{"id":18,"date":"2015-06-01T12:31:20","date_gmt":"2015-06-01T12:31:20","guid":{"rendered":"http:\/\/syaikabdillah.staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/?p=18"},"modified":"2015-07-02T12:36:12","modified_gmt":"2015-07-02T12:36:12","slug":"kerancuan-teori-the-clash-of-civilization-huntington","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/2015\/06\/01\/kerancuan-teori-the-clash-of-civilization-huntington\/","title":{"rendered":"KERANCUAN TEORI \u201cTHE CLASH OF CIVILIZATION\u201d HUNTINGTON"},"content":{"rendered":"<p><strong>Pendahuluan<\/strong><\/p>\n<p>Tesis Samuel Huntington tentang <em>The clash of Civilization<\/em> (benturan anatar peradaban) yang ditulis pada tahun 1993 M., sempat menimbulkan guncangan besar di dunia Barat dan Timur; seperti halnya gema dan reaksi yang timbul akibat analisa Fukuyama tentang berakhirnya sejarah (the end of history). Merupakan fenomena yang wajar jika kemudian banyak peneliti dan pemikir Islam turut membahas kasus ini, khususnya Huntington dalam pembahasannya telah berbicara mengenai Islam, bahkan seperti ada kesan merekayasa bahwa inti benturan per\u00adadaban di masa yang akan datang akan berporos pada polemik peradaban Barat pada satu pihak dan peradaban Islam serta Konghuchu di pihak yang lain. Huntington telah memaparkan pola pemikirannya dengan rinci dalam sebuah buku besar yang diterbitkan pada tahun 1996 M.<\/p>\n<p>Sebenarnya apa yang dipaparkan Huntington tentang per\u00adadaban bukan merupakan hal yang benar-benar baru. Tetapi, kesempatan yang dipakai Huntington guna melontarakan ide- idenya itu, sangat kondusif untuk sosialisasi dan dialog yang lebih luas berikut respon besar dunia. Ide-ide ini dimunculkan pasca usainya perang dingin, dan menyusul praduga mantan Presiden AS Richard M. Nixon tentang pergolakan yang pasti<\/p>\n<p>Akan terjadi antara dunia Barat dan dunia Islam. Kemudian apa yang diungkapkan oleh Sekjen NATO ketika itu, bahwa Islam adalah bahaya yang akan menjelang atau musuh baru begitu Uni Soviet runtuh. Kendati pada kesempatan lain sebelum kerun\u00adtuhan Uni Soviet, bangsa Barat dan umat Islam pernah berjajar di satu barisan dan bekerja sama menghantam komunisme.<a href=\"#_ftn1\" name=\"_ftnref1\">[1]<\/a><\/p>\n<p>Tampaknya keadaan sudah berubah pasca keruntuhan itu. Akibatnya timbul asumsi baru yang meyakinkan bahwa tesis Huntington akan lebih merupakan peringatan tentang sebuah arus keamanan baru di dunia Barat, ketimbang merupakan dialog antarperadaban.<\/p>\n<p>Makalah singkat ini akan menjelaskan kerancuan tesis Huntington ini dari sudut pandangan kritsi Amartya Sen yang melihat kekeliruan dan bahanya tesis ini bagi peradaban dan keamanan dunia.<br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\n&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tesis Huntington<\/strong><\/p>\n<p>Pada akhir 1980-an, dunia komunis berada di ambang kehancuran, dan Perang Dingin menjadi catatan sejarah. Setelah berakhirnya Perang Dingin, menurut Huntington, yang menjadi persoalan terpenting dunia bukanlah persoalan-persoalan ideologis, politis, ataupun per\u00adsoalan ekonomi, tetapi persoalan budaya. Masyarakat dan nega\u00adra berusaha menemukan jawaban atas persoalan manusia yang paling mendasar: Siapakah kita? Dan mereka menemukan jawa\u00adban dari pertanyaan tersebut melalui cara-cara tradisional, sebagaimana dilakukan oleh umat manusia pada umumnya, de\u00adngan mengacu pada sesuatu yang dipandang paling bermakna bagi mereka. Orang-orang saling mengidentikkan diri melalui asal-usul (keturunan), agama, bahasa, sejarah, nilai-nilai, adat- kebiasaan, dan institusi-institusi. Mereka mengidentifikasikan diri dengan berbagai kelompok budaya: suku-suku bangsa, kelompok-kelompok etnis, komunitas-komunitas keagamaan, kebangsaan, dan pada wilayah yang paling luas, peradaban-peradaban.