Bayyinah masih tergolong rendah dengan persentase keberhasilan kurang dari 26,33%. Hal ini disebabkan oleh faktor proses pembelajaran masih bersifat klasikal dan membosankan bagi anak karena guru kurang memanfaatkan media pembelajaran. Sebagai alternatif untuk &hellip; <a href=\"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/endahjubaedah\/2018\/03\/30\/jurnal-metode-bermain-konstruktif-lego\/\" class=\"more-link\">Continue reading <span class=\"screen-reader-text\">JURNAL METODE BERMAIN KONSTRUKTIF LEGO<\/span> <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-30","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/paLL7x-u","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/endahjubaedah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/endahjubaedah\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/endahjubaedah\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/endahjubaedah\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/endahjubaedah\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/endahjubaedah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/endahjubaedah\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/endahjubaedah\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/endahjubaedah\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}