JURNAL METODE BERMAIN KONSTRUKTIF LEGO

MENINGKATKAN KEMAMPUAN KONSENTRASI ANAK HIPERAKTIF MELALUI METODE BERMAIN KONSTRUKTIF LEGO

Oleh: Endah Jubaedah

ABSTRAK

Kemampuan konsentrasi anak hiperaktif kelas B di RA Al-Bayyinah masih tergolong rendah dengan persentase keberhasilan kurang dari 26,33%. Hal ini disebabkan oleh faktor proses pembelajaran masih bersifat klasikal dan membosankan bagi anak karena guru kurang memanfaatkan media pembelajaran. Sebagai alternatif untuk meningkatkan kemampuan konsentrasi anak, peneliti melakukan penelitian tindakan kelas dengan metode bermain konstruktif lego dengan harapan proses pembelajaran dapat lebih menarik dan inisiatif anak sehingga kemampuan konsentrasi anak lebih optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis kemampuan konsentrasi anak hiperaktif  mengenai bagaimana penerapan metode bermain konstruktif lego di RA Al-Bayyinah Muarasanding Garut. Kemampuan konsentrasi anak hiperaktif meningkat dari siklus ke siklus melalui bermain konstruktif lego. Sebelum tindakan persentase 26,33%. Pada siklus I,  kemampuan konsentrasi anak hiperaktif meningkat menjadi 31,50% kriteria berkembang sesuai harapan. Sedangkan pada siklus 2, kemampuan konsentrasi anak hiperaktif mengalami peningkatan  89,48% pada kriteria berkembang sesuai harapan. Peningkatan kemampuan konsentrasi anak sudah melampaui indikator keberhasilan yang sudah ditetapkan  yaitu 80%.

 

  1. PENDAHULUAN

Anak Hiperaktif merupakan masalah kesehatan mental berbasis neurologi yang banyak terjadi pada anak. sebagian besar anak hiperaktif menunjukan perilaku hiperaktif dan implusif dengan atau tanpa masalah berkesulitan dalam pemusatan perhatian. Pada sebagian kecil anak yang teridentifikasi anak hiperaktif  hanya mengalami gejala dalam masalah ini. Pada masa ini, jumlah anak yang mengalami masalah perhatian (inattentiveness) semakin meningkat.

Pendapat yang sama dikemukanan Douglas memberi gambaran tentang model defisit, problem dan kesukaran anak hiperaktif dimulai dari ketidak-mampuan untuk memperhatikan, kontrol perilaku yang rendah dan kecenderungan untuk mencari dan membutuhkan stimulus. Masalah yang ada kaitannya dengan konsentrasi, impulsivitas dan banyaknya stimulus yang datang kemampuan konsentrasi yang kurang menyebabakan anak hiperaktif sering mengalami kegagalan.

  1. Metode Bermain Konstruktif Lego

Metode merupakan bagian dari strategi kegiatan. Metode berdasarkan strategi kegiatan sudah dipilih dan ditetapkan. Metode merupakan cara, yang dalam bekerjanya merupakan alat untuk mencapai tujuan. Yang dimaksud bermain konstruktif yaitu kegiatan yang menggunakan berbagai benda yang ada untuk menciptakan suatu hasil karya tertentu.

Dengan permainan konstruktif kemampuan anak dapat terlihat dari segi tujuannya yaitu untuk mewujudkan pikiran, ide, dan gagasan yang nantinya dapat menjadi  sebuah karya nyata. Terdapat dua jenis permainan konstruksi, yaitu bermain konstruksi yang bersifat cair  seperti air, pasir, spidol, dan lain sebagainya. Selain itu ada permainan konstruksi terstruktur seperti balok-balok, lego, dan lain sebagainya.

Breton melakukan penelitian  Tahun 1999 hasilnya anak hiperaktif banyak dialami oleh anak laki-laki dari pada anak perempuan, estimasi 2-4% untuk anak perempuan, dan 6-9% untuk anak laki-laki usia 6-12 tahun.