<a href=\"#_ftn2\" name=\"_ftnref2\">[2]<\/a><\/p>\n<p>Menurutnya,<a href=\"#_ftn3\" name=\"_ftnref3\">[3]<\/a> identitas peradaban akan semakin penting di masa depan, dan dunia akan dibentuk sebagian besar oleh interaksi antara tujuh atau delapan peradaban besar. Yakni Barat, Konfosius, Jepang, Islam, Hindu, Ortodok Slavia, Amerika Latin, dan mungkin juga Afrika. Namun dari sekian peradaban tersebut, Islam dan Konfosius dianggap paling digdaya atau berbahaya bagi kelangsungan peradaban Barat. Konflik terpenting di masa yang akan datang akan terjadi sepanjang garis pemisah budaya yang saling memisahkan peradaban-peradaban ini. Dalam dunia baru ini, politik lokal adalah etnisitas; politik global adalah peradaban. Persaingan antara negara-negara adidaya digantikan oleh adanya benturan antarperadaban.<a href=\"#_ftn4\" name=\"_ftnref4\">[4]<\/a><\/p>\n<p>Dalam dunia baru tersebut, tegas Huntington, konflik-konflik yang paling mudah menyebar dan sangat penting sekaligus paling berbahaya bukanlah konflik antarkelas sosial, antara golongan kaya dengan golongan miskin, atau antara kelompok-kelompok (kekuatan) ekonomi lainnya, tetapi konflik antara orang-orang yang memi\u00adliki entitas-entitas budaya yang berbeda-beda.<a href=\"#_ftn5\" name=\"_ftnref5\">[5]<\/a> &#8220;Konflik-konflik kultur\u00adal,&#8221; menurut Vaclav Havel, &#8220;semakin meningkat dan berbahaya dibanding waktu-waktu sebelumnya,&#8221;<a href=\"#_ftn6\" name=\"_ftnref6\">[6]<\/a> dan Jacques Delors me\u00adnyatakan bahwa &#8220;konflik-konflik yang terjadi di masa yang akan datang lebih disebabkan oleh faktor-faktor budaya daripada fak\u00adtor-faktor ekonomi ataupun ideologi.&#8221; Konflik kultural yang paling berbahaya terjadi di sepanjang garis persinggungan antar peradaban.<a href=\"#_ftn7\" name=\"_ftnref7\">[7]<\/a><br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\nPertikaian antar \u00adsuku dan konflik-konflik antar etnis &#8211; dalam konteks perada\u00adban -akan senantiasa terjadi. Kekerasan yang terjadi dikarenakan konflik antar negara dan antar peradaban, secara tak terelakkan mengundang negara-negara dan kelompok-kelompok peradaban lain untuk memberikan dukungan terhadap &#8220;negara-negara sau\u00addara&#8221; mereka.<a href=\"#_ftn8\" name=\"_ftnref8\">[8]<\/a><\/p>\n<p>Menurut Huntington, hal ini terjadi disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut:<a href=\"#_ftn9\" name=\"_ftnref9\">[9]<\/a><\/p>\n<p>Pertama, perbedaan antara peradaban tak hanya riil, tapi juga mendasar. Peradaban terdiferensiasi oleh sejarah, bahasa, budaya, tradisi, dan yang lebih penting lagi, agama. Perbedaan peradaban melahirkan perbedaan dalam memandang hubungan manusia dan Tuhan, individu dan kelompok, warga dan negara, orang tua dan anak, suami dan istri, hak dan kewajiban, kebebasan dan kekuasaan, kesejajaran atau kesamaan dan herarkhi. Perbedaan in hasil proses berabad-abad. Perbedaan tidak mesti melahirkan konflik, dan konflik tidak sendirinya melahirkan kekerasan. Tapi selama berabad-abad, perbedaan telah menimbulkan konflik yang paling keras dan paling lama.<\/p>\n<p>Kedua, dunia sekarang semakin menyempit. Interaksi antara orang yang berbeda peradaban semakin meningkat. Interaksi yang meningkat ini mempertajam kesadaran dan rasa perbedaan preadaban antara orang-orang yang berbeda peradaban tapi juga mempertajam kesadaran akan kesamaan-kesamaan yang terdapat dalam peradaban itu. Interaksi antara orang-orang yang berbeda peradaban meningkatkan kesadaran peradaban-peradaban mereka sehingga pada gilirannya memperkuat perbedaan dan kebencian yang merentang atau dipandang merentang jauh ke belakang dalam sejarah.