{"id":14,"date":"2015-02-18T12:26:48","date_gmt":"2015-02-18T12:26:48","guid":{"rendered":"http:\/\/syaikabdillah.staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/?p=14"},"modified":"2015-07-02T12:35:24","modified_gmt":"2015-07-02T12:35:24","slug":"innocence-of-muslims-manifestasi-benturan-antar-peradaban","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/2015\/02\/18\/innocence-of-muslims-manifestasi-benturan-antar-peradaban\/","title":{"rendered":"\u201cINNOCENCE OF MUSLIMS\u201d: MANIFESTASI \u201cBENTURAN ANTAR PERADABAN\u201d"},"content":{"rendered":"<p>\u201cSiapa menabur angin, pasti menuai badai\u201d. Inilah digum yang paling tepat untuk realitas huru-hara yang terjadi akhir-akhir ini di berbagai dunia Islam, sebagai respons terhadap ulah Barat yang mencabik-cabik perasaan umat Islam seluruh dunia, karena adegan nista yang dituduhkan kepada nabi Muhammad saw melalui film yang direka-reka mereka.<br \/>\nSeperti kita ketahui bersama, umat Islam di berbagai penjuru dunia Islam meradang, mereka turun ke jalan menentang arogansi Barat yang dengan sengaja dan terang-terangan menistakan Islam melalui karya film dan karikatur yang mereka sajikan. Umat Islam pantas marah dengan film menjijikkan itu, karena secara sepihak telah membuat ilustrasi tentang Muhammad dengan karakteristik dan prilakunya yang sangat menyimpang dari kebenaran.<br \/>\nSituasi seperti ini, ditambah dengan sepak terjang dan manuver Barat untuk kebijakan demokratisasi di kawasan timur tengah, serta kian memanasnya politik dunia oleh tarik-menarik kepentingan, baik politik, ekonomi, budaya dan sebagainya, jelas-jelas semakin menapaki puncak perseteruan dan benturan antara Islam dan Barat.<br \/>\nApakah fenomena ini sebagai fakta dari kebenaran tesis Huntington tentang akan terjadinya pertentangan atau benturan antar peradaban dunia (the clash of civilization) antara Islam dan Barat pasca perang dingin? Atau justru menguatnya sentimen Barat terhadap Islam dan begitu sebaliknya, berarti keberhasilan tesis tersebut untuk memprovokasi dunia akan keniscayaan terjadinya benturan antar peradaban?<br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\nProvokasi \u201cBenturan Peradaban\u201d<br \/>\n\tFilm Innocence of Muslims (kesucian umat Islam) merupakan produk budaya yang bertolak dari ketakutan dan kebencian, yaitu ketakutan dan kebencian Barat terhadap Islam, atau Islamophobia, kata Amin Rais. Islamophobia adalah penyakit mental akut dan menahun yang telah mendera Dunia Barat ketika bersinggungan dengan Islam. Bahkan gejala Islamophobia ini di Barat sudah muncul sejak perang salib, dan semakin menguat pada abad XIX. Hal itu karena semakin disadari banyaknya warga atau masyarakat Barat yang tertarik dan memeluk agama Islam. Sehingga mereka khawatir munculnya gelombang konversi keyakinan masyarakat Barat ke dalam Islam. Maka segala cara mereka lakukan untuk menghinakan dan menelanjangi Islam, agar tercipta opini publik Barat akan kebusukan Islam. Pada dekade 80-an, umpamanya, Salman Rusydi, seorang kebangsaan Inggris menulis sebuah buku berjudul \u201cSatanic Verses\u201d yang isinya jelas-jelas menistakan kitab suci al-Qur\u2019an sebagai kitab yang berisi ayat-ayat setan. Apalagi pelecehan dalam bentuk karikatur nabi Muhammad sudah berulang untuk sekian kalinya, sampai akhirnya muncul dalam bentuk sajian film \u201cinnosence of Muslim\u201d, yang secara transparan dan tidak ragu-ragu lagi menghina Islam dan kaum muslimin sejadi-jadinya.<br \/>\nMenurut hemat penulis, bahwa semakin menguatnya sentimen Barat terhadap Islam akhir-akhir ini, yang ditandai dengan beredarnya film \u201cInnosence of Muslims\u201d yang sengaja menista Islam, berikut pembuatan karikatur Nabi Muhammad, tidak bisa dilepaskan dari provokasi tesis \u201cThe clash of Cilization\u201d yang dikemukakan Huntington di awal dekade 90-an.