{"id":20,"date":"2015-03-11T12:31:26","date_gmt":"2015-03-11T12:31:26","guid":{"rendered":"http:\/\/syaikabdillah.staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/?p=20"},"modified":"2015-07-02T12:33:46","modified_gmt":"2015-07-02T12:33:46","slug":"koeksistensi-keragaman-kultural-perspekstif-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/2015\/03\/11\/koeksistensi-keragaman-kultural-perspekstif-islam\/","title":{"rendered":"KOEKSISTENSI KERAGAMAN KULTURAL PERSPEKSTIF ISLAM"},"content":{"rendered":"<p>Pendahuluan<\/p>\n<p>Islam diturunkan ke dunia dalam rangka menciptakan kedamaian bagi manusia dan menebarkan kerahmatan bagi seluruh umat dan alam semesta (<em>rahmatan li al-\u2018alamin<\/em>).<a href=\"#_ftn1\" name=\"_ftnref1\">[1]<\/a> Atas dasar ini, Islam datang tidak hanya untuk mempertahankan eksistensinya sebagai agama, tetapi juga mengakui eksistensi agama-agama lain,<a href=\"#_ftn2\" name=\"_ftnref2\">[2]<\/a> memberi kesempatan kepada agama tersebut untuk eksis dan berkembang untuk dianut oleh manusia, bertoleransi kepadanya, tidak mengolok-oloknya, bahkan memberinya hak untuk hidup berdampingan penuh penghormatan.<a href=\"#_ftn3\" name=\"_ftnref3\">[3]<\/a><\/p>\n<p>Mencermati visi Islam yang sudah sangat jelas ini, tidak bisa terelakan lagi bahwa koeksistensi keragaman kelomok budaya manusia merupakan pesan Islam yang mendasar juga.<\/p>\n<p>Meskipun tidak secara eksplisit al-Qur\u2019an menegaskan kesetaraan hak bagi kelompok lain untuk hidup berdampingan secara rukun dan damai, namun, logika kerahmatan dan kedamaian yang menjadi visi Islam tersebut mengarah pada terwujudnya koeksistensi keragaman antar kelompok budaya manusia yang sulit untuk dibantah.<\/p>\n<p>Berdasarkan pemikiran di atas, menurut hemat penulis, konfigurasi koeksistensi keragaman kelompok masyarakat budaya yang terkandung dalam visi Islam tersebut, mencakup beberapa unsur pokok, yang dengan unsur-unsur itu koeksistensi keragaman itu bisa terwujud. Unsur-unsur pokok itu diantaranya ialah pertama, pandangan dasar bahwa keragaman budaya atau multikulturalitas adalah sesuatu yang sifatnya kudrati (given); kedua, sikap toleran dan penghargaan terhadap perbedaan atau keragaman dari warga masyarakat budaya; ketiga, lebih dari itu semua, yaitu dialog dan kerjasama antar warga masyarakat.<\/p>\n<p>Sebagaimana diketahui, terdapat beberapa ayat al-Qur\u2019an yang menyinggung pokok-pokok pikiran di atas, yang menyangkut gagasan toleransi dan penghargaan pada kelompok non-Muslim, anjuran berdialog, dan juga permasalahan keragaman kultural. Tapi, lagi-lagi, perlu dikemukakan di sini, bahwa ayat-ayat al-Qur\u2019an yang memberi tuntunan mengenai nilai-nilai luhur itu tidak serta merta dipahami sebagaimana tuntunan ke arah itu. Karena masih banyak umat Islam yang secara terang-terangan atau tidak, menolak gagasan tentang toleransi, dialog dan hidup damai dalam bingkai keragaman, sebagaimana yang dijelaskan di atas. Oleh karena itu, perlu dikemukakan di sini, bagaimana kedua mufassir ini memahami permaslahan ini, terutama bila dikaitkan dengan norma-norma ajaran Islam.<br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\n&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li>Multikulturalitas Sebagai Sunnatullah<\/li>\n<\/ol>\n<p>Keragaman merupakan keniscayaan dan kenyataan sosial yang tidak bisa dibantah. Pada zaman sekarang ini, dapat dikatakan praktis hampir tidak ada satu masyarkat pun yang hidup tanpa dihadapkan pada kenyataan kemajemukan seperti ini, baik dalam keragaman ras, bangsa, bahasa maupun keragaman dalam bentuk komitmen ketuhanan atau keragaman budaya.<\/p>\n<p>Dalam konteks Indonesia, keragaman sudah menjadi bagian dari ideologi nasional yang dirumuskan dengan istilah bhinneka tunggal ika, suatu istilah yang berasal dari Empu Tantular, yang bermakna kesatuan dalam keragaman (unity in diversity). Keragaman itu juga tercermin dalam ideologi Pancasila yang terdiri dari berbagai ideologi-ideologi besar dunia, tapi intinya adalah paham kegotong-royongan, kekeluargaan dan kebersamaan.<a href=\"#_ftn4\" name=\"_ftnref4\">[4]<\/a><\/p>\n<p>Menurut hemat penulis, keragaman merupakan hukum sejarah yang tidak bisa terelakkan. Setiap orang lahir berbeda antara satu dengan lainnya. Penelitian terakhir membuktikan bahwa tidak ada dua orang di dunia ini yang suaranya sama, meski orang kembar sekalipun, begitu juga tidak ada dua orang yang sidik jarinya sama, padahal mereka diturunkan dari nenek moyang yang sama.<a href=\"#_ftn5\" name=\"_ftnref5\">[5]<\/a> Bahkan Gamal Al-Banna menuturkan bahwa dalam al-Qur\u2019an terdapat ayat-ayat yang menegaskan keragaman manusia, baik dari segi etnisitas, kesukuan, kebangsaan, jenis kelamin, sistem keyakinan sebagai kehendak Allah atau sunnatullah.<a href=\"#_ftn6\" name=\"_ftnref6\">[6]<\/a><\/p>\n<p>Fathi Osman, dengan mengutip <em>Ensikplopaedia Britanica<\/em> membagi keragaman menjadi dua, keragaman bawaan dan keragaman perolehan. Keragaman fisik dan psikologis, seperti, keragaman etnis, suku, bangsa masuk dalam kategori keragaman bawaan, sedangkan keragaman yang menyangkut aspek pengetahuan, gagasan, pemikiran, pengalaman dan lain sebagainya, termasuk kategori perbedaan perolehan. Sedangkan yang menyangkut sistem keyakinan atau agama menempati ruang antara keragaman bawaan dan keragaman perolehan. Hal itu karena sistem keyakinan, menurut Osman dapat diwariskan oleh generasi sebelumnya, dan juga dapat berkembang melalui sistem keyakinan pribadi.<a href=\"#_ftn7\" name=\"_ftnref7\">[7]<\/a><br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\nSalah satu firman Allah yang paling sentral yang menjelaskan keragaman manusia adalah QS. al-Hujurat (49): 13: \u201cHai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal\u201d.<a href=\"#_ftn8\" name=\"_ftnref8\">[8]<\/a><\/p>\n<p>Secara tegas ayat ini menjelaskan bahwa manusia diciptakan secara beragam, yang terdiri dari berbagai suku, bangsa, laki-laki dan perempuan agar mereka saling mengenal satu sama lain. Secara jelas juga bahwa keragaman yang dimaksudkan bukan untuk menjadikan manusia saling bermusuhan, dan justru keragaman dijadikan sebagai sarana untuk saling mengenal dan saling memberi.<\/p>\n<p>Mengomentari ayat tersebut di atas, Shihab menuturkan bahwa Allah menciptakan manusia dari satu keturunan dan menjadi bersuku-suku, agar mereka saling mengenal potensi masing-masing dan memanfaatkannya semaksimal mungkin. Ini berarti, menurutnya, al-Qur\u2019an merestui pengelompokan berdasarkan keturunan, (yang kemudian tergabung dalam ras, bangsa, suku, keluarga dan sebagainya) secara beragam, asalkan tidak menimbulkan perpecahan, bahkan mendukungnya demi mencapai kemaslahatan bersama.<a href=\"#_ftn9\" name=\"_ftnref9\">[9]<\/a><\/p>\n<p>Sejalan dengan pandangan tersebut, Hamka menuturkan bahwa pengelompokan manusia kedalam berbagai suku dan bangsa atau yang lebih kecil lagi, sudah merupakan kehendak Allah. Mereka diciptakan dengan kondisi yang demikian bukanlah untuk saling menjauh, tapi sebaliknya, untuk saling dekat dan saling mengenal satu sama lain. Bahkan menurutnya, keinginan untuk saling mendekat dan saling mengenal merupakan panggilan hati nurani, semacam naluri, karena pada pada dasarnya mereka adalah satu keturnunan.