<\/p>\n<p>Ketiga, proses modernisasi ekonomi dan prubahan sosial dunia membuat orang atau masyarakat tercerabut dari identitas lokal mereka yang sudah berakar dalam, disamping memperlemah negara bangsa sebagai sumber identitas mereka. Banyak agama dunia yang telah mengisi gap ini, sering dalam bentuk gerakan yang dicap \u201cfundamentalis\u201d.<\/p>\n<p>Keempat, tumbuhnya kesadaran peradaban dimungkinkan karena peran ganda Barat. Di satu sisi, Barat berada di puncak kekuatan. Dan di sisi lain, dan ini mungkin akibat posisi Barat tersebut, kembalinya ke fenomena asal, sedang berlangsung di antara beradaban-peradaban non-Barat . seperti semangat \u201cAsianisasi\u201d di jepang, semangat \u201cHindunisasi\u201d di India, \u201cIslamisasi\u201d di Timur Tengah, dan lain sebagainya.<br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\nKelima, karakteristik dan berbedaan budaya kurang bisa menyatu dan karena itu kurang bisa kompromi dibanding karakteristik dan perbedaan politik dan ekonomi. Lebih dari etnisitas, agama mendiskriminasi secara tajam dan eksklusif sesama manusia. Orang bisa menjadi separuh Prancis dan separuh Arab, tapi tidak bisa menjadi separuh Muslim dan separuh Katolik.<\/p>\n<p>Keenam, meningkatnya regionalisme ekonomi akan semakin memperkuat kesadaran peradaban. Tapi dipihak lain, regionalisme ekonomi akan berhasil bila ia berakar dalam budaya yang sama. Budaya dan agama akan membentuk dasar organisasi kerjasama ekonomi. Seperti yang telah menyatukan sepuluh negara-negara Muslim non-Arab: Iran, Pakistan, Turki, Azarbaijan, Kazakstan, kyrgystan, Turkmenistan, Tadjikistan, Uzbekistan, dan Afganistan. Satu pendorong bagi persaingan dan perluasan organisasi ini, yang didirikan mulanya pada tahun 1960-an oleh Turki, Pakistan dan Iran, adalah realisasi oleh para pemimpin sejumlah negara ini bahwa mereka tak punya kesempatan untuk masuk ke Masyarakat Eropa.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Kritik Amartya Sen <\/strong><\/p>\n<p>Amartya Sen, seorang ekonom, budayawan dan filosof asal India, melihat teori Huntington tentang \u201cBenturan Antar Peradaban\u201d sebagai teori yang salah. Dia menelesik kesalahan teori tersebut dengan melakukan restrospeksi dan analisis kritis atas berbagai mainstream teori sosial yang berbicara mengenai masalah identitas yang banyak disalahpahami.<\/p>\n<p>Setiap orang memiliki identitas yang banyak dan beragam. Hal itu karena, secara pribadi, setiap orang terkait dengan berbagai macam identitas dalam konteksnya yang berlainan &#8211; dalam hidup masing-masing; seperti, terkait dengan latar belakang, lingkungan pertemanan, atau kegiatan sosial. Seseorang, misalnya, pada saat yang sama dapat sekaligus menjadi warga negara Indonesia, keturunan Jawa, seorang misisi dangdut, seorang pegiat hak asasi manusia, seorang yang percaya pada Tuhan Allah (Muslim), dan sebagainya. Seperti, sebut saja Ngadimin, umpamanya, dia secara kebetulan lahir dari orang tua bersuku Jawa yang berberbicara dengan bahasa Jawa, tapi pada saat yang sama dia adalah seorang Muslim, pecinta musik dangdut, seorang advokat, dan pegiat HAM, dan menjadi warganegara sebuah negara-bangsa yaitu Indonesia. Dengan demikian, seseorang tidak hanya beridentitas tunggal, \u201cseorang Muslim\u201d, umpamanya, tapi masih banyak lagi identitas lainnya yang melekat pada dirinya.