{"id":11,"date":"2019-08-28T04:12:19","date_gmt":"2019-08-28T04:12:19","guid":{"rendered":"http:\/\/idawidari.staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/?p=11"},"modified":"2019-08-28T04:24:34","modified_gmt":"2019-08-28T04:24:34","slug":"soal-hidup-matinya-pertanian-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/2019\/08\/28\/soal-hidup-matinya-pertanian-indonesia\/","title":{"rendered":"Soal Hidup Matinya Pertanian Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Oleh :<\/p>\n<p>Rijal Assidiq Mulyana, Ida Widari<\/p>\n<p>STAI Al-Musaddadiyah Garut<\/p>\n<p><sup>\u00a0<\/sup><\/p>\n<p>Secara berangsur-angsur kondisi pertanian kita semakin tersisihkan. Para petani yang merupakan aktor-aktor pertanian terpinggirkan, setiap tahun mereka masuk dalam lingkaran jeratan utang <em>(debt trap)<\/em> para\u00a0 pemburu rente, dari tahun ke tahun hasil pertanian kita tidak kunjung membaik bahkan kali ini mengalami gagal panen di beberapa daerah. Hasilnya harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Para pemburu rente mendulang untung sedangkan petani semakin termiskinkan.<\/p>\n<p>Tercatat dari semenjak reformasi sampai saat ini pemerintah belum mampu memberi ramuan mujarab mengenai kebijakan mendasar pertanian. Walaupun pihak pemerintah\u00a0 mengklaim bahwa Indonesia mengalami keberhasilan di bidang pertanian yaitu, surplus\/swasembada beras selama 3 kali. Yaitu, 1983, 2004 dan 2008. Namun, hal tersebut tidak lebih dari sekedar retorika politik dan politik pencitraan yang dibangun pemerintah pada saat itu, bukti paling nyata dapat dirasakan langsung oleh para petani.<\/p>\n<p>Sampai saat ini Indonesia masih menjadi Negara agraris. Hal itu sangat masuk akal didukung oleh fakta bahwa luas daratan Indonesia 192 juta hektar. Terdiri dari kawasan budidaya seluas 123 juta hektar (64,4%) dengan potensi areal pertanian 101 juta hektar. Areal pertanian sekarang 47 juta hektar dan potensi perluasan 54 juta hektar. Dari potensi perluasan ini, lahan kering seluas 34 juta hektar cocok untuk tanaman pangan dan perkebunan, 15 juta hektar cocok untuk sawah dan 5 juta hektar sabana buat peternakan.\u00a0 Ironisnya Indonesia tercatat sebagai importir \/Negara pengimpor bahan-bahan kebutuhan pokok saat ini. Ibarat tikus mati di lumbung padi itulah kenyataan yang dihadapi bangsa kita. Sehingga pada gilirannya sektor pertanian tak banyak berperan dalam pembangunan ekonomi bangsa.<\/p>\n<p>Khudori (2008), misalnya, menganalisa penurunan pangsa pertanian dalam kue ekonomi adalah fenomena alamiah. Makin berkembang suatu Negara, semakin kecil kontribusi sektor pertanian dalam Produk Domestik Bruto\/PDB. Lantas apabila pertanian dianggap tidak penting dalam proses pembangunan, ini kesimpulan gegabah. Faktanya pertanian masih selalu menjadi katup penyelamat ketika terjadi krisis ekonomi. Di Amerika Serikat, misalnya Negara dengan bangunan ekonomi yang kuat ternyata ditopang sektor pertanian. Begitu pun Jepang, Australia dan Uni Eropa bisa mencapai kemajuan ekonomi seperti saat ini dimulai dari pembangunan pertanian.<\/p>\n<p>Sedangkan saat ini Indonesia tengah menatap masa depannya yang bias. Indonesia bukan Negara industri tetapi bukan juga Negara yang isi kepala setiap perumus kebijakannya pro terhadap pertanian. Indonesia masih saja terbujuk oleh rayuan hipokrit amerika untuk \u00a0melepaskan jati dirinya sebagai Negara agraris menuju Negara industri. Masalahnya adalah modal pembangunan industri kita masih ditopang oleh utang luar negeri. Tidak salah jika kemudian utang industri kita begitu besar sedangkan pertanian kita terpinggirkan.<\/p>\n<p>Hal ini senada dengan <em>Hukum Engels<\/em> yang menyatakan bahwa pendapatan yang meningkat menyebabkan prosentasi konsumsi makanan terhadap pendapatan justru menurun. Artinya bahwa pendapatan yang naik tidak akan menaikkan konsumsi untuk makanan, tetapi justru menaikkan konsumsi barang-barang industri. Sehingga kemudian anggaran untuk pertanian\u00a0 dipangkas untuk memenuhi kebutuhan atas barang-barang industri.<\/p>\n<p><strong>Paradigma Pembangunan Pertanian<\/strong><\/p>\n<p>Para perumus kebijakan harus segera memulai merumuskan langkah tepat, guna pembangunan pertanian kita. Sehingga permasalahan yang melingkupi pertanian segera dapat diselesaikan dengan tuntas dan jitu. Masalah klasik terkait dengan teknis pertanian kita berkisar di seputar pupuk, bibit, akses dana dan intensitas cuaca yang tidak mendukung akhir-akhir ini sehingga menyebabkan gagal panen di beberapa daerah. Maka subsidi pupuk dan bibit harus segera diprogramkan kembali dengan sungguh-sungguh. Fakta di lapangan membuktikan bahwa pupuk dan bibit bersubsidi seringkali melenceng dari harapan para petani. Hasilnya kuantitas hasil panen tidak sesuai harapan. Akhirnya secara langsung berakibat pada meningginya harga kebutuhan pokok. Ataupun penyelewengan di lapangan terkait subsidi pupuk dan bibit. Banyak kasus mengenai penyelewengan tersebut yang bisa diinvestigasi langsung oleh pemerintah.