<a href=\"#_ftn10\" name=\"_ftnref10\">[10]<\/a><\/p>\n<p>Mencermati pernyataan kedua mufassir di atas, Shihab dan Hamka, nampak bahwa mereka mempunyai pandangan yang sama bahwa keragaman adalah kehendak Allah semata. Namun mereka berbeda dalam memahami motivasi pengenalan antar mereka. Menurut Shihab, dorongan untuk saling mengenal lebih karena mereka ingin saling mengisi karena perbedaan potensi masing-masing. Sedangkan Hamka lebih melihat keinginan untuk saling mengenal itu lebih didorong karena faktor trah manusia. Bukan semata keinginan untuk saling memberi atau saling mengisi.<br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\nDalam Islam, keragaman, termasuk keragaman budaya diakui sebagai salah satu tanda dari kekuasaan Allah. Secara tegas al-Qur\u2019an mengatakan bahwa perbedaan bahasa dan warna kulit sebagai tanda kekuasaan Allah.<a href=\"#_ftn11\" name=\"_ftnref11\">[11]<\/a> Hal itu seperti disebutkan dalam QS. al-Rum (30): 22: \u201cDan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui\u201d.<a href=\"#_ftn12\" name=\"_ftnref12\">[12]<\/a><\/p>\n<p>Kata <em>alsin<\/em> jama\u2019 dari <em>lisan<\/em>, diartikan Shihab dengan lidah. Kata lisan ini, menurutnya, digunakan juga dalam arti suara, bahasa atau dialek.<a href=\"#_ftn13\" name=\"_ftnref13\">[13]<\/a> Selaras dengan itu, Hamka mendefinisikan kata <em>alsin<\/em> dengan bahasa-bahasa.<a href=\"#_ftn14\" name=\"_ftnref14\">[14]<\/a> Bahasa dan dialek adalah salah satu unsur dari budaya manusia. Keragaman bahasa atau dialek, yang ditegaskan oleh al-Qur\u2019an di atas adalah salah satu bukti akan kekuasaan Allah. Maka tak pelak lagi bahwa keragaman budaya manusia yang tersimbolisasi dengan dengan kata <em>alsin<\/em> di atas merupakan bukti akan kekuasaan Allah semata.<\/p>\n<p>Menurut hemat penulis, penggunaan istilah <em>alsin<\/em> (bahasa) yang dipadukan dengan <em>alwan<\/em> (warna kulit), merupakan simbolisasi dari pengelompokan manusia dalam kesukuan, kebangsaan dan juga budaya-budaya. Sebab warna kulit, yang lebih mencerminkan etnisitas atau kebangsaan manusia, juga secara faktual mencerminkan budaya tertentu yang khas dari etnis dan bangsa tersebut.<\/p>\n<p>Maka tidak meleset bila Shihab menegaskan bahwa fenomena keragaman kultural adalah bukan saja keniscayaan sejarah, tapi sudah merupakan kehendak Yang Kuasa, sekaligus menjadi salah satu bukti dari kekuasaan-Nya.<a href=\"#_ftn15\" name=\"_ftnref15\">[15]<\/a><br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\nSelain ayat tersebut di atas, juga ditegaskan bahwa keragaman manusia dengan berbagai implikasinya sudah menjadi kehendak Allah, dan justru dalam rangka keragaman itu masing-masing dianjurkan untuk berlomba meraih prestasi dalam hal kebaikan, dan kemudian hanya Allah lah yang akan menjadi hakim atas amal manusia semuanya. Hal itu seperti ditegaskan dalam QS. al-Maidah (5): 48: \u201cSekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu\u201d.<a href=\"#_ftn16\" name=\"_ftnref16\">[16]<\/a><\/p>\n<p>Dalam pandangan Shihab, penggunaan kata <em>lau<\/em> dalam firman Allah \u201csekiranya Allah menghendak\u201d, menunjukkan bahwa hal tersebut ditak dikehendakiNya. Menurutnya, ini berarti Allah tidak menghendaki menjadikan manusia semua sejak dulu hingga kini, satu umat saja, yakni satu pendapat, satu kecenderungan, bahkan satu agama dalam segala prinsip dan rinciannya, karena jika Allah menghendaki yang demikian, Dia tidak akan memberi manusia kebebasan memilah dan memilih, termasuk kebebasan memilih agama dan kepercayaan. Kebebasan memilah dan memilih itu dimaksudkan agar manusia berlomba-lomba dalam kebajikan, dan dengan demikian akan terjadi peningkatan kreatifitas dan kwalitas manusia karena perlombaan yang sehat itu.<a href=\"#_ftn17\" name=\"_ftnref17\">[17]<\/a><\/p>\n<p>Meskipun ayat tersebut merupakan penegasan tentan keragaman yang menjadi kehendak Allah terhadap penciptaan manusia, tidak berarti ayat ini menafikan kehendak Allah tentang kesatuan manusia. Sebab mereka diturunkan dari kesatuan asal-usul.<a href=\"#_ftn18\" name=\"_ftnref18\">[18]<\/a><\/p>\n<p>Senada dengan pernyataan Shihab di atas, Hamka menuturkan bahwa keragaman manusia dengan berbagai kecenderungannya merupakan kehendak Tuhan. Tuhan maha kuasa untuk menjadikan manusia dengan berbagai ragamnya satu ragam saja, baik keyakinan, bangsa, suku, sifat dan adat-istiadat manusia. Tapi Tuhan tidak menghendaki yang demikian. Hal itu, menurutnya, dalam rangka menguji kemampuan atau potensi manusia masing-masing, terutama adalah potensi akalnya dalam menyusaikan hidup dengan sekelilingnya sejalan ruang dan waktu. Namun demikian, apapun prestasi manusia, pada akhirnya, keputusan hanya ada di tangan Tuhan kelak di kemudian hari. Segala hal yang diperselisihkan manusia hendaknya jangan menimbulkan permusuhan dan kebencian, sebab asal-usul manusia adalah satu jua.<a href=\"#_ftn19\" name=\"_ftnref19\">[19]<\/a><\/p>\n<p>Dengan mencermati penjelasan kedua mufassir tersebut dapat digaris bawahi bahwa, meskipun dengan adanya redaksi dan penuturan kata dan kalimat yang agak berbeda, namun keduanya mempunyai pandangan yang sama, bahwa selain mengakui keragaman manusia dengan berbagai ragam kebudayaan dan kecenderungan nya sudah merupakan sunnatullah, mereka juga mengemukakan bahwa keragaman ini juga berorientasi kepada kesatuan manusia, sebab mereka dari asal-usul yang satu. Oleh karena itu, segala perbedaan hendaknya tidak menjurus kepada kebencian dan saling bermusuhan.<br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\nNamun begitu, multikulturalitas ini harus meningkat menjadi multikulturalisme. Multikulturalitas sendiri, menurut hemat penulis tidak memiliki banyak manfaat, karena pada umumnya semua orang paham benar bahwa keberadaan manusia itu beragam dari seluruh aspeknya, baik kecenderungan, selera, tingkat kemampuan berfikir, suku, bangsa, keyakinan, dan sebagainya. Namun demikian, hanya sekedar tahu atau mengerti bahwa kita berbeda, belum membawa arti signifikan bagi seseorang. Fakta menunjukkan bahwa pengetahuan tentang keragaman tidak membuat seseorang lantas menyadari dan menerima bahwa prebedaan itu sebagai sesuatu yang indah dan karenanya perlu didukung. Justru sebaliknya, perbedaan telah banyak memakan korban jiwa dan harta benda. Hanya karena perbedaan tafsir agama, orang atau kelompok masyarakat tertentu harus diusir dari kampungnya atau dibunuh. Oleh karena itu, multikulturalitas harus ditingkatkan menjadi multikulturalisme. Yaitu cara pandang kemajemukan yang melihat keragaman kultural sebagai sebuah keniscayaan dan bahkan sebagai keindahan yang harus diterima secara sukarela dan senang hati, dan ditindaklanjuti dengan dedikasi masyarakat dalam kerangka kemajemukan itu demi tercapai kehidupan yang damai sejahtera.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li>Toleransi dan Penghargaan antar Sesama<\/li>\n<\/ol>\n<p>Sebagaimana dijlaskan di muka bahwa keragaman adalah sebuah keniscayaan atau sunnatullah, bahkan menjadi pertanda kekuasaan Allah dalam penciptaan-Nya. Jelasnya, bahwa keragaman, baik keragaman suku, etnisitas, budaya, agama, dan sebagainya, bukan hanya kehendak alam tapi juga kehendak Tuhan. Karena itu, keragaman mempunyai landasan teologis dan etik yang sangat kuat. Usaha penyeragaman dengan modus dan dengan cara apapun merupakan sebuah pengandaian yang tidak sejalan dengan fakta kemanusiaan itu sendiri.