{"id":16,"date":"2015-05-13T12:28:05","date_gmt":"2015-05-13T12:28:05","guid":{"rendered":"http:\/\/syaikabdillah.staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/?p=16"},"modified":"2015-07-02T12:35:45","modified_gmt":"2015-07-02T12:35:45","slug":"visualisasi-nabi-muhammad-dan-prinsip-iconoclastme-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/2015\/05\/13\/visualisasi-nabi-muhammad-dan-prinsip-iconoclastme-islam\/","title":{"rendered":"VISUALISASI NABI MUHAMMAD DAN PRINSIP ICONOCLASTME  ISLAM"},"content":{"rendered":"<p>Seperti kita ketahui bersama, beberapa hari terakhir ini masyarakat heboh karena penemuan sosok Nabi Muhammad saw. yang divisualisasi dengan gambar pada buku bacaan anak-anak sekolah di Solo Jawa Tengah. Seorang bapak yang menemukan gambar nabi dari buku bacaan anaknya itu spontan langsung melapor kepada pihak  terkait untuk memperoleh konfirmasi mengenai hal ini. Banyak yang mempertanyakan dan menyayangkan kemunculan visualisasi nabi Muhammad tersebut, karena dianggap menyalahi tradisi dan ajaran Islam yang sudah berjalan selama ini. Respons masyarakat pun ramai bermunculan, bahkan ada yang turun ke jalan untuk menentang  atau melawan peredaran visualisasi Rasulullah tersebut, karena dianggap berbau pelecehan pada sosok dan pribadi Muhammad S.A.W.<br \/>\nVisualisasi Figur Pembawa Risalah dan Pengalaman Agama agama<br \/>\nSecara historis, visualisasi tokoh pembawa risalah atau Tuhan merupakan pengalaman semua gama, kecuali Islam dan Yahudi. Seperti agama Kristen, umpamanya, visualisasi Yesus Kristus dan Maria dalam bentuk gambar atau patung adalah sesuatu yang tidk bertentangan dengan norma agama. Begitu juga dalam agama Budha, Hindu, Konghuchu, dsb. Visualisasi tokoh-tokoh sentral agama itu tidak dimaknai pelecehan apapun terhadap agama, tapi justru sebaliknya. Gambar atau patung tokoh-tokoh sentral agama itu telah menjadi objek suci dalam tempat-tempat peribadatan mereka. Bahkan Nurcholish Madjid pernah berseloroh bahwa bisa dikatakan semua agama, kecuali Islam dan Yahudi, nyaris terjebak pada pengkudusan, pengkultusan dan bahkan menjurus pada penyembahan terhadap si pembawa risalah\/agama. Hal itu bisa dibuktikan dengan adanya visualisasi sang tokoh agung\/suci tersebut dan kemudian  menjadi objek suci di tempat-tempat peribadatan agama-agama dimaksud.<br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\nSecara tradisi, Islam menolak penggunaan simbol-simbol yang berhubungan dengan tokoh sentral pembawa risalah, yaitu Rasulullah Muhammad SAW., baik simbol berupa gambar atau dalam bentuk patung atau bentuk visual lainnya. Hal serupa juga  terjadi pada agama Yahudi yang secara tradisi mempertahankan dan mengajarkan sistem keyakinan dan peribadatan iconoclastme, yaitu sistem peribadatan atau keyakinan yang menolak visualisasi sang pembawa risalah dan juga objek sesembahannya (Tuhan), baik visualisasi berupa gambar atau patung. Oleh karena itu ketika muncul karikatur atau visual apapun bentuknya yang menyangkut nabi Muhammad, akan menemui penolakan dari kaum muslimin, karena dianggap tidak sejalan dengan tradisi dan ajaran Islam yang benar.<br \/>\nRealitas historis pengalaman agama-agama (Hindu, Budha, Kristen dan Konghuchu) yang tampil mendahului Islam  telah menjadi pijakan dan pedoman bagi para ulama terdahulu yang kemudian berijma\u2019 untuk menjauhkan Islam dari penggunaan visualisasi Muhammad, yaitu agar agama Islam tidak  terseret dan tidak terjebak pada \u201cpensucian\u201d dan pengkultusan kepada muhammad atau pengilahian kepada muahammad, sebagaimana yang dialami oleh agama-agama pendahulunya.  Bahkan pada kelompok Islam tertentu, seperti kaum salaf, umpamanya, menghindari penyebutan istilah \u201csayyid\u201d kepada Muhammad, karena istilah sayyid, identik dengan sebutan para Pendeta di kalangan Kristiani Arab yang disebut al-Ruhban atau rahib. Tentu tujuan utamanya bukan sekedar itu, tapi akibat yang mungkin terjadi manakala hal itu diucapkan secara kaprah yang bisa menimbulkan salah paham, terutama bagi kalangan yang masih awam. Dengan kata lain bila istilah sayyid disebutkan secara kaprah, tidak mustahil akan menimbulkan persepsi mengenai posisi Muhammad sebagai mana para pendeta yang dikuduskan dan dikultuskan. Bila ini terjadi maka tidak menutup kemungkinan juga, secara dinamis akan berkembang dan merubah orientasi keyakinan dan peribadatan umat Islam bukan pada Tuhan Allah, tapi berbelok kepada Muhammad. Hal ini lah yang ingin dihindari oleh umat Islam terkait penyebutan istilah sayyid kepada Muhammad, begitu juga yang berkaitan dengan visualisasi Nabi Muhammad, agar terhindar dari pengkultusan pada nabi atau pengilahiannya.