<br \/>\nProvokasi itu bisa disima dari pernyataan Huntington tentang tesis \u201cbenturan peradaban\u201d tersebut. Dalam tesisnya, Huntington mengemukakan bahwa identitas peradaban akan semakin penting di masa depan, dan dunia akan dibentuk sebagian besar oleh interaksi antara tujuh atau delapan peradaban besar, yakni Barat, Konfosius, Jepang, Islam, Hindu, Ortodok Slavia, dan Amerika Latin. Namun dari sekian peradaban tersebut, Islam dianggap paling  digdaya atau berbahaya  bagi  kelangsungan  peradaban Barat.<br \/>\nDalam dunia baru tersebut, tegas Huntington, konflik-konflik yang paling mudah menyebar dan sangat penting sekaligus paling berbahaya bukanlah konflik antarkelas sosial, tetapi konflik antara orang-orang yang memi\u00acliki entitas-entitas budaya yang berbeda-beda. Selain Huntington, beberapa sarjana Barat juga membumbui tesis tersebut, diantaranya adalah Vaclav Havel dan Jacques Delors. Menurut keduanya, &#8220;konflik-konflik yang terjadi di masa yang akan datang lebih disebabkan oleh faktor-faktor budaya daripada fak\u00actor-faktor ekonomi ataupun ideologi.&#8221;<br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\nMenurut Huntington, hal ini terjadi disebabkan oleh  beberapa faktor sebagai berikut:<br \/>\nPertama, perbedaan peradaban melahirkan perbedaan dalam memandang hubungan manusia dan Tuhan, individu dan kelompok, warga dan negara, orang tua dan anak, suami dan istri, hak dan kewajiban, kebebasan dan kekuasaan, kesejajaran atau kesamaan dan herarkhi.<br \/>\nKedua, dunia semakin menyempit. Interaksi antara orang yang berbeda peradaban semakin meningkat. Hal ini akan mempertajam kesadaran dan rasa perbedaan peradaban antara orang-orang yang berbeda peradaban, dan pada gilirannya memperkuat perbedaan dan kebencian yang merentang jauh ke belakang dalam sejarah.<br \/>\nKetiga, tumbuhnya kesadaran peradaban karena peran ganda Barat. Di satu sisi, Barat berada di puncak kekuatan. Dan di sisi lain, dan ini mungkin akibat  posisi Barat tersebut, maka muncul semangat kembali ke asal. Muncul semangat  \u201cAsianisasi\u201d di jepang, semangat \u201cHindunisasi\u201d di India, \u201cIslamisasi\u201d di Timur Tengah, dan lain sebagainya.<br \/>\nKeempat, karakteristik dan berbedaan budaya kurang bisa menyatu dan karena itu kurang bisa kompromi dibanding karakteristik dan perbedaan politik dan ekonomi. Lebih dari etnisitas, agama mendiskriminasi secara tajam dan eksklusif sesama manusia. Orang bisa menjadi separuh Prancis dan separuh Arab, tapi tidak bisa menjadi separuh Muslim dan separuh Katolik.<br \/>\nKelima, meningkatnya regionalisme ekonomi akan semakin memperkuat kesadaran peradaban. Tapi dipihak lain, regionalisme ekonomi akan berhasil bila ia berakar dalam budaya dan agama yang sama.<br \/>\nDengan penjelasannya tersebut, Huntington seperti menegaskan bahwa konflik terpenting di masa yang akan datang akan terjadi sepanjang garis pemisah budaya yang saling memisahkan peradaban-peradaban ini. Persaingan antara negara-negara adidaya digantikan oleh adanya benturan antarperadaan.<br \/>\nPada prinsipnya, pandangan teori ini dibangun dengan mengasumsikan keterpisahan identitas yang dominan dan kukuh. Pandangan ini jelas sangat reduksionis, karena hanya melihat manusia diri sisi agamanya saja. Pandangan ini juga bermaksud mengenyahkan ciri-ciri identitas manusia yang banyak, termasuk salah satunya adalah keberadaan mereka sesama manusia.<br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\nPendekatan ini tentu berpotensi menimbulkan konflik, kekerasan dan kekejian yang mendera penduduk dunia. Dalam konteks inilah Amatya Sen melakukan analisis kritis  atas berbagai mainstream teori sosial yang berbicara mengenai masalah indentitas. Ia mencoba melawan kemacetan berfikir dan menawarkan kondisi sosial masa depan yang lebih damai dan lebih baik. Pendekatan soliteris ini membuka jalan bagi lahirnya kesalahpahaman di antara hampir setiap orang di dunia.<br \/>\nSen melihat tesis \u201cbenturan antar peradaban\u201d berpijak dari ide dasar sistem klasifikasi tentang  penduduk dunia berdasarkan peradaban dan agama (dengan pendekatan soliteris terhadap identitas manusia), dimana berbeda tajam dengan pengelompokan atas dasar kebangsaan dan kelas yang lebih dulu muncul.