<\/p>\n<p>Namun demikian, secara praktis, banyak pihak yang belum bisa dan belum siap menerima keragaman yang sudah menjadi kehendak Tuhan ini. Berbagai modus dan cara digunakan orang-orang tertentu untuk menentang fitrah dan takdir Tuhan tersebut. Diantaranya adalah dengan menangkal berbagai pemikiran yang mengarah pada keragaman.<\/p>\n<p>Karenanya toleransi atau sikap menghargai pihak lain yang berbeda sangat dibutuhkan bagi masyarakat agar kodrat Tuhan tersebut menjadi sesuatu yang konstruktif bagi kehidupan manusia.<\/p>\n<p>Secara etimologis, kata toleransi berasal dari bahasa Belanda, &#8220;tolerantie&#8221;, yang kata kerjanya adalah &#8220;toleran.&#8221; Juga berasal dari bahasa Inggris &#8220;tolerance&#8221; yang kata kerjanya adalah &#8220;tolerate&#8221;. Juga berasal dari bahasa Latin, &#8220;tolerare&#8221; yang kesemuanya mengarah pada arti bersabar, menahan diri, membiarkan orang lain, dan berhati lapang terhadap pendapat yang berbeda.<a href=\"#_ftn20\" name=\"_ftnref20\">[20]<\/a><br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\nSecara terminologis, toleransi, yang kata sifatnya adalah toleran diartikan sebagai sifat atau sikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.<a href=\"#_ftn21\" name=\"_ftnref21\">[21]<\/a> Lorens Bagus mendefinisikan toleransi sebagai sikap seseorang yang bersabar terhadap keyakinan filosofis dan moral orang lain yang dianggap berbeda, dapat disanggah, bahkan keliru. Dengan sikap itu ia tidak mencoba membrangus keyakinan-keyakinan tersebut. Namun begitu tidak berarti setuju dengan keyakinan itu, dan juga tidak acuh takacuh terhadap kebenaran dan kebaikannya, melainkan lebih pada sikap hormat terhadap pluriformitas dan martabat manusia yang bebas.<a href=\"#_ftn22\" name=\"_ftnref22\">[22]<\/a><\/p>\n<p>Dalam bahasa Arab, toleransi biasa disebut dengan istilah &#8220;tas\u00e2muh&#8221;3 yang artinya sikap membiarkan, lapang dada, murah hati, dan suka berderma. Dengan demikian, toleransi (tasamuh) bisa dikatakan sebagai sikap menghargai dan menghormati keyakinan atau kepercayaan, budaya dan kultur orang lain dengan penuh kerelaan, kesabaran dan kesadaran. Sikap membiarkan dan membolehkan yang terkandung dalam pengertian toleransi di atas, tentu tidak bertendensi untuk ikut membenarkan keyakinan atau kepercayaan orang lain, tapi lebih kepada penghargaan dan penghormatan atas hak asasi orang lain terkait dengan pendirian dan keyakinannya.<\/p>\n<p>Toleransi, dengan demikian, mengandaikan adanya rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati antara satu dengan yang lain dengan tetap menjunjung tinggi rasa persatuan dan persaudaraan demi mewujudkan kehidupan yang damai, tentram dan bahagia.<\/p>\n<p>Sebagaimana dikemukakan di muka, bahwa Islam adalah agama rahmat bagi seluruh umat dan alam semesta. Karenanya, Islam datang tidak hanya untuk mempertahankan eksistensinya sebagai agama, tetapi juga mengakui eksistensi agama-agama lain, dan menghormatinya.<\/p>\n<p>Al-Qur\u2019an sebagai otoritas dan sumber utama umat Islam sangat menghargai perbedaan dalam kerangka pluralitas dan multikulturalitas manusia. Hal yang demikkian dibuktikan melalui konsep toleransi yang ditegaskan dalam al-Qur\u2019an itu sendiri, dan juga melalui sunnah Rasulullah.<br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\nDalam al-Qur\u2019an, umpamanya, ditegaskan bahwa komitmen keagamaan adalah persoalan privat, peroalan pribadi orang-perorang yang tidak bisa dipaksakan. Hal itu seperti ditegaskan dalam firman Allah, artinya: \u201cTidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui\u201d.<a href=\"#_ftn23\" name=\"_ftnref23\">[23]<\/a><\/p>\n<p>Dalam pandangan Jaudat Sa\u2019id, ayat tersebut di atas dikategorikan sebagai ayat universal, yang statusnya sama dengan ayat kursi. Bila ayat kursi mengandung ajaran tentang penyucian terhadap Allah, maka ayat ini menegaskan tentang pengutamaan sesama manusia, yakni kebebasan beragama. Karena agama adalah masalah perasaan dan kemantaan hati.<a href=\"#_ftn24\" name=\"_ftnref24\">[24]<\/a><\/p>\n<p>Dalam pandangan Shihab, tidak ada paksaan dalam agama dimaksudkan oleh ayat tersebut adalah tidak ada paksaan dalam menganut akidahnya. Akidah adalah suatu yang mengikat terkait dengan tuntunan dan kewajiban untuk dilaksanakan. Sehingga bila orang menganut suatu akidah tertentu, Islam, umpamanya, dia terikat dengan tuntunan dan juga kewajiban yang ada dalam Islam.<a href=\"#_ftn25\" name=\"_ftnref25\">[25]<\/a><\/p>\n<p>Lebih lanjut Shihab menuturkan, bahawa ayat ini mengandung, minimal dua misi utama. Yaitu, sebagai uraian lebih lanjut dari ayat sebelumnya yang menjelaskan tentang kemahakuasaan Allah, manakala muncul dugaan dari makhluk-Nya bahwa Allah bisa saja memaksakan pada manusia untuk menganut agama Islam semata. Maka dengan ayat ini, Allah seperti ingin menjelaskan bahwa Allah tidak berkehendak demikian. Kedua, ayat tersebut menjelaskan bahwa tidak ada paksaan dalam hal memilih suatu keyakinan atau agama. Karena Allah sudah menunjukkan pada manusia mana jalan yang lurus dan mana jalan yang sesat. Namun begitu Allah menghendaki agar setiap orang merasakan kedamaian. Pemaksaan dalam memilih agama menyebabkan jiwa tidak damai dan tidak nyaman. Oleh karena itu tidak ada paksaan dalam menganut keyakinan agama Islam.<a href=\"#_ftn26\" name=\"_ftnref26\">[26]<\/a><\/p>\n<p>Sebab turunnya ayat ini, menurut Hamka, terkait dengan usaha paksa para orang tua untuk mengislamkan anak-anak mereka yang sudah terlanjur memeluk agama Yahudi oleh orang tua angkat mereka yang beragama Yahudi. Tapi kemudia, Nabi Muhammad memberi kebebasan kepada anak-anak itu untuk memilih keyakinannya, mengikuti keyakinan orang tuanya, yaitu Islam, atau mengikuti keyakinan orang tua angkatnya Yahudi. Menurut riwayat, ternyata sebagian kembali kepada Islam, dan sebagian memilih agama Yahudi.<a href=\"#_ftn27\" name=\"_ftnref27\">[27]<\/a><br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\nDalam pandangan Hamka, ayat ini merupakan tantangan bagi manusia, karena Islam adalah agama yang benar. Ia Islam memberikan kesempatan kepada semua manusia untuk berfikir secara bebas dan murni untuk mencari kebenaran. Kalau manusia mau berfikir secara jernih, tidak sekedar taklid atau mengikuti kecenderungan nafsunya, dia akan sampai pada kebenaran itu. Tapi bila dipaksa-paksa, justru akan tidak menemukan kebenaran itu. Hamka menambahkan bahwa tantangan yang diberikan Islam kepada manusia ini memperoleh respons dari sarjana Kristen Arabia, Phillips K. Hitti yang mengakui ayat ini merupakan salah satu ayat dalam Islam yang patut menjadi anutan manusia pada segala zaman.