<\/p>\n<p>Rasa memiliki suatu identitas bukan hanya bisa menjadi sumber lahirnya kebanggaan dan kebahagiaan, melainkan pula sumber tumbuhnya kekuatan dan kepercayaan diri. Tidak heran bila gagasan tentang identitas memperoleh pengakuan yang begitu luas. Namun demikian, identitas juga bisa memicu pembunuhan dan membuat orang mati sia-sia. Rasa keterikatan yang kuat dan eksklusif pada suatu kelompok bisa mengandung di dalamnya persepsi tentang jarak dan keterpisahan dari kelompok lain. Kesetiakawanan kelompok bisa memicu tumbuhnya perselisihan antar kelompok.<br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\nRasa akan identitas bisa memberi sumbangan berarti bagi kekuatan dan kehangatan hubungan kita dengan pihak lain, seperti tetangga, anggota suatu komunitas yang sama, sesama warga negara atau penganut agama yang sama. Perhatian kita pada identitas tertentu bisa mempererat pertalian dan membuat kita bersedia melakukan berbagai hal satu sama lain dan turut membawa kita melampaui hidup yang berpusat pada diri sendiri. Literatur mutakhir tentang \u201cmodal sosial\u201d yang dikupas secara cermat oleh Robert Putnam dan beberapa pemikir lain, men unjukkan dengan cukup jelas bagaimana kesamaan identitas dalam satu komunitas sosial dapat membuat kehidupan di komunitas tersebut berjalan jauh lebih baik. Rasa keterikatan terhadap komunitas itu kemudian dipandang sebagai sumber daya-laiknya modal.<a href=\"#_ftn10\" name=\"_ftnref10\">[10]<\/a> Namun demikian rasa keterikatan yang kuat terhadap suatu identitas bisa mengandung di dalamnya persepsi tentang jarak dan keterpisahan dari kelompok lain. Hal ini sering kali memicu tumbuhnya perselisihan antar kelompok. Biasanya kekerasan dipicu oleh pemaksaan identitas tunggl (peradaban) yang penuh permusuhan ini kepada orang-orang awam, yang digelorakan oleh para penebar teror.<\/p>\n<p>Kekerasan terkait dengan konflik identitas tampaknya terjadi berulang kali diseluruh penjuru dunia dan berkembang terus menerus.<a href=\"#_ftn11\" name=\"_ftnref11\">[11]<\/a> Seperti yang terjadi di Rwanda dan Konggo boleh jadi telah berubah, namun upaya untuk membidik satu kelompok oleh kelompok lain terus berlanjut dengan kekuatan yang kian membesar. Israel dan Palestina terus berkecamuk akibat sengketa identitas. Al-Qaaedah sangat mengandalkan upaya untuk mengeksploitasi identitas Islam militan yang ditujukan terutama untuk melawan masyarakat Barat. Sepertinya tindakan di atas bermaksud mengenyahkan ciri-ciri identitas lain \u2013 yang tidak terlalu tampak berbeda \u2013 yang juga dimiliki oleh orang-orang yang berada di pihak lawan, termasuk salah satunya adalah keberadaan mereka sesama manusia.<\/p>\n<p>Pendekatan soliteris ini membuka jalan bagi lahirnya kesalahpahaman di antara hampir setiap orang di dunia. Pendekatan ini tentu berpotensi menimbulkan konflik, kekerasan dan kekejian yang mendera penduduk dunia. Dalam konteks inilah Amatya Sen melakukan analisis kritis atas berbagai mainstream teori sosial yang berbicara mengenai masalah indentitas. Ia mencoba melawan kemacetan berfikir dan menawarkan kondisi sosial masa depan yang lebih damai dan lebih baik. Setidaknya terdapat tiga kritik Sen terhadap teori tersebut:<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li><strong>Kesalahan Asumsi: Konfrontasi Antar Peradaban atau Agama<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Kritik pertama dikemukakan Sen menyangkut teori \u201cbenturan antar peradaban\u201d yang dikemukakan oleh Samuel Huntington, yang berasumsi adanya konfrontasi antar agama atau peradaban. Pandangan teori ini dibangun dengan mengasumsikan keterpisahan identitas yang dominan dan kukuh. Pandangan ini dilihat oleh Sen sebagai reduksionis, karena hanya melihat manusia diri sisi agamanya saja.