<br \/>\nSen, dalam makalahnyan mengemukakan bahwa terdapat dua kelemahan tentang penjelesan berbasis peradaban  dalam melihat berbagai peristiwa dunia kontemporer. Pertama, kelemahan yang paling mendasar terletak pada digunakannya satu bentuk yang ambisius dari ilusi tentang ketunggalan identitas. Maksudnya bahwa klasifikasi tunggal tentang identitas manusia merupakan satu-satunya sistem yang sesuai. Dalam hal ini, Sen masih mempertanyakan \u201capakah memang peradaban itu saling berbenturan? Kelemahan kedua, menurut Sen adalah betapa serampangannya karakterisasi yang diberikan kepada peradaban-peradaban dunia. peradaban-peradaban itu dianggap homogen dan jumud, padahal analisa empiris terhadap masa lalu dan masa kini tidak menunjukkan kecenderungan demikian. Berbagai keragaman penting diabaikan begitu saja, sementara interaksi antar peradaban tersebut secara substansial dilupakan.<br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\nKelemahan ganda di atas menghasilkan pemahaman yang dangkal terhdap aneka macam peradaban yang berlainan, demikian pula terhadap kesamaan, keterkaitan dan kesalingtergantungan antara semua peradaban itu dalam ide-ide keilmuan, tektonologi, matematika, politik, sosial dan ekonomi.<br \/>\nMenurutnya, memandang orang terutama sebagai bagian dari suatu peradaban,  berarti mengerdilkan orang menjadi satu dimensi saja. Sehingga menurutnya, tesis Huntington ini cacat sebelum kita mempertanyakan apakah peradaban-peradaban yang saling berlainan itu (yang berdasarkan kategorisasi tersebut penduduk dunia bisa dibagi-bagi secara rapi) akan niscaya berbenturan.<br \/>\nSecara lebih tegas, Sen mengemukakan bahwa pengelompokan tersebut tidak bisa dipandang sebagai satu-satunya sistem yang shahih untuk menggolong-golongkan orang di seluruh penjuru jagat. Dengan memilah-milah seperti itu, sesungguhnya daya adu domba yang terkandung dalam sistem klasifikasi itu telah dimanfaatkan secara implisit untuk menempatkan manusia ke dalam kotak-kotak tunggal yang sangat kaku.<br \/>\nDengan tesisnya tersebut, Huntington telah menabur angin sejak awal dekade 90-an, dan kini, angin itu sudah berubah menjadi badai yang menghancurkan perdamaian dunia oleh sentimen Barat terhadap Islam dan begitu sebaliknya. Penistaan Barat yang bertubi-tubi terhadap Islam dan umatnya yang kemudian direspons secara massif dan juga anarkhis oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia jelas-jelas merupakan fakta benturan peradaban Islam dan Barat yang telah dipicu oleh teori yang naif tersebut.<br \/>\n Anehnya, justru bukan dari kalangan Muslim yang melihat kerancuan tesis tersebut, tapi seorang Hindu, kelahiran India, Amartya Sen, yang melihat dan membeberkan betapa naif dan keblingernya teori ini, yang akan mengurung masyarakat dunia ke dalam ruang yang sangat sempit (peradaban atau agama) dan menjebak mereka ke dalam pertikaian antar budaya atau antar agama, terutama antara Islam dan Barat.******<\/p>\n<p>DAFTAR BACAAN<br \/>\n1.\tAmartya Sen, The Illusion of Destiny, (New York: 2006)<br \/>\n2.\tNasir Tamara(ed.), Dialog Agama dan Dialog Antar Peradaban, (jakarta: Yayasan paramadina, 1996<br \/>\n3.\tSamuel P. Huntington, Benturan Antar Peradaban, (Yogjakarta: Al-Qalam, 2000)<br \/>\n4.\tVaclav  Havel, \u201cThe Measure of Man\u201d, New York Times, 8 Juli 1994,<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cSiapa menabur angin, pasti menuai badai\u201d. Inilah digum yang paling tepat untuk realitas huru-hara yang terjadi akhir-akhir ini di berbagai dunia Islam, sebagai respons terhadap ulah Barat yang mencabik-cabik perasaan umat Islam seluruh dunia, karena adegan nista yang dituduhkan kepada nabi Muhammad saw melalui film yang direka-reka mereka. Seperti kita ketahui bersama, umat Islam di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-14","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/paLL6N-e","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}