<a href=\"#_ftn28\" name=\"_ftnref28\">[28]<\/a><\/p>\n<p>Sikap toleransi Islam juga dapat dilihat dari beberapa penegasan Al-Qur\u2019an terkait dengan penghargaan dan pengakuannya terhadap komunitas dan eksistensi agama lain. Seperti, larangan Allah kepada umatnya untuk tidak mengolok-olok atau mencerca orang-orang lain (non-Muslim) yang tidak menyembah kepada-Nya, \u201cDan janganlah kalian mengolok-olok orang-orang (penganut agama lain) yang menyembah selain Allah\u201d<a href=\"#_ftn29\" name=\"_ftnref29\">[29]<\/a>; kebebasan menganut suatu sistem keyakinan \u201cTidak ada paksaan untuk menganut agama (Islam)\u201d;<a href=\"#_ftn30\" name=\"_ftnref30\">[30]<\/a> penghargaan terhadap keyakinan yang dianut orang lain, \u201cBagimu agamamu dan bagiku agamaku\u201d<a href=\"#_ftn31\" name=\"_ftnref31\">[31]<\/a>, larangan penghancuran tempat-tempat ibadah \u201cSeandainya Allah tidak menolak keganasan sebagian orang atas sebagian yang lain, niscaya hancurlah biara-biara, gereja-gereja, sinagog-sinagog dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut asma Allah\u201d<a href=\"#_ftn32\" name=\"_ftnref32\">[32]<\/a>, dan sebagainya.<\/p>\n<p>Konsep ta\u2019aruf dalam Islam, seperti ditegaskan dalam QS. Al-Hujur\u00e2t [49]: 13, merupakan konsep yang sangat agung dalam bingkai kerukunan dan perdamaian antar sesama manusia. Karena dalam konsep itu terkandung pemahaman bukan hanya sekedar saling mengenal, tapi juga unsur saling menghargai, dan saling memberi. Konsep ini juga terkandung pemahaman bahwa Islam mengajarkan hubungan yang harmonis antar sesama manusia.<\/p>\n<p>Tidak bisa dipungkiri bahwa toleransi akan menjadi perekat yang paling kuat untuk merekatkan antara manusia yang satu dengan manusia lainnya. Dalam toleransi terkandung ketulusan dan kesediaan untuk menerima perbedaan dan pemikiran dari pihak lain. Yang lebih penting dari itu adalah bahwa pihak lain akan dipandang sebagai kawan, bukan sebagai lawan. Pihak lain akan dipahami sebagai sesama makhluk Tuhan yang mempunyai hati nurani dan akal budi.<br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\nDalam toleransi, setidaknnya ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, mengakui perbedaan dan keragaman. Al-Qur\u2019an banyak menjelaskan hal terssebut secara terang-terangan. Tuhan menciptakan manusia dari jenis laki-laki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Dari sini saja dapat dipahami bahwa sejak awal penciptaan manusia, Tuhan telah menjadikan karakter yang paling menonjol bagi manusia.<\/p>\n<p>Kedua, mencari titik temu dan koeksistensi. Langkah ini mesti menjadi perhatian utama setiap muslim. Mengakui perbedaan adalah niscaya. Tapi hal tersebut kurang sempurna bila tidak dilengkapi dengan upaya mencari titik temu dan koeksistensi.<\/p>\n<p>Penerapan nilai-nilai toleransi dan pluralisme al-Quran sudah dicontohkan oleh Rasul Muhammad saw. ketika pertama kali hijrah ke Madinah.<sup>4<\/sup> Sejarah mencatat bahwa Rasul saw bukan hanya mampu mendamaikan dua kelompok, yaitu suku Aus dan Khazraj yang senantiasa bertikai, tetapi juga mampu menerapkan jargon &#8220;no compulsion in religion&#8221; terhadap masyarakat Madinah ketika itu. Tradisi toleransi beragama ini dilanjutkan oleh Khulafaur Rashidin pasca Rasul saw wafat. Sebagai contoh, sejarah mencatat bagaimana Ali bin Abi Thalib sangat menekankan dan menghargai kebebasan beragama ketika dia menjadi khalifah keempat. Dalam salah satu suratnya kepada Malik al-Ashtar yang ditunjuk Ali menjadi Gubernur Mesir, dia mencatat: &#8220;Penuhi dadamu dengan cinta dan kasih sayang terhadap sesama, baik terhadap sesama Muslim atau non-Muslim<\/p>\n<p>Berangkat dari pemahaman di atas bisa dikatakan bahwa toleransi atau sikap terbuka dan menghargai sesama merupakan tema pokok dalam Islam yang nota bene tidak dimiliki oleh agama-agama lain.<br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\n&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li>Dialog dan Kerjasama<\/li>\n<\/ol>\n<p>Seperti dijelaskan terdahulu bahwa pluralisme dan multikulturalisme adalah dua cara pandang tentang keragaman realitas. Keduanya merupakan paham yang bertolak dari kenyataan keragaman masyarakat. Keduanya tidak bertolak dari asumsi bahwa setiap kultur itu sama. Justru yang disadari adalah adanya perbedaan atau keragaman.<a href=\"#_ftn33\" name=\"_ftnref33\">[33]<\/a><\/p>\n<p>Tidak bisa dipungkiri bahwa keragamaan dan keperbedaan berpotensi melahirkan konflik sosial. H.A.R. Tilaar, seorang pakar pendidikan mengatakan bahwa masyarakat multikultural menyimpan banyak kekuatan dari masing-masing kelompok, tapi dibalik itu juga menyimpan benih-benih perpecahan.<a href=\"#_ftn34\" name=\"_ftnref34\">[34]<\/a>Hal itu diperkuat oleh Nasikun, bahwa masyarakat plural memiliki dua kecenderungan, yakni inklinasi berkembangnya prilakukonflik antar berbagai kelompok etnis, dan kecenderungan hadirnya kekuatan yang mengintegrasikan masyarakat.<a href=\"#_ftn35\" name=\"_ftnref35\">[35]<\/a><\/p>\n<p>Sejalan dengan pendakat dua tokoh tersebut di atas, Dawam mengetengahkan bahwa berdasarkan pengalaman, perbedaan diasumsikan mengandung potensi konflik atau persaingan yang tidak sehat.<a href=\"#_ftn36\" name=\"_ftnref36\">[36]<\/a> Bahkan Huntington mengasumsikan terkandungnya konflik antar peradaban, bukan sekedar perbedaan. Karena konflik itu tidak terkompromikan atau tidak terdamaikan, maka terjadilan benturan bahkan perang antar peradaban.<a href=\"#_ftn37\" name=\"_ftnref37\">[37]<\/a><\/p>\n<p>Terkait dengan hal ini, Dawam Raharjo menambahkan bahwa dalam masyarakat Islam sendiri, akhir-akhir ini, muncul teori mengenai \u201cperang ideologi\u201d (<em>ghazwu al-fikr<\/em>). Menurutnya, teori inilah yang sesungguhnya melatarbelakangi lahirnya fatwa MUI yang antara lain mengharamkan liberalisme, sekularisme dan pluralisme yang dianggap sebagai produk asing yang sangat berbahaya.<a href=\"#_ftn38\" name=\"_ftnref38\">[38]<\/a><\/p>\n<p>Di kalangan umat Islam sendiri, termasuk penulis, melihat bahwa tesis Huntington itu hanya sekedar profokasi, karena tidak ditemukan pendasarannya dalam al-Qur\u2019an atau hadis. Islam justru lebih mengedepankan dialog antar peradaban, bukan benturan antar peradaban.<a href=\"#_ftn39\" name=\"_ftnref39\">[39]<\/a><\/p>\n<p>Namun demikian, justru karena kesadaran tentang potensi konflik yang terkandung dalam keragaman masyarakat itu, keragaman (pluralisme atau multikulturalisme) meniscayakan pentingnya dialog antar kelompok budaya untuk mencapai kesalingpahaman.<\/p>\n<p>Di sisi lain, multikulturalisme yang berdasarkan pluralisme, mengasumsikan adanya perbedaan jati diri setiap individu atau kelompok. Individualitas itu sendiri mengandung pengertian tentang kebebasan. Kemudian pada gilirannya kebebasan melahirkan persaingan; dan persaingan melahirkan persepsi tentang perlunya kerjasama. Dengan demikian, dalam multikulturalisme, selain meniscayakan pentingnya dialog juga meniscayakan adanya kerjasama.<\/p>\n<p>Islam, sesuai dengan <em>trade mark<\/em> yang disandangnya adalah agama perdamaian. Oleh karena itu jelas bahwa Islam sangat mencintai perdamaian, baik perdamaian di kalangan sendiri maupun predamaian dengan pihak lain. Menurut hemat penulis, dalam rangka kedamaian itulah Islam dikonstruk untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.