<br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\nSen melihat tesis \u201cbenturan antar peradaban\u201d berpijak dari ide dasar sistem klasifikasi tentang penduduk dunia berdasarkan peradaban dan agama (dengan pendekatan soliteris terhadap identitas manusia), dimana berbeda tajam dengan pengelompokan atas dasar kebangsaan dan kelas yang lebih dulu muncul. Pendekatan soliteris ini, menurut Sen, membuka jalan bagi lahirnya kesalahpahaman di antara hampir setiap orang di dunia. Pendekatan ini tentu berpotensi menimbulkan konflik, kekerasan dan kekejian yang mendera penduduk dunia.<\/p>\n<p>Sen, dalam makalahnyan mengemukakan bahwa terdapat dua kelemahan tentang penjelesan berbasis peradaban dalam melihat berbagai peristiwa dunia kontemporer. Pertama, kelemahan yang paling mendasar terletak pada digunakannya satu bentuk yang ambisius dari ilusi tentang ketunggalan identitas. Maksudnya bahwa klasifikasi tunggal tentang identitas manusia merupakan satu-satunya sistem yang sesuai. Dalam hal ini, Sen masih mempertanyakan \u201capakah memang peradaban itu saling berbenturan?<a href=\"#_ftn12\" name=\"_ftnref12\">[12]<\/a> Kelemahan kedua, menurut Sen adalah betapa serampangannya karakterisasi yang diberikan kepada peradaban-peradaban dunia. peradaban-peradaban itu dianggap homogen dan jumud, padahal analisa empiris terhadap masa lalu dan masa kini tidak menunjukkan kecenderungan demikian.<a href=\"#_ftn13\" name=\"_ftnref13\">[13]<\/a> Berbagai keragaman penting diabaikan begitu saja, sementara interaksi antar peradaban tersebut secara substansial dilupakan.<\/p>\n<p>Kelemahan ganda di atas menghasilkan pemahaman yang dangkal terhdap aneka macam peradaban yang berlainan, demikian pula terhadap kesamaan, keterkaitan dan kesalingtergantungan antara semua peradaban itu dalam ide-ide keilmuan, tektonologi, matematika, politik, sosial dan ekonomi.<a href=\"#_ftn14\" name=\"_ftnref14\">[14]<\/a><\/p>\n<p>Menurutnya, memandang orang terutama sebagai bagian dari suatu peradaban (misalnya, dalam kategorisasi Huntington, bagian dari \u201cdunia Barat\u201d, \u201cdunia Islam\u201d, \u201cdunia Hindu\u201d, \u201cdunia Budha\u201d) berarti mengerdilkan orang menjadi satu dimensi saja. Sehingga menurutnya, tesis Huntington ini cacat sebelum kita mempertanyakan apakah peradaban-peradaban yang saling berlainan itu (yang berdasarkan kategorisasi tersebut penduduk dunia bisa dibagi-bagi secara rapi) akan niscaya berbenturan. <a href=\"#_ftn15\" name=\"_ftnref15\">[15]<\/a><\/p>\n<p>Secara lebih tegas, Sen mengemukakan bahwa pengelompokan tersebut tidak bisa dipandang sebagai satu-satunya sistem yang shahih untuk menggolong-golongkan orang di seluruh penjuru jagat. Dengan memilah-milah seperti itu, sesungguhnya daya adu domba yang terkandung dalam sistem klasifikasi itu telah dimanfaatkan secara implisit untuk menempatkan manusia ke dalam kotak-kotak tunggal yang sangat kaku.<a href=\"#_ftn16\" name=\"_ftnref16\">[16]<\/a><br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\nSesunggunya secara konseptual, menurutnya, tesis benturan antar peradaban ini Cuma menumpang belaka pada kategorisasi tunggal sejalan dengan apa yang disebut sebagai garis-garis peradaban. Padahal garis peradaban itu sendiri ternyata ditarik mengikuti pemilahan berdasarkan agama semata dan menjadi satu-satunya aspek yang diacu sebagai dasar pengamatan. Huntington membuat kontras tajam antara \u201cperadaban Islam\u201d, \u201cperadaban Hindu\u201d, \u201cperadaban Budha\u201d, dsb. Asumsi tentang adanya konfrontasi antar agama ini dicakupkan ke dalam pandangan yang dibangun secara srampangan mengenai keterpisahan yang dominan dan kukuh.