<\/p>\n<p>Pemberian akses dana melalui mekanisme yang baik, mudah dan tidak berbelit pun menjadi salah satu cara melepaskan para petani dari jeratan utang para rente. Menurut Mohammad Yunus, pemenang Nobel Ekonomi (2006) kemiskinan seringkali terjadi karena kita gagal menciptakan kerangka kerja teoritis, lembaga dan kebijakan untuk mendukung kemampuan manusia. Mereka juga tidak memiliki modal apapun kecuali tenaga. Tidak ada yang memberi akses tambahan modal, lahan, pengetahuan, kredit dan pasar.<\/p>\n<p>Selain modal hal yang sangat penting pula adalah pembinaan dan pengenalan teknologi pertanian yang cepat guna, efektif dan efisien apalagi didorong dengan program pemerintah <em>Go Organic 2010<\/em>, banyak item-item pemangkasan biaya musiman bagi petani diantaranya dengan pembuatan pupuk organik dasar (bokashi), penanggulangan hama secara terpadu dan aplikasi pertanian yang tepat guna. idealnya penggunaan pupuk organik seiring dengan pengurangan pemakaian pupuk kimia. Karena disadari atau tidak penggunaan pupuk kimia secara terus menerus memiliki efek negatif secara langsung bagi tanah, buah, dan kesehatan.\u00a0 Dan pemakaiannya secara terus menerus menunjukkan ketidak pedulian terhadap lingkungan yang hijau dan sehat.<\/p>\n<p>Cuaca yang ekstrim pun salah satu kendala yang dialami para petani. bukan kali sekarang cuaca ekstrim melanda dan mengakibatkan gagal panen. Artinya pemerintah harus segera melakukan kebijakan impor. Meskipun impor adalah solusi terburuk yang mesti diambil pemerintah. Ironinya salah satu Negara pengekspor bahan pangan ke Indonesia adalah Vietnam yang secara geografis wilayahnya hanya \u00b1 1\/8 Luas Indonesia.<\/p>\n<p>Maka gagal panen dengan sebab apapun mesti menjadi pelajaran dan pengalaman berharga bagi kita semua. Setidaknya menyadarkan kita bahwa ada yang keliru dengan kebijakan pertanian selama ini dan kebijakan impor bahan pangan tidak bisa juga dijadikan satu-satunya jalan keluar untuk penyelesaian masalah penyediaan konsumsi pangan masyarakat. Banyak hal yang bisa dilakukan Negara sebesar Indonesia dengan jumlah sumber daya manusia yang begitu besar. minimalnya mampu menjadi produsen kebutuhan konsumsi pangan bagi dalam negeri. Seharusnya kita berani bertindak dan mengatakan <em>\u201ctidak lagi untuk impor kebutuhan pokok\u201d<\/em> dan komitmen masyarakat Indonesia juga pemerintah untuk kejayaan pertanian kita adalah harga mati.<\/p>\n<p>Hemat penulis kita bisa memulainya, pertama, dengan mengoptimalkan lahan pertanian yang sudah ada. Kedua,konversi lahan tidur yang potensial untuk lahan pertanian. banyak jalan bisa kita coba untuk mengintensifikasi lahan pertanian salah satunya dengan Panca Usaha Tani yang merupakan salah satu jalan guna meningkatkan kuantitas dan kualitas produk pertanian, selain itu aplikasi teknologi yang ramah lingkungan pun menjadi wajib adanya. kita bisa memulainya dengan penggunaan pupuk kompos yang semuanya dibuat oleh tangan-tangan petani yang dilakukan secara massif. Tentunya mesti dimulai dengan pembinaan secara berkesinambungan baik dilakukan oleh pemerintah atau pun lembaga non profit yang peduli terhadap pertanian.<\/p>\n<p>Harapannya tentu pertanian kita tidak dianggap sebelah mata dan tidak hanya menjadi komoditas konsumtif dalam negeri tetapi \u00a0mampu menjadi komoditas strategis dalam konteks perdagangan internasional. Dengan demikian pelajaran yang bisa dipetik Indonesia sebagai Negara agraris dengan mayoritas petani adalah petani miskin adalah akan menghadapi era baru menuju petani sejahtera, masyarakat sejahtera dan Negara sejahtera.<\/p>\n<p>Mengingat begitu pentingnya pertanian, tidak heran jika salah satu <em>the founding fathers <\/em>bangsa ini, Ir. Soekarno ketika meresmikan Fakulteit Pertanian IPB berani mengatakan <em>\u201cbahwa pertanian adalah menyangkut soal hidup matinya bangsa Indonesia\u201d. <\/em>\u00a0Wallahu A\u2019lam<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Rijal Assidiq Mulyana, Ida Widari STAI Al-Musaddadiyah Garut \u00a0 Secara berangsur-angsur kondisi pertanian kita semakin tersisihkan. Para petani yang merupakan aktor-aktor pertanian terpinggirkan, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-11","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}