<br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\nDisadari atau tidak, secara faktual, kedamaian dan kerukunan yang menjadi cita-cita Islam tersebut tidak mudah untuk direalisasikan. Banyak hambatan dan rintangan yang menghalangi tercapainya cita-cita luhur tersebut. Justru agama seringkali terlibat sebagai pemicu dalam konflik-konflik antar kelompok masyarakat budaya.<a href=\"#_ftn40\" name=\"_ftnref40\">[40]<\/a> Namun begitu, kedamaian tetap menjadi cita-cita ideal dari wahyu yang diamanatkan kepada Muhammad ini. Oleh karena itu, Islam menyerukan pencapaian kedamaian itu melalui institusi dialog agar tercapai titik temu, agar keragaman menjadi potensi kontruktif yang melimpah bagi manusia, bukan malah menjai petaka.<\/p>\n<p>Konflik terjadi, menurut hemat penulis, lebih karena persoalan keragaman yang kemudian mengarah kepada sektarianisme, yang berujung pada fanatisme kelompok, sehingga yang mengemuka adalah titik seteru bukan persamaan tau titik temu. Maka tepat sekali bila al-Qur\u2019an memerintahkan kaum Muslim untuk melakukan dialog dengan pihak Ahli Kitab (non-Muslim) dalam rangka mencari titik temu atau titik kesamaan, dan tidak mempertajam perseteuan, sebagimana penjelasan tersebut di atas. Bahkan al-Qur\u2019an menganjurkan agar umat Islam melakukan dialog dengan pihak non-Muslim dengan cara yang baik.<\/p>\n<p>Berkenaan dengan hal ini Shihab menuturkan bahwa dalam rangka mewujudkan perdamaian dengan pihak lain, Islam menganjurkan dialog dengan cara yang baik. Hal itu seperti ditegaskan dalam firman Allah: \u201cSerulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk\u201d.<a href=\"#_ftn41\" name=\"_ftnref41\">[41]<\/a><\/p>\n<p>Seruan dialog dengan cara yang baik itu juga ditegaskan al-Qur\u2019an ketika menyeru kepada umat Islam agar tidak melakukan mujadalah (debat atau dialog) dengan warga Ahli Kitab kecuali dengan cara yang baik.<a href=\"#_ftn42\" name=\"_ftnref42\">[42]<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\n<strong>Penutup<br \/>\n<\/strong>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Dengan penjelasan di atas dapat digarisbawahi bahwa koeksistensi keragaman kultural manusia dalam Islam, terkonfigurasi secara jelas dalam dasar-dasar ajaran Islam tentang kehidupan sosial-keagamaan yang menyangkut keniscayaan keragaman manusia, tuntunan toleransi dan juga anjuran untuk melakukan dialog dengan pihak non-Muslim. Dengan demikian, sejatinya, Islam menyuguhkan konsep yang jelas tentang koesistensi keragaman kultural manusia ini. Namun sayangnya, ajaran dasar Islam ini, masih belum dipahami secara seksama oleh umat Islam. Mungkin karena permasalahan historis menyangkut hubungan Muslim dan non-Muslim yang selalu memberi nuansa dalam pengejawantahan ajaran Islam tersebut.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref1\" name=\"_ftn1\">[1]<\/a> . QS. Al-Anbiya\u2019 (21): 107:<\/p>\n<p>\u0648\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0631\u0652\u0633\u064e\u0644\u0652\u0646\u064e\u0627\u0643\u064e \u0625\u0650\u0644\u0651\u064e\u0627 \u0631\u064e\u062d\u0652\u0645\u064e\u0629\u064b \u0644\u0650\u0644\u0652\u0639\u064e\u0627\u0644\u064e\u0645\u0650\u064a\u0646\u064e [\u0662\u0661:\u0661\u0660\u0667]<\/p>\n<p>Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref2\" name=\"_ftn2\">[2]<\/a> . Dalam QS. al-Baqarah (2): 62, dan juga dalam al-Ma\u2019idah (5): 69, umpamanya, ditegaskan bahwa Islam disejajarkan dengan sistem keyakinan lainnya, yang memperoleh ultimatum dan sekaligus konsekwensi darinya di depan Tuhan untuk diuji tentang kebenaran masing-masing.<\/p>\n<p>\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0622\u0645\u064e\u0646\u064f\u0648\u0627 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0647\u064e\u0627\u062f\u064f\u0648\u0627 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0635\u0651\u064e\u0627\u0628\u0650\u0626\u064f\u0648\u0646\u064e \u0648\u064e\u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0635\u064e\u0627\u0631\u064e\u0649\u0670 \u0645\u064e\u0646\u0652 \u0622\u0645\u064e\u0646\u064e \u0628\u0650\u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0622\u062e\u0650\u0631\u0650 \u0648\u064e\u0639\u064e\u0645\u0650\u0644\u064e \u0635\u064e\u0627\u0644\u0650\u062d\u064b\u0627 \u0641\u064e\u0644\u064e\u0627 \u062e\u064e\u0648\u0652\u0641\u064c \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u0647\u064f\u0645\u0652 \u064a\u064e\u062d\u0652\u0632\u064e\u0646\u064f\u0648\u0646\u064e [\u0665:\u0666\u0669]<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref3\" name=\"_ftn3\">[3]<\/a> . salah satu penegasan al-Qur\u2019an terkait dengan hal ini adalah firman Allah, QS. al-Ma\u2019idah (5): 48:<\/p>\n<p>\u0650\u00a0\u06da \u0644\u0650\u0643\u064f\u0644\u0651\u064d \u062c\u064e\u0639\u064e\u0644\u0652\u0646\u064e\u0627 \u0645\u0650\u0646\u0652\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0634\u0650\u0631\u0652\u0639\u064e\u0629\u064b \u0648\u064e\u0645\u0650\u0646\u0652\u0647\u064e\u0627\u062c\u064b\u0627\u00a0\u06da \u0648\u064e\u0644\u064e\u0648\u0652 \u0634\u064e\u0627\u0621\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u0644\u064e\u062c\u064e\u0639\u064e\u0644\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0623\u064f\u0645\u0651\u064e\u0629\u064b \u0648\u064e\u0627\u062d\u0650\u062f\u064e\u0629\u064b \u0648\u064e\u0644\u064e\u0670\u0643\u0650\u0646\u0652 \u0644\u0650\u064a\u064e\u0628\u0652\u0644\u064f\u0648\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0641\u0650\u064a \u0645\u064e\u0627 \u0622\u062a\u064e\u0627\u0643\u064f\u0645\u0652\u00a0\u06d6 \u0641\u064e\u0627\u0633\u0652\u062a\u064e\u0628\u0650\u0642\u064f\u0648\u0627 \u0627\u0644\u0652\u062e\u064e\u064a\u0652\u0631\u064e\u0627\u062a\u0650\u00a0\u06da \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u0645\u064e\u0631\u0652\u062c\u0650\u0639\u064f\u0643\u064f\u0645\u0652 \u062c\u064e\u0645\u0650\u064a\u0639\u064b\u0627 \u0641\u064e\u064a\u064f\u0646\u064e\u0628\u0651\u0650\u0626\u064f\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0628\u0650\u0645\u064e\u0627 \u0643\u064f\u0646\u0652\u062a\u064f\u0645\u0652 \u0641\u0650\u064a\u0647\u0650 \u062a\u064e\u062e\u0652\u062a\u064e\u0644\u0650\u0641\u064f\u0648\u0646\u064e [\u0665:\u0664\u0668]<\/p>\n<p>Begitu juga ditegaskan bahwa Allah mencegah keganasan antar manusia untuk saling menghancurkan tempat-tempat ibadah, yang mengandung arti bahwa penghancuran tempat ibadah bagi agama apapun, tidak diperbolehkan dalam Islam. QS. al-Haj (22): 40, sebagai berikut:<\/p>\n<p>\u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0623\u064f\u062e\u0652\u0631\u0650\u062c\u064f\u0648\u0627 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u062f\u0650\u064a\u064e\u0627\u0631\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0628\u0650\u063a\u064e\u064a\u0652\u0631\u0650 \u062d\u064e\u0642\u0651\u064d \u0625\u0650\u0644\u0651\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0646\u0652 \u064a\u064e\u0642\u064f\u0648\u0644\u064f\u0648\u0627 \u0631\u064e\u0628\u0651\u064f\u0646\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f\u00a0\u06d7 \u0648\u064e\u0644\u064e\u0648\u0652\u0644\u064e\u0627 \u062f\u064e\u0641\u0652\u0639\u064f \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0627\u0633\u064e \u0628\u064e\u0639\u0652\u0636\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0628\u0650\u0628\u064e\u0639\u0652\u0636\u064d \u0644\u064e\u0647\u064f\u062f\u0651\u0650\u0645\u064e\u062a\u0652 \u0635\u064e\u0648\u064e\u0627\u0645\u0650\u0639\u064f \u0648\u064e\u0628\u0650\u064a\u064e\u0639\u064c \u0648\u064e\u0635\u064e\u0644\u064e\u0648\u064e\u0627\u062a\u064c \u0648\u064e\u0645\u064e\u0633\u064e\u0627\u062c\u0650\u062f\u064f \u064a\u064f\u0630\u0652\u0643\u064e\u0631\u064f \u0641\u0650\u064a\u0647\u064e\u0627 \u0627\u0633\u0652\u0645\u064f \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u0643\u064e\u062b\u0650\u064a\u0631\u064b\u0627\u00a0\u06d7 \u0648\u064e\u0644\u064e\u064a\u064e\u0646\u0652\u0635\u064f\u0631\u064e\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u0645\u064e\u0646\u0652 \u064a\u064e\u0646\u0652\u0635\u064f\u0631\u064f\u0647\u064f\u00a0\u06d7 \u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064e \u0644\u064e\u0642\u064e\u0648\u0650\u064a\u0651\u064c \u0639\u064e\u0632\u0650\u064a\u0632\u064c [\u0662\u0662:\u0664\u0660]<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref4\" name=\"_ftn4\">[4]<\/a> . Budhy Munawar Rachman, <em>Argumen Islam Untuk Pluralisme,<\/em> (Jakarta: Grasindu, 2010), hlm. LII.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref5\" name=\"_ftn5\">[5]<\/a> . Muhammad Quraish Shihab, <em>Tafsir Al-Mishbah<\/em>, Vol. 11, (Jakarta: Lentera Hati, 2003), hlm. 38.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref6\" name=\"_ftn6\">[6]<\/a> . Gamal Al-Banna, <em>Al-Ta\u2019addudyah fi al-Mujtama\u2019 al-Islami<\/em>, (Kairo: Dar al-Fikr al-Islami, 2001, hlm. 10.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref7\" name=\"_ftn7\">[7]<\/a> . Mohamed Fathi Osman, Islam, <em>Pluralisme dan Toleransi Keagamaan<\/em>, (Jakarta: Paramadina, 1996), hlm. 1-4.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref8\" name=\"_ftn8\">[8]<\/a> . QS. A-Hujurat (49): 13:<\/p>\n<p>\u064a\u064e\u0627 \u0623\u064e\u064a\u0651\u064f\u0647\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0627\u0633\u064f \u0625\u0650\u0646\u0651\u064e\u0627 \u062e\u064e\u0644\u064e\u0642\u0652\u0646\u064e\u0627\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0630\u064e\u0643\u064e\u0631\u064d \u0648\u064e\u0623\u064f\u0646\u0652\u062b\u064e\u0649\u0670 \u0648\u064e\u062c\u064e\u0639\u064e\u0644\u0652\u0646\u064e\u0627\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0634\u064f\u0639\u064f\u0648\u0628\u064b\u0627 \u0648\u064e\u0642\u064e\u0628\u064e\u0627\u0626\u0650\u0644\u064e \u0644\u0650\u062a\u064e\u0639\u064e\u0627\u0631\u064e\u0641\u064f\u0648\u0627\u00a0\u06da \u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0623\u064e\u0643\u0652\u0631\u064e\u0645\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0639\u0650\u0646\u0652\u062f\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u0623\u064e\u062a\u0652\u0642\u064e\u0627\u0643\u064f\u0645\u0652\u00a0\u06da \u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064e \u0639\u064e\u0644\u0650\u064a\u0645\u064c \u062e\u064e\u0628\u0650\u064a\u0631\u064c [\u0664\u0669:\u0661\u0663]<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref9\" name=\"_ftn9\">[9]<\/a> . Wawasan, Op.cit. hlm. 337.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref10\" name=\"_ftn10\">[10]<\/a> . Hamka, Tafsir Al-Azhar, vol. XXVI, hlm. 208.<br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\n<a href=\"#_ftnref11\" name=\"_ftn11\">[11]<\/a> . Menurut hemat penulis, penggunaan istilah bahasa (lisan) yang dipadukan dengan warna kulit (alwan), merupakan simbolisasi dari pengelompokan manusia dalam kesukuan, kebangsaan dan budaya-budaya.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref12\" name=\"_ftn12\">[12]<\/a> . QS. al-Rum (30): 22;<\/p>\n<p>\u0648\u064e\u0645\u0650\u0646\u0652 \u0622\u064a\u064e\u0627\u062a\u0650\u0647\u0650 \u062e\u064e\u0644\u0652\u0642\u064f \u0627\u0644\u0633\u0651\u064e\u0645\u064e\u0627\u0648\u064e\u0627\u062a\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0631\u0652\u0636\u0650 \u0648\u064e\u0627\u062e\u0652\u062a\u0650\u0644\u064e\u0627\u0641\u064f \u0623\u064e\u0644\u0652\u0633\u0650\u0646\u064e\u062a\u0650\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0623\u064e\u0644\u0652\u0648\u064e\u0627\u0646\u0650\u0643\u064f\u0645\u0652\u00a0\u06da \u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0641\u0650\u064a \u0630\u064e\u0670\u0644\u0650\u0643\u064e \u0644\u064e\u0622\u064a\u064e\u0627\u062a\u064d \u0644\u0650\u0644\u0652\u0639\u064e\u0627\u0644\u0650\u0645\u0650\u064a\u0646\u064e [\u0663\u0660:\u0662\u0662]<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref13\" name=\"_ftn13\">[13]<\/a> . Muhammad Quraish Shihab, <em>Tafsir Al-Azhar<\/em>, Vol. 11, Op.cit. hlm. 37.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref14\" name=\"_ftn14\">[14]<\/a> . Hamka, Tafsir Al-Azhar, vol. XXI, hlm. 67.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref15\" name=\"_ftn15\">[15]<\/a> . Ibid. lihat juga, Shihab, Wawasan Al-Qur\u2019an, opcit. hlm. 341.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref16\" name=\"_ftn16\">[16]<\/a> . QS. al-Maidah (5): 48:<\/p>\n<p>\u0648\u064e\u0623\u064e\u0646\u0652\u0632\u064e\u0644\u0652\u0646\u064e\u0627 \u0625\u0650\u0644\u064e\u064a\u0652\u0643\u064e \u0627\u0644\u0652\u0643\u0650\u062a\u064e\u0627\u0628\u064e \u0628\u0650\u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0642\u0651\u0650 \u0645\u064f\u0635\u064e\u062f\u0651\u0650\u0642\u064b\u0627 \u0644\u0650\u0645\u064e\u0627 \u0628\u064e\u064a\u0652\u0646\u064e \u064a\u064e\u062f\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0643\u0650\u062a\u064e\u0627\u0628\u0650 \u0648\u064e\u0645\u064f\u0647\u064e\u064a\u0652\u0645\u0650\u0646\u064b\u0627 \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650\u00a0\u06d6 \u0641\u064e\u0627\u062d\u0652\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0628\u064e\u064a\u0652\u0646\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0628\u0650\u0645\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0646\u0652\u0632\u064e\u0644\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f\u00a0\u06d6 \u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u062a\u064e\u062a\u0651\u064e\u0628\u0650\u0639\u0652 \u0623\u064e\u0647\u0652\u0648\u064e\u0627\u0621\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0639\u064e\u0645\u0651\u064e\u0627 \u062c\u064e\u0627\u0621\u064e\u0643\u064e \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0642\u0651\u0650\u00a0\u06da \u0644\u0650\u0643\u064f\u0644\u0651\u064d \u062c\u064e\u0639\u064e\u0644\u0652\u0646\u064e\u0627 \u0645\u0650\u0646\u0652\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0634\u0650\u0631\u0652\u0639\u064e\u0629\u064b \u0648\u064e\u0645\u0650\u0646\u0652\u0647\u064e\u0627\u062c\u064b\u0627\u00a0\u06da \u0648\u064e\u0644\u064e\u0648\u0652 \u0634\u064e\u0627\u0621\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u0644\u064e\u062c\u064e\u0639\u064e\u0644\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0623\u064f\u0645\u0651\u064e\u0629\u064b \u0648\u064e\u0627\u062d\u0650\u062f\u064e\u0629\u064b \u0648\u064e\u0644\u064e\u0670\u0643\u0650\u0646\u0652 \u0644\u0650\u064a\u064e\u0628\u0652\u0644\u064f\u0648\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0641\u0650\u064a \u0645\u064e\u0627 \u0622\u062a\u064e\u0627\u0643\u064f\u0645\u0652\u00a0\u06d6 \u0641\u064e\u0627\u0633\u0652\u062a\u064e\u0628\u0650\u0642\u064f\u0648\u0627 \u0627\u0644\u0652\u062e\u064e\u064a\u0652\u0631\u064e\u0627\u062a\u0650\u00a0\u06da \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u0645\u064e\u0631\u0652\u062c\u0650\u0639\u064f\u0643\u064f\u0645\u0652 \u062c\u064e\u0645\u0650\u064a\u0639\u064b\u0627 \u0641\u064e\u064a\u064f\u0646\u064e\u0628\u0651\u0650\u0626\u064f\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0628\u0650\u0645\u064e\u0627 \u0643\u064f\u0646\u0652\u062a\u064f\u0645\u0652 \u0641\u0650\u064a\u0647\u0650 \u062a\u064e\u062e\u0652\u062a\u064e\u0644\u0650\u0641\u064f\u0648\u0646\u064e [\u0665:\u0664\u0668]<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref17\" name=\"_ftn17\">[17]<\/a> . Quraish Shihab, Vol. 3, hlm. 108.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref18\" name=\"_ftn18\">[18]<\/a> . ibid.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref19\" name=\"_ftn19\">[19]<\/a> . Hamka, Tafsir Al-Azhar, Vol. VI, hlm. 347-349.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref20\" name=\"_ftn20\">[20]<\/a> . Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000), hlm. 1111.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref21\" name=\"_ftn21\">[21]<\/a> . <em>Kamus Bahasa Indonesia<\/em>, (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008), hal. 1538.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref22\" name=\"_ftn22\">[22]<\/a> . Lorens Bagus, Op.cit. hlm. 1112.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref23\" name=\"_ftn23\">[23]<\/a> . QS. Al-Baqarah (2): 256:<\/p>\n<p>\u0644\u064e\u0627 \u0625\u0650\u0643\u0652\u0631\u064e\u0627\u0647\u064e \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u062f\u0651\u0650\u064a\u0646\u0650\u00a0\u06d6 \u0642\u064e\u062f\u0652 \u062a\u064e\u0628\u064e\u064a\u0651\u064e\u0646\u064e \u0627\u0644\u0631\u0651\u064f\u0634\u0652\u062f\u064f \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u063a\u064e\u064a\u0651\u0650\u00a0\u06da \u0641\u064e\u0645\u064e\u0646\u0652 \u064a\u064e\u0643\u0652\u0641\u064f\u0631\u0652 \u0628\u0650\u0627\u0644\u0637\u0651\u064e\u0627\u063a\u064f\u0648\u062a\u0650 \u0648\u064e\u064a\u064f\u0624\u0652\u0645\u0650\u0646\u0652 \u0628\u0650\u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u0641\u064e\u0642\u064e\u062f\u0650 \u0627\u0633\u0652\u062a\u064e\u0645\u0652\u0633\u064e\u0643\u064e \u0628\u0650\u0627\u0644\u0652\u0639\u064f\u0631\u0652\u0648\u064e\u0629\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0648\u064f\u062b\u0652\u0642\u064e\u0649\u0670 \u0644\u064e\u0627 \u0627\u0646\u0652\u0641\u0650\u0635\u064e\u0627\u0645\u064e \u0644\u064e\u0647\u064e\u0627\u00a0\u06d7 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u0633\u064e\u0645\u0650\u064a\u0639\u064c \u0639\u064e\u0644\u0650\u064a\u0645\u064c [\u0662:\u0662\u0665\u0666]<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref24\" name=\"_ftn24\">[24]<\/a> . Jaudat Sa\u2019id, <em>La Ikraha fi al-Din: Dirasat wa abhats fi al-Fikr al-Islami<\/em>, (Damaskus: Markaz al-\u2018Ilm wa al-Salam li al-Dirasat wa al-Nashr, 1997),<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref25\" name=\"_ftn25\">[25]<\/a> . Quraish Shihab, <em>Tafsir Al-Mishbah<\/em>, Vol. I, hlm. 515.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref26\" name=\"_ftn26\">[26]<\/a> . Ibid.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref27\" name=\"_ftn27\">[27]<\/a> . Hamka, Tafsir Al-Azhar, vol. III, hlm. 29<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref28\" name=\"_ftn28\">[28]<\/a> . Ibid. hlm. 31<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref29\" name=\"_ftn29\">[29]<\/a> . Q.S. Al-An\u2019am, 6: 108.<\/p>\n<p>\u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0633\u064f\u0628\u0651\u064f\u0648\u0627 \u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u064a\u064e\u062f\u0652\u0639\u064f\u0648\u0646\u064e \u0645\u0650\u0646\u0652 \u062f\u064f\u0648\u0646\u0650 \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u0641\u064e\u064a\u064e\u0633\u064f\u0628\u0651\u064f\u0648\u0627 \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064e \u0639\u064e\u062f\u0652\u0648\u064b\u0627 \u0628\u0650\u063a\u064e\u064a\u0652\u0631\u0650 \u0639\u0650\u0644\u0652\u0645\u064d\u00a0\u06d7 \u0643\u064e\u0630\u064e\u0670\u0644\u0650\u0643\u064e \u0632\u064e\u064a\u0651\u064e\u0646\u0651\u064e\u0627 \u0644\u0650\u0643\u064f\u0644\u0651\u0650 \u0623\u064f\u0645\u0651\u064e\u0629\u064d \u0639\u064e\u0645\u064e\u0644\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u062b\u064f\u0645\u0651\u064e \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649\u0670 \u0631\u064e\u0628\u0651\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0645\u064e\u0631\u0652\u062c\u0650\u0639\u064f\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0641\u064e\u064a\u064f\u0646\u064e\u0628\u0651\u0650\u0626\u064f\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0628\u0650\u0645\u064e\u0627 \u0643\u064e\u0627\u0646\u064f\u0648\u0627 \u064a\u064e\u0639\u0652\u0645\u064e\u0644\u064f\u0648\u0646\u064e [\u0666:\u0661\u0660\u0668]<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref30\" name=\"_ftn30\">[30]<\/a> . Q.S. Al-baqarah, 2: 256<\/p>\n<p>\u0644\u064e\u0627 \u0625\u0650\u0643\u0652\u0631\u064e\u0627\u0647\u064e \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u062f\u0651\u0650\u064a\u0646\u0650\u00a0\u06d6 \u0642\u064e\u062f\u0652 \u062a\u064e\u0628\u064e\u064a\u0651\u064e\u0646\u064e \u0627\u0644\u0631\u0651\u064f\u0634\u0652\u062f\u064f \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u063a\u064e\u064a\u0651\u0650\u00a0\u06da \u0641\u064e\u0645\u064e\u0646\u0652 \u064a\u064e\u0643\u0652\u0641\u064f\u0631\u0652 \u0628\u0650\u0627\u0644\u0637\u0651\u064e\u0627\u063a\u064f\u0648\u062a\u0650 \u0648\u064e\u064a\u064f\u0624\u0652\u0645\u0650\u0646\u0652 \u0628\u0650\u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u0641\u064e\u0642\u064e\u062f\u0650 \u0627\u0633\u0652\u062a\u064e\u0645\u0652\u0633\u064e\u0643\u064e \u0628\u0650\u0627\u0644\u0652\u0639\u064f\u0631\u0652\u0648\u064e\u0629\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0648\u064f\u062b\u0652\u0642\u064e\u0649\u0670 \u0644\u064e\u0627 \u0627\u0646\u0652\u0641\u0650\u0635\u064e\u0627\u0645\u064e \u0644\u064e\u0647\u064e\u0627\u00a0\u06d7 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u0633\u064e\u0645\u0650\u064a\u0639\u064c \u0639\u064e\u0644\u0650\u064a\u0645\u064c [\u0662:\u0662\u0665\u0666]<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref31\" name=\"_ftn31\">[31]<\/a> .Q.S. Al-kafirun, 109: 6<\/p>\n<p>\u0644\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u062f\u0650\u064a\u0646\u064f\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0644\u0650\u064a\u064e \u062f\u0650\u064a\u0646\u0650 [\u0661\u0660\u0669:\u0666]<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref32\" name=\"_ftn32\">[32]<\/a> . Q.S. Al-Hajj, 22: 40<\/p>\n<p>\u06d7 \u0648\u064e\u0644\u064e\u0648\u0652\u0644\u064e\u0627 \u062f\u064e\u0641\u0652\u0639\u064f \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0627\u0633\u064e \u0628\u064e\u0639\u0652\u0636\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0628\u0650\u0628\u064e\u0639\u0652\u0636\u064d \u0644\u064e\u0647\u064f\u062f\u0651\u0650\u0645\u064e\u062a\u0652 \u0635\u064e\u0648\u064e\u0627\u0645\u0650\u0639\u064f \u0648\u064e\u0628\u0650\u064a\u064e\u0639\u064c \u0648\u064e\u0635\u064e\u0644\u064e\u0648\u064e\u0627\u062a\u064c \u0648\u064e\u0645\u064e\u0633\u064e\u0627\u062c\u0650\u062f\u064f \u064a\u064f\u0630\u0652\u0643\u064e\u0631\u064f \u0641\u0650\u064a\u0647\u064e\u0627 \u0627\u0633\u0652\u0645\u064f \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u0643\u064e\u062b\u0650\u064a\u0631\u064b\u0627\u00a0\u06d7 \u0648\u064e\u0644\u064e\u064a\u064e\u0646\u0652\u0635\u064f\u0631\u064e\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u0645\u064e\u0646\u0652 \u064a\u064e\u0646\u0652\u0635\u064f\u0631\u064f\u0647\u064f\u00a0\u06d7 \u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064e \u0644\u064e\u0642\u064e\u0648\u0650\u064a\u0651\u064c \u0639\u064e\u0632\u0650\u064a\u0632\u064c [\u0662\u0662:\u0664\u0660]<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref33\" name=\"_ftn33\">[33]<\/a> . M. Dawam Rahardjo, <em>Merayakan Kemajemukan, Kebebasan dan Kebangsaan<\/em>, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2010),<br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\n<a href=\"#_ftnref34\" name=\"_ftn34\">[34]<\/a> . H.A.R. Tilaar, <em>Multikulturalisme: Tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendiikan Nasional,<\/em> (Jakarta: PT. Grasindo, 2004),<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref35\" name=\"_ftn35\">[35]<\/a> . Nasikun, <em>Masyarakat Transisi<\/em>, (Yogjakarta: Pustaka Pelajar, 1999).<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref36\" name=\"_ftn36\">[36]<\/a> . Dawam Rahardjo, Op.cit. hlm. 185.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref37\" name=\"_ftn37\">[37]<\/a> . Secara lebih rinci, baca, Samuel Huntington, The Clash of Civilizaton,&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref38\" name=\"_ftn38\">[38]<\/a> . Dawam Raharjo, Op.cit. hlm. 184.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref39\" name=\"_ftn39\">[39]<\/a> . salah satu ayat al-Qur\u2019an yang secara eksplisit memerintahkan kaum Muslim untuk melakukan dialog mencari titik temu dengan kaum Ahli Kitab adalah QS. Ali Imran (3): 64-65:<\/p>\n<p>\u0642\u064f\u0644\u0652 \u064a\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0647\u0652\u0644\u064e \u0627\u0644\u0652\u0643\u0650\u062a\u064e\u0627\u0628\u0650 \u062a\u064e\u0639\u064e\u0627\u0644\u064e\u0648\u0652\u0627 \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649\u0670 \u0643\u064e\u0644\u0650\u0645\u064e\u0629\u064d \u0633\u064e\u0648\u064e\u0627\u0621\u064d \u0628\u064e\u064a\u0652\u0646\u064e\u0646\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0628\u064e\u064a\u0652\u0646\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0623\u064e\u0644\u0651\u064e\u0627 \u0646\u064e\u0639\u0652\u0628\u064f\u062f\u064e \u0625\u0650\u0644\u0651\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064e \u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u0646\u064f\u0634\u0652\u0631\u0650\u0643\u064e \u0628\u0650\u0647\u0650 \u0634\u064e\u064a\u0652\u0626\u064b\u0627 \u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u064a\u064e\u062a\u0651\u064e\u062e\u0650\u0630\u064e \u0628\u064e\u0639\u0652\u0636\u064f\u0646\u064e\u0627 \u0628\u064e\u0639\u0652\u0636\u064b\u0627 \u0623\u064e\u0631\u0652\u0628\u064e\u0627\u0628\u064b\u0627 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u062f\u064f\u0648\u0646\u0650 \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650\u00a0\u06da \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u0652 \u062a\u064e\u0648\u064e\u0644\u0651\u064e\u0648\u0652\u0627 \u0641\u064e\u0642\u064f\u0648\u0644\u064f\u0648\u0627 \u0627\u0634\u0652\u0647\u064e\u062f\u064f\u0648\u0627 \u0628\u0650\u0623\u064e\u0646\u0651\u064e\u0627 \u0645\u064f\u0633\u0652\u0644\u0650\u0645\u064f\u0648\u0646\u064e [\u0663:\u0666\u0664]<\/p>\n<p>Katakanlah: &#8220;Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah&#8221;. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: &#8220;Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)&#8221;.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref40\" name=\"_ftn40\">[40]<\/a> . Agama biasanya hanya dipakai sebagai alat legitimasi, karena perbedaan agama mengandung unsur-unsur fanatisme yang mampu memotivasi masyarakat untuk melakukan tindakan kekerasan. Lihat Dawam Rahardjo, Op.cit. hlm. 193.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref41\" name=\"_ftn41\">[41]<\/a> . QS. al-Nahl (16): 125:<\/p>\n<p>\u0627\u062f\u0652\u0639\u064f \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649\u0670 \u0633\u064e\u0628\u0650\u064a\u0644\u0650 \u0631\u064e\u0628\u0651\u0650\u0643\u064e \u0628\u0650\u0627\u0644\u0652\u062d\u0650\u0643\u0652\u0645\u064e\u0629\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0648\u0652\u0639\u0650\u0638\u064e\u0629\u0650 \u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0633\u064e\u0646\u064e\u0629\u0650\u00a0\u06d6 \u0648\u064e\u062c\u064e\u0627\u062f\u0650\u0644\u0652\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0628\u0650\u0627\u0644\u0651\u064e\u062a\u0650\u064a \u0647\u0650\u064a\u064e \u0623\u064e\u062d\u0652\u0633\u064e\u0646\u064f\u00a0\u06da \u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0631\u064e\u0628\u0651\u064e\u0643\u064e \u0647\u064f\u0648\u064e \u0623\u064e\u0639\u0652\u0644\u064e\u0645\u064f \u0628\u0650\u0645\u064e\u0646\u0652 \u0636\u064e\u0644\u0651\u064e \u0639\u064e\u0646\u0652 \u0633\u064e\u0628\u0650\u064a\u0644\u0650\u0647\u0650\u00a0\u06d6 \u0648\u064e\u0647\u064f\u0648\u064e \u0623\u064e\u0639\u0652\u0644\u064e\u0645\u064f \u0628\u0650\u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0647\u0652\u062a\u064e\u062f\u0650\u064a\u0646\u064e [\u0661\u0666:\u0661\u0662\u0665]<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref42\" name=\"_ftn42\">[42]<\/a> . QS. al-Ankabut (29): 46.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pendahuluan Islam diturunkan ke dunia dalam rangka menciptakan kedamaian bagi manusia dan menebarkan kerahmatan bagi seluruh umat dan alam semesta (rahmatan li al-\u2018alamin).[1] Atas dasar ini, Islam datang tidak hanya untuk mempertahankan eksistensinya sebagai agama, tetapi juga mengakui eksistensi agama-agama lain,[2] memberi kesempatan kepada agama tersebut untuk eksis dan berkembang untuk dianut oleh manusia, bertoleransi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-20","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/paLL6N-k","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/staff.stai-musaddadiyah.ac.id\/syaikabdillah\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}