<a href=\"#_ftn17\" name=\"_ftnref17\">[17]<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>Pandangan Reduksionis<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kritik Sen kedua berkenaan dengan pandangan reduksionistis tentang afiliasi tunggal identitas tunggal. Illusi tentang identitas tunggal, menurut Sen, jauh lebih memecah belah dari pada beragamnya jenis-jenis klasifikasi yang mencirikan dunia tempat tinggal kita. Kelemahan mencolok kategorisasi tunggal yang tanpa pilihan ini sungguh-sungguh berdampak pada melemahnya daya dan jangkauan nalar sosial politik kita. Ia menilai bahwa nilai kemanusiaan kita ditantang secara kasar manakala keragaman di antara kita dipampatkan ke dalam satu sistem kategorisasi tunggal yang semena-mena.<\/p>\n<p>Kritik Sen mendapatkan konteksnya di saat dunia yang kita huni ini tidak pernah surut dari konflik dan pertikaian berbasis identitas. Pengalaman masa kecil Sen di tahun 1940-an menyaksikan kematian seorang Muslim dalam kerusuhan komunal di Bengala antara warga Hindu dan dan Muslim mungkin juga menjadi bagian dari kekhidupan kita ini. Di sini kita juga menyaksikan tragedi irasionalitas Bom bali, konflik Poso dan Ambon, konflik Dayak-Madura yang berkembang dari keterpisahan identitas yang sangat kukuh.<a href=\"#_ftn18\" name=\"_ftnref18\">[18]<\/a><br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\n&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li>Kekeliruan Cara Memahami Identitas diri<\/li>\n<\/ol>\n<p>Tesis \u201cbenturan peradaban\u201d, menurut Sen, juga tidak bisa dilepaskan dari kesalahan Huntington dalam memahami identitas diri. Sejarah dan latar belakang bukanlah satu-satunya cara untuk memahami diri kita (sebagaimana hal itu dipahami oleh Huntington). Sen melihat terdapat begitu banyak ragam kategori tempat kita menjadi bagiannya secara serentak. Pada saat yang bersamaan, seseorang bisa disebut seorang Asia, seorang warga India, seorang Bengali dengan leluhur dari Bangladesh, seorang yang tinggal di Amerika, seorang ekonom, yang mendalami filsafat, seorang penulis, seorang pegiat demokrasi, juga seorang feminis, seorang religious, dsb. Ini hanya contoh kecil tentang aneka ragam kategori seseorang dalam serentak. Tentu saja masih banyak kategori lain yang bisa disebutkan disini yang membuat seseorang terlibat.<a href=\"#_ftn19\" name=\"_ftnref19\">[19]<\/a><\/p>\n<p>Dari analisa di atas, menurut Sen, ada dua bentuk reduksionisme yang tampak memenuhi kepustakaan analisa sosial dan ekonomi. Pertama, reduksionisme dengan bentuk \u201cpengabaian identitas\u201d, yang terwujud dalam prilaku menihilkan rasa berbagai identitas apapun dengan orang lin. Kedua, bentuk reduksionisme yang disebut dengan \u201cafiliasi tunggal\u201d. Reduksionisme ini mengandaikan bahwa setiap orang , demi tujuan praktis, terkait hanya dengan satu kolektivitas saja, tidak lebih tidak kurang.<a href=\"#_ftn20\" name=\"_ftnref20\">[20]<\/a> Padahal secara pribadi kita semua terkait dengan berbagai macam identitas dalam konteksnya yang berlainan-terkait dengan latar belakang, lingkungan pertemanan, atau kegiatan sosial kita. Dalam satu dan lain hal, sesungguhnya kita tercakup dalam berbagai kelompok yang berbeda, dan masing-masing kelompok tersebut bisa memberikan identitas yang secara potensial penting bagi yang bersangkutan.<\/p>\n<p>Asumsi tentang ketunggalan ini bukan hanya menjadi gizi bagi teori tentang identitas, melainkan juga menjadi senjata oleh aktivis sektarian yang menginginkan agar kelompok masyarakat melupakan sama sekali ikatan-ikatan mereka lainnya, mengingat hal itu dapat melunakkan kesetiaan mereka pada kawanannya secara khsusus.