{"id":6,"date":"2019-08-28T04:07:48","date_gmt":"2019-08-28T04:07:48","guid":{"rendered":"http:\/\/idawidari.staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/?p=6"},"modified":"2019-08-28T04:08:32","modified_gmt":"2019-08-28T04:08:32","slug":"gurita-sampah-vs-kemiskinan-masyarakat-sekitar-tpa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/2019\/08\/28\/gurita-sampah-vs-kemiskinan-masyarakat-sekitar-tpa\/","title":{"rendered":"Gurita Sampah Vs Kemiskinan Masyarakat Sekitar TPA"},"content":{"rendered":"<p>Rijal Assidiq M, Ida Widari<\/p>\n<p>STAI Al-Musaddadiyah Garut<\/p>\n<p>Belakangan ini permasalahan sampah kembali mencuat di beberapa daerah.\u00a0 Dan Bandung adalah salah satu wilayah yang kerap kali disorot di beberapa media baik local maupun nasional, baik cetak maupun elektronik. Hal ini mungkin saja disebabkan karena letak dan posisi bandung dalam administrasi pemerintahan merupakan ibukota dari provinsi jawa barat. Juga sebagai kota wisata khususnya belanja dan wisata tradisi (budaya), sehingga nampaknya agak ironis dengan predikat yang melekat tersebut dengan fakta di lapangan akhir-akhir ini.\u00a0 Kondisi\u00a0 Sampah yang menumpuk di sisi jalan karena tak muatnya tempat pembuangan sampah karena volume sampah semakin meningkat dari hari ke harinya, bukan hanya menimbulkan ketidaknyamanan pengguna jalan yang seringkali melintas karena aroma yang tidak sedap tapi juga mencerminkan bahwa sedang terjadi suasana yang gawat dalam kehidupan sosial kita. Setidaknya ada beberapa alasan \u00a0sederhana dalam hemat penulis :<\/p>\n<p>Pertama, jurang penyekat antara masyarakat yang berada di lokasi dimana tempat mereka tinggal dekat dengan tempat pembuangan akhir sampah dengan masyarakat kota sebagai penghasil sampah terbesar juga pemerintah setempat sebagai pemegang kebijakan. Tentunya, \u00a0kita mesti melihat secara objektif dan mendetail. Masyarakat yang dekat dengan TPA baik yang berada di Sari Mukti ataupun Leuwi Gajah secara ekonomi adalah masyarakat marjinal dengan tingkat penghasilan yang begitu rendah, pun tingkat pendidikan mereka. Dalam hal ini masyarakat tersebut adalah masyarakat yang <em>nrimo <\/em>\u00a0apapun yang menjadi kebijakan pemerintah, tidak memiliki kekuatan (<em>powe<\/em>r<em>) <\/em>apapun untuk menolak setiap dari kebijakan pemerintah. Semakin lengkaplah kehidupan masyarakat \u00a0dekat TPA. menjadi masyarakat miskin, tertindas, pun\u00a0 tempat tinggal mereka menjadi TPA akhir sampah. Berbeda dengan masyarakat kota dengan berbagai fasilitas ekonomi dan pendidikan yang memadai.<\/p>\n<p>Ya,\u2026 kita memanng tidak menafikan adanya tawaran pemerintah (kompensasi) tapi belum banyak terbukti. Sedangkan kehidupan sosial mereka begitu mendesak adanya perbaikan, perhatian dan perubahan. Asumsi ini menyadarkan kita bahwa ada ketimpangan masyarakat kota dengan masyarakat sekitar pembuang akhir sampah. Seolah-olah menjadi masyarakat yang mesti terima akibat konsumerisme masyarakat kota yang begitu menggila. Gemerlap tempat perbelanjaan, sampai-sampai antrian panjang kendaraan yang ingin memasuki tempat tersebut. Menjadi bukti adanya sisi lain kepedulian sosial kita yang belum terjamah, tidak adanya saling ketergantungan antara masyarakat kota dan masyrakat sekitr TPA. Ditambah kebijakan pemerintah yang aburadul. Menjadikan keburukan ini nampak sempurna.<\/p>\n<p>Kedua. logikanya sampah adalah kotoran\/ atau hasil akhir buangan\/ timbunan penyakit. \u00a0Melihat banyaknya tumpukan sampah di jalan. Kemudian dibiarkan,\u00a0 menjadi samar rasanya kenapa tiba-tiba sebagian masyarakat kita menjadi masyarakat yang acuh. Membiarkan sampah berserakan karena alasan tidak dapat terangkut oleh truk pengangkut sampah, seolah-olah hanya dengan terangkutlah semua masalah selesai. Apakah demikian adanya???.<\/p>\n<p>Ketiga, fungsi insinerator, dalam hemat penulis, bukan lah solusi yang tepat, mungkin dalam pikiran pemangku kebijakan adalah solusi yang tepat untuk beberapa saat\/solusi instan, mengingat tumpukan sampah yang sulit untuk dibereskan. Tapi tidak menyelesaikan permasalahan inti dari banyaknya sampah akhir-akhir ini, jika pertanyaannya,apakah benar insinerator menjadi solusi utama bagi pembersihan sampah, maka, jawabannya tentu tidak dan kita semua akan sepakat dalam hal ini, apalagi dengan tidak adanya jaminan dari pemerintah mengenai gas dioxin yang keluar dari sisa pembakaran insinerator. Sangat membahayakan bagi masyarakat di sekitar pembakaran, maka, tentunya tidak efisien penggunaannya karena sudah dapat dipastikan akan banyak pembengkakan anggaran, termasuk jaminan kesehatan masyarakat disekitar pembakaran.