<br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\n<strong>Tuduhan Pelecehan<\/strong><br \/>\nBila kasus visualisasi dikaitkan dengan pelecehan terhadap Nabi Muhammad dan agama Islam adalah persoalan lain, dan hal itu bisa mengandung kebenaran, meskipun tidak selalu benar. Dalam konteks ke Indonesiaan, istilah \u201cpelecehan agama\u201d atau \u201cpenistaan agama\u201d adalah bahasa hukum. Seseorang tidak dibenarkan memberikan justufikasi sepihak bahwa suatu tindakan itu \u201cmelecehkan atau meniskatan agama\u201d, kecuali bila benar-benar nyata hal itu merupakan pelecehan terhadap agama, seperti ucapan yang jelas atau perbuatan yang jelas-jelas berupa penistaan. Perbedaan paham atau keyakinan tidak serta-merta bertendensi pelecehan atau penistaan terhadap sistem kepercayaan tertentu. Seperti, apa yang kita anggap sebagai Nabi atau Rasul, namun tidak dianggap apa-apa oleh penganut agama atau keyaninan lainnya. Begitu selabiknya, apa yang dianggap Tuhan oleh kelompok agama lain, hanya kita aganggap manusia biasa oleh kita, dan begitu seterusnya. Begitu juga yang menyangkut makna simbol-simbol tertentu, seperti simbolisasi Muhammad dengan gambar manusia atau cahaya, tidak serta merta bertendensi pelecehan, meskipun kemungkinan tendensi pelecehan ada dibalik visualisasi tersebut. Hal ini tentu juga berlaku bagi kasus-kasus tuduhan  \u201cpenistaan agama\u201d lainnya yang begitu mudah dan cepat orang membuat keputusan secara sepihak. Oleh karena itu, semua tuduhan yang berkenaan dengan pelecehan harus dibuktikan didepan hukum resmi kenegaraan, bukan diputuskan dalam peradilan jalanan. Dengan demikian, akan ada kejelasan apakah suatu tindakan itu mengandung unsur penistaan agama atau bukan.<br \/>\nSebagai muslim, kita menyadari betul bahwa visualisasi sosok Nabi Mhammad dengan bentuk apapun tidak bisa menjadi representasi Muhammad secara utuh. Namun begitu perlu pembuktian lebih lanjut apakah hal itu mengandung motivasi penistaan atau tidak. Bahkan bila kita tengok pada pengalaman agama di luar Islam dan Yahudi, visualisasi sang tokoh tidak bermakna pelecehan, malah bisa jadi bermakna apresiasi dan motivasi. Oleh karena demikian, visualisasi Nabi Muhammad, meskipun tidak merepresentasikan Muhammad secara utuh, belum tentu bertendensi pelecehan juga.<br \/>\nMenurut hemat penulis, umat Islam perlu melestarikan tradisi yang sudah bagus ini dan dipertahankan sampai kapanpun . Namun demikian umat Islam tidak perlu berlebihan merespons persoalan visualisasi Muhammd tersebut, karena penolakan Islam terhadap visualisasi tersebut lebih karena alasan historis rasional dari pada alasan nurmatif belaka. Hal itu karena secara nurmatif, sejauh yang penulis ketahui, tidak ditemukan alasan  yang melarang visualisasi Nabi Muhammad, kecuali ijtihad para ulama dengan ijma\u2019nya. Sedangkan alasan historis dimaksud di sini adalah pengalaman masa lalu agama-agama sebagaimana dijelaskan di atas, yaitu bahwa visualisasi sang tokoh sentral pembawa agama berujung pada pengkudusan, pengkultusan dan bahkan penyembahan terhadap tokoh penyebar agama tersebut. Bila hal ini terjadi, maka akan berakibat sirius bagi umat Islam sendiri, karena terjebak dalam syirik pada Allah.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seperti kita ketahui bersama, beberapa hari terakhir ini masyarakat heboh karena penemuan sosok Nabi Muhammad saw. yang divisualisasi dengan gambar pada buku bacaan anak-anak sekolah di Solo Jawa Tengah. Seorang bapak yang menemukan gambar nabi dari buku bacaan anaknya itu spontan langsung melapor kepada pihak terkait untuk memperoleh konfirmasi mengenai hal ini. Banyak yang mempertanyakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-16","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/paLL6N-g","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}