<a href=\"#_ftn21\" name=\"_ftnref21\">[21]<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Implikasi<\/strong><\/p>\n<p>Semakin menguatnya kecenderungan untuk mengklasifikasi warga dunia berdasarkan agamanya juga makin membuat semangat respon Barat terhadap terorisme dan konflik global. Rasa hormat kepada orang lain lebih ditunjukkan dengan memuji kitab suci mereka ketimbang memperhatikan beragam aktifitas dan pencapaian orang tersebut dalam bidang non-keagamaan-dalam suatu dunia yang terintegrasi secara global. Dalam menangani apa yang disebut sebagai \u201cterorisme Islam\u201d kebijakan Barat diarahkan terutama untuk memaknai apa itu Islam. Kaum ulama, misalnya, dianggap sebagai juru bicara resmi bagi dunia Islam, meskipun sesungguhnya banyak orang lain yang kebetulan juga beragama Islam memiliki perbedaan tajam dengan apa yang dikemukakan oleh seorang mullah atau lainnya. Terlepas dari keberagaman kita yang tak pernah seragam, dunia kemudian dipahami bukan sebagai kumpulan orang-orang, melainkan sebagai federasi agama-agama dan peradaban-peradaban. Konyolnya lagi identitas-identitas itu diasumsi sebagai takdir yang terberi, dan hal itu berdampak pada merebaknya alienasi di berbagai negara Barat, termasuk Inggris.<\/p>\n<p>Kelemahan konseptual yang diidap oleh upaya untuk mencapai pemahaman tunggal atas warga dunia melalui pemilahan-pemilahan peradaban tidak hanya bertentangan dengan nilai kemanusiaan, namun juga mengecilkan kemajemukan identitas yang dimiliki manusia, yang tidak niscaya menempatkan manusia dalam posisi saling berlawanan.<\/p>\n<p>Klasifikasi berdasarkan agama atau peradaban yang demikian, menurut Sen, dapat menjadi sumber distorsi yang memicu permusuhan di kalangan manusia.<\/p>\n<p>Tak pelak lagi, kekerasan sektarian yang melanda seantero dunia saat ini karena disebabkan oleh kerancuan konseptual mendasar tentang identitas manusia, yang mengubah manusia multidimensi menjadi makhluk satu dimensi. Ilusi tentang identitas tunggal yang menjadi landasan bagi mereka yang mendalangi konfrontasi, dipupuk dan diplintir secara cermat oleh para pemimpin aksi penganiayaan atau pembantaian itu. Maka tidak heran bila menumbuhkan ilusi tentang identitas tunggal ini, yang dieksploitir untuk maksud-maksud konfrontatif, menarik bagi mereka yang suka menebar kekerasan, dan tidak heran pula jika reduksionisme macam itu justru dicari-cari. Namun menjadi pertanyaan besar mengapa upaya untuk menonjolkan identitas tunggal itu bisa begitu berhasil, padahal tesis tersebut amat naif, mengingat kita semua memiliki afiliasi yang majemuk. Memandang seseorang semata berdasarkan satu diantara banyak identitas yang dimilikinya tentu merupakan langkah intelektual yang ngawur, namun dari segi efektifitasnya, pemupukan tentang singularitas ini terbukti mudah dimanfaatkan, digencarkan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Penutup<\/strong><\/p>\n<p>Atas dasar itu, menurut hemat penulis, tesis \u201c<em>the clash of civilization\u201d<\/em> merupakan teori yang keblinger, karena berbau reduksionis, srampangan, soliteris dalam mengklasifikasi keragaman identitas manusia dan memaksanya menjadi satu, yaitu identitas agama atau peradaban yang kejam dan bengis. Konsep intelektual semacam itu perlu dikonfrontir dengan konsep lain yang lebih menyadarkan manusia akan asosiasi dan afiliasi-afiliasi dirinya sebagai makhluk sosial sebagaimana adanya. Agar manusia tidak terbius dalam kerangkeng ilusi didentitas tunggal yang mereka miliki.