{"id":13,"date":"2019-08-28T04:12:52","date_gmt":"2019-08-28T04:12:52","guid":{"rendered":"http:\/\/idawidari.staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/?p=13"},"modified":"2019-08-28T04:24:42","modified_gmt":"2019-08-28T04:24:42","slug":"urgensi-aksara-sunda-dikelaskan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/2019\/08\/28\/urgensi-aksara-sunda-dikelaskan\/","title":{"rendered":"Urgensi Aksara Sunda \u201cDikelaskan\u201d"},"content":{"rendered":"<p><strong>Rijal Assidiq M, Ida Widari<\/strong><\/p>\n<p><strong>STAI Al-Musaddadiyah<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>Sudah barang tentu, bagi mereka yang berada di Jawa Barat akan mendapati dengan mudahnya orang-orang disekitar bercakap-cakap menggunakan <em>basa sunda. Basa sunda <\/em>menjadi bahasa daerah yang lazim dipraktikkan masyarakat Jawa Barat yang notabene adalah suku sunda. Sehingga mendapatkan masyarakat suku sunda menggunakan <em>basa sunda <\/em>dalam komunikasi dan interaksi sosialnya adalah hal lumrah.<\/p>\n<p>Namun, jika penulis tanyakan kepada mereka yang berbahasa sunda, apakah mereka mengetahui\/mengenal aksara sunda? Tentu saja aksara sunda yang penulis maksud adalah aksara sunda selain aksara latin yang lazim digunakan<\/p>\n<p>Tidak perlu disangsikan lagi bahwa orang sunda bisa berbahasa sunda atau lebih spesifiknya <em>ngalogat sunda<\/em>. Sehingga orang lain dapat begitu mudahnya mengidentifikasi asal usul orang sunda dari logatnya. Namun berbicara aksara sunda. Sejujurnya penulis sangsi, orang sunda telah mengenal secara baik aksara dari bahasa ibunya yakni <em>basa sunda.<\/em><\/p>\n<p><em>\u00a0<\/em>Kecuali, jika mereka teliti untuk membaca tiang-tiang penanda jalan yang tertancap tegak di beberapa ruas jalan di beberapa kabupaten\/kota di Jawa Barat berisi aksara seperti pallawa. Maka, beruntunglah karena mereka telah mengenal aksara sunda. Atau jika mereka adalah muslim. Maka, beruntunglah karena mereka telah terbiasa mengenal aksara arab dan dapat dengan mudah belajar aksara sunda arab atau arab pegon.<\/p>\n<p><strong>Aksara Sunda<\/strong><\/p>\n<p>Dalam kajian sejarah budaya sunda khususnya sejarah keaksaraan. Perkembangan penggunaan aksara sunda dapat ditelusuri melalui peninggalan-peninggalan kebudayaan sunda berupa prasasti, piagam, naskah, dan sebagainya. Menurut Ekadjati, dkk (2000) berdasarkan bukti-bukti tertulis yang berhasil ditemukan di daerah kebudayaan sunda, terdapat 6 model aksara yang pernah digunakan, yaitu: Palawa\/Pra-Nagari, Jawa Kuno, Sunda Kuno, Pegon, Cacarakan, dan latin.<\/p>\n<p>Khusus aksara latin sekalipun termasuk kedalam aksara yang lazim digunakan masyarakat sunda. Namun kemunculannya bukan atas hasil kreasi masyarakat sunda, murni sepenuhnya ciptaan orang lain.<\/p>\n<p><strong>Harus dikenalkan !!<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/strong>Pada tahun 1996, Pemerintah Propinsi Jawa Barat mengeluarkan Peraturan Daerah No. 6 Tahun 1996 tentang Pelestarian, Pembinaan, dan Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Aksara Sunda. Lantas, sejauh mana efektifitas peraturan tersebut dalam upaya <em>ngamumule<\/em> dan mengedukasi masyarakat Jawa Barat untuk mengenal dan memahami aksara sunda. Bagi penulis sederhana saja, Indikator keberhasilannya dapat diketahui dari respon masyarakat. Sejauh mana masyarakat Jawa Barat telah mengenal\/ memahami aksara sunda. Juga respon pemerintah di tingkat kabupaten\/kota untuk mengeksekusi kebijakan tersebut.<\/p>\n<p>Penulis mengapresiasi kebijakan pemerintah <em>ngamumule <\/em>budaya sunda. Menonjol dibeberapa daerah seperti Purwakarta, Bandung diikuti oleh daerah-daerah lainnya seperti Garut dan lain sebagainya. Berkaitan dengan aksara sunda, yang paling kentara adalah penamaan jalan-jalan protokol dengan menggunakan aksara sunda <em>kaganga. <\/em><\/p>\n<p>Lantas apakah cukup? Tentu saja tidak, pemerintah dapat mengenalkan aksara sunda secara lebih luas dengan memberikan penamaan aksara sunda diikuti aksara latin di ruang-ruang kantor pemerintahan dari tingkat atas sampai bawah, juga kantor pelayanan masyarakat. Pemerintah dapat mendorong agar setiap aparatur sipil Negara di lingkungan Jawa Barat harus menguasai\/memahami aksara sunda bukan hanya berbahasa sunda. juga, mendorong aksara sunda dapat dikenalkan\/diajarkan pada jenjang pendidikan formal. Setidaknya dengan upaya demikian, mengikat kesadaran masyarakat untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap aksara sunda.<\/p>\n<p><strong>Mudahkah dipelajari ??<\/strong><\/p>\n<p>Kenapa kemudian penulis memuat redaksi \u201cdikelaskan\u201d. Begitu pentingnya aksara sunda sehingga wajib dikenalkan\/diajarkan di ruang-ruang kelas dari mulai pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Tentu saja, di perguruan tinggi kita dapat menemukan aksara sunda diajarkan dalam program studi bahasa atau sastra sunda, dan tidak menutup kemungkinan aksara sunda pun diajarkan di program studi lain sebagai mata kuliah umum di seluruh perguruan tinggi yang ada di Jawa Barat.<\/p>\n<p>Sementara, pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, dalam kurikulum terbaru kurikulum tiga belas (KURTILAS) mengakomodasi mata pelajaran bahasa daerah, namun pelaksanaannya tergantung dari kebijakan sekolah, sekalipun diadakan oleh sekolah sebagai mata pelajaran bahasa sunda. Namun, tenaga pendidik dapat mengambil tema ajar aksara sunda untuk diajarkan kepada peserta didik. Artinya aksara sunda merupakan bagian dari mata pelajaran bahasa sunda<\/p>\n<p>Penulis berkeyakinan \u201cdikelaskan\u201dnya aksara sunda bukan harapan yang berlebihan, tidak lain muncul karena kekhawatiran jika dikemudian hari, orang sunda tidak lagi mengenal aksaranya sendiri. Aksara sunda menjadi benda langka yang hanya dapat ditemukan di museum. Secara pribadi penulis telah mengambil kesempatan untuk berkontribusi dalam upaya melestarikan aksara sunda yang menjadi khazanah kebudayaan sunda dengan mengajarkannya kepada mahasiswa. Pengalaman penulis mengajarkan aksara sunda bukanlah sesuatu yang sulit dan dapat dengan mudah dipahami dan dikuasai oleh peserta didik. Karenanya penulis mengajak <em>hayu urang mumule aksara indung<\/em>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rijal Assidiq M, Ida Widari STAI Al-Musaddadiyah \u00a0 Sudah barang tentu, bagi mereka yang berada di Jawa Barat akan mendapati dengan mudahnya orang-orang disekitar bercakap-cakap [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-13","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}