<\/p>\n<p>Keempat, pemerintah rasanya belum siap menanggulangi masalah ini, entah karena menjadi persoalan yang mendarah daging dan menjadi tradisi atau karena ada persoalan politik lain, dalam kajian ekonomi politik memang tidak ada yang salah, karena tiap pemangku kebijakan ataupun dalam posisi misalnya diserahkan kepada pihak swasta, mereka (pemangku kebijakan) akan mempengaruhi keputusan untuk mengalokasikan sumber-sumber ekonomi\u00a0 bagi kepentingan kelompok tersebut, maka, persoalannya tidak akan pernah selesai karena belanja\u00a0 untuk kepentingan masyarakat di sekitar TPA akan mendapatkan tekanan politik dalam pengambilan keputusan ekonomi. Hasilnya mental-mental mengemis dan meminta jatahlah yang terlihat. Jika memang demikian bobroklah mental-mental birokrat kita.<\/p>\n<p>Kelima, Negara ini sepertinya kehilangan para ahli yang mampu memikirkan solusi yang tepat, jika demikian alasannya sungguh tidak tepatlah alasan tersebut, ada berapa banyak perguruan tinggi terbaik di negeri ini, apakah tidak dapat terselesaikan dari pikiran para ahli. Karena permasalahannya terkait dengan pembangunan masyarakat pinggiran tentunya mesti dianalisa dari berbagai aspek dan sudut pengetahuan atau mesti didekati secara interdisipliner melalui berbagai disiplin ilmu.<\/p>\n<p><!\u2013next page\u2013><br \/>\n<strong>Kesejahteraan Masyarakat Sekitar TPA<\/strong><\/p>\n<p>Kita tidak perlu berbelit-belit dengan berbagai alasan, sebaik apapun pemetaan masalah dilakukan, masalah yang mendasar bagi masyarakat\u00a0 sekitar TPA adalah kebutuhan mendasar mereka yang mesti dipenuhi oleh pemerintah. Jika aksesibilitas ekonomi, kesehatan dan pendidikan yang mereka inginkan. Maka,\u00a0 logika sederhana penulis jika ada dalam posisi pemerintah \u00a0adalah hal tersebut merupakan \u00a0\u00a0jawaban dari permasalahan selama ini. Upaya pemerintah adalah menghadirkan keinginan masyarakat sekitar TPA dengan segera.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tinggal masalahnya saat ini adalah adakah hal baik dari tumpukan sampah di lokasi TPA yang dapat kita manfaatkan dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat di sekitarnya. Jawabannya tentunya iya,\u00a0 di beberapa lokasi TPA bahkan ada yang memulainya. Seperti pembangkit listrik tenaga sampah dan pembuatan kompos.<\/p>\n<p>Hal ini akan menjawab kelangkaan sumber energi\u00a0 apalagi dengan jumlah sampah yang diperkirakan ribuan meter kubik tiap harinya. Walaupun bukan yang utama sebagai penyedia sumber energi tetapi toh dengan jalan ini setidaknya awal dari munculnya gagasan lain yang lebih baik dari pemanfaatan sampah tersebut menjadi sumber energi.<\/p>\n<p>Ataupun kompos misalnya, mengingat banyak sampah di lokasi TPA yang merupakan limbah pasar atau limbah organik lainnya. Tinggal di lokasi pertama pembuangan sampah telah disediakan khusus lokasi pembuangan sampah organik dan non organik sampai di lokasi akhir pembuangan sampah dan tentunya ada sanksi bagi yang melanggar aturan tersebut. Sehingga mesti dibuat peraturan yang mengikat oleh pemangku kebijakan setempat. Setidaknya dengan dibuatnya kompos dari limbah pasar atau organic lainnya menjawab ketersediaan pupuk bagi para petani yang kian hari kian langka. Dan mendukung program pemerintah Go Organic 2010 yang rasanya masih hambar-hambar saja. Walaupun memang di lokasi TPA Sarimukti terdapat Tempat Pengolahan Kompos (TPK) tetapi dirasa tidak memberikan nilai ekonomis bagi masyarakat sekitar. Tinggal bagaimana caranya memanfaatkan yang telah ada untuk semakin ditingkatkan nilai gunanya.<\/p>\n<p>Tentunya ini menjadi jawaban dan jaminan pemerintah atas kesejahteraan masyarakat sekitar TPA. Tinggal keseriusan dari pemerintah untuk segera mengupayakan hal ini. Tentunya bisa saja dengan menggandeng pihak swasta sebagai pengelola dengan system bagi hasil <em>(profit Loss sharing) <\/em>dan masyarakat sekitar terlibat aktif sehingga dapat merasakan langsung manfaatnya. dan pemerintah mesti mengawasi secara bersama-sama dalam hal ini sehingga ada semacam evaluasi dan indikator keberhasilan dari berjalannya proyek tersebut dengan proses pembinaan masyarakat yang terus dilakukan secara berkesinambungan.<\/p>\n<p>Rasa-rasanya dengan hal ini segala permasalahan yang menggurita terkait pengelolaan sampah baik bagi pemerintah, masyarakat kota (sebagai penghasil sampah terbesar) dan masyarakat di sekitar lokasi TPA teratasi atau setidaknya memberikan secercah harapan baru bagi masyarakat yang terpinggirkan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rijal Assidiq M, Ida Widari STAI Al-Musaddadiyah Garut Belakangan ini permasalahan sampah kembali mencuat di beberapa daerah.\u00a0 Dan Bandung adalah salah satu wilayah yang kerap [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-6","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/idawidari\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}