***<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref1\" name=\"_ftn1\">[1]<\/a> . Mahmud Hamid Zaqzuq, Reposisi Islam di Era Globalisasi, (Yogjakarta: Pustaka Pesantren, 2004), hlm. 82<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref2\" name=\"_ftn2\">[2]<\/a> . Samuel P. Huntington, Benturan Antar Peradaban, (Yogjakarta: Al-Qalam, 2000), hlm. 7-8.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref3\" name=\"_ftn3\">[3]<\/a> .Samuel P. Huntington, Benturan antar Peradaban, Masa Depan Politik Dunia,\u00a0\u00a0 (terj.) Saeful Muzani, dalam Nasir Tamara(edt.), <em>Dialog Agama dan Dialog Antar Peradaban<\/em>, (jakarta: Yayasan paramadina, 1996, hal. 6-11<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref4\" name=\"_ftn4\">[4]<\/a> . Op.cit. hlm. 9<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref5\" name=\"_ftn5\">[5]<\/a> . Ibid.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref6\" name=\"_ftn6\">[6]<\/a> . Vaclav Havel, \u201cThe Measure of Man\u201d, New York Times, 8 Juli 1994, hlm. A27.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref7\" name=\"_ftn7\">[7]<\/a> . Huntington, Op.cit. hlm. 10.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref8\" name=\"_ftn8\">[8]<\/a>. D.S. Greenway\u2019s Prase, Boston Globe, 3 Desember 1992, hlm. 19.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref9\" name=\"_ftn9\">[9]<\/a> . Nasir Tamara(ed.), <em>Dialog Agama dan Dialog Antar Peradaban<\/em>, (jakarta: Yayasan paramadina, 1996, hal. 6-11<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref10\" name=\"_ftn10\">[10]<\/a> . Robert D. Putnam, <em>Bowling alone: The Collapse and the Revival of the American Community<\/em> (New York: Simon &amp; Schuster, 2000).<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref11\" name=\"_ftn11\">[11]<\/a> . Amartya Sen, <em>The Illusion of Destiny<\/em>, (New York: 2006), hal. 5<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref12\" name=\"_ftn12\">[12]<\/a> . Lihat, Sen. Op.Cit. hal. 14-17<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref13\" name=\"_ftn13\">[13]<\/a> . Ibid. hal. 60<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref14\" name=\"_ftn14\">[14]<\/a> . ibid. hal. 76<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref15\" name=\"_ftn15\">[15]<\/a> . ibid<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref16\" name=\"_ftn16\">[16]<\/a> . ibid. hal. 16<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref17\" name=\"_ftn17\">[17]<\/a> . Ibid. hal. 16-17<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref18\" name=\"_ftn18\">[18]<\/a> . Ibid. hal. 14-15.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref19\" name=\"_ftn19\">[19]<\/a> . Lihat, Leon Wieseltier, <em>Againt Identity<\/em> ( New york, Drentel, 1996.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref20\" name=\"_ftn20\">[20]<\/a> . Amartiya Sen, Op.cit, hal. 32<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref21\" name=\"_ftn21\">[21]<\/a> .ibid. hal. 27-28<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pendahuluan Tesis Samuel Huntington tentang The clash of Civilization (benturan anatar peradaban) yang ditulis pada tahun 1993 M., sempat menimbulkan guncangan besar di dunia Barat dan Timur; seperti halnya gema dan reaksi yang timbul akibat analisa Fukuyama tentang berakhirnya sejarah (the end of history). Merupakan fenomena yang wajar jika kemudian banyak peneliti dan pemikir Islam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-18","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/paLL6N-i","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}