Tahapan Perkembangan Bermain

  1. Bermain fungsional, yaitu kegiatan bermain yang ditandai dengan gerakan otot yang berulang-ulang, desebut juga motor play.
  2. Bermain konstruktif, yaitu kegiatan bermain yang menggunakan objek atau bahan tertentu untuk membentuk sesuatu seoerti balaok/lego, kardus bekas, play doug dll.
  3. Bermain simbolik, yaitu kegiatan bermain pura-pura, memerankan suatu objek. Biasanya muncul di akhir tahap sensorimotor.
  4. Bermain dengan peraturan (game with rules) Dimana anak sudah memahami dan bersedia memenuhi peraturan permainan.

Hubungan Penggunaan Metode Bermain Konstruktif Lego dan Konsentrasi Anak Hiperaktif

Metode bermain adalah suatu metode pembelajaran melalui kegiatan bermain anak dapat mengembangkan kreativitas, kemampuan konsentrasi,perkembangan kognisi, kegiatan bermain dapat dapat membantu penyaluran kelebihan tenaga, setelah melakukan bermain anak dapat memperoleh keseimbangan anatara kegiatan dengan menggunakan kekuatan tenaga dan kegiatan yang memrlukan ketenagaan. Anak dapat menyalurkan rasa ingin tahunya dengan menggunakan metode bermain.

  1. Metode Penelitian
  2. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Menurut Wardani, penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru didalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerja guru sehingga, hasil belajar siswa meningkat sanjaya menyatakan bahwa pola penelitian tindakan kelas dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu:

  1. Pola Guru Peneliti,
  2. Pola Kolaboratif,
  3. Pola Penelitian Terintegrasi.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pola kolaboratif, yaitu penelitian yang melibatkan beberapa pihakbaik guru, kepala sekolah, dosen, maupun mahasiswa. Arikunto menyatakan bahwa dalam penelitian kolaboratif, pihak yang melakukan tindakan adalah guru itu sendiri, sedangkan yang diminta melakukan pengamatan terhadap berlangsungnya proses tindakan adalah peneliti bukan guru yang sedang melakukan tindakan. Penelitian ini guru sebagai pengajar dan peneliti bertindak sebagai pengamat. Zaenal Abiq mengatakan bahwa penelitian merupakan cara yang strategis untuk memperbaiki layanan kependidikan yang harus dilaksanakan dalam konteks pembelajaran di kelas dan meningkatkan kualitas program sekolah secara keseluruhan. Oleh karena itu semua kegiatan selalu diamati, kemudian direfleksi dengan harapan dapat meningkatkan pembelajaran.

  1. Setting Penelitian
  2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada akhir semester ganjil dan berlanjut pada awal semester genap. Penelitian dimulai pada bulan Desember serta berlanjut pada bulan Januari dan Februari. Kurun waktu tersebut digunakan peneliti untuk melakukan observasi guna untuk mengetahui kemampuan konsentrasi anak, melakukan perencanaan (menyusun RPPH, menyiapkan media, dan menyiapkan instrumen pengamatan), pelaksanaan tindakan penelitian, elakukan pengamatan dan refleksi.

  1. Tempat penelitian

Tempat penelitian yang diambil yaitu di RA Al-Bayyinah Muarasanding Kecamatan Garut Kota Kabupaten Garut. Penelititian di RA Al-Bayyinah dengan alasan metode pembelajarannya masih bersifat klasikal dan metode ceramah yang membuat anak bosan, tidak menarik minat belajar anak dalam menerima materi pembelajaran yang disampaikan guru.

  1. Sumber dan Obyek Penelitian
  2. Subjek Penelitian

Subjek penlitian tindakan kelas ini adalah anak-anak kelas B RA Al-Bayyinah Desa Muarasanding Kecamatan Garut Kota Kabupaten Garut Tahun Pelajaran 2017/2018 yang berjumalah 60 anak, terbagi atas tiga kelas, kelas B1, B2 dan B3. Sebagai subjek penelitian tindakan diambil yaitu kelas B2 terdiri dari 19 siswa, 6 orang perempuan dan 13 orang  laki-laki.

  1. Objek Penelitian

Objek penelitian tindakan kelas ini adalah tentang mengembangkan kemampuan konsentrasi anak hiperaktif melalui metode bermain konstruktif lego.

  1. Metode Pengumpulan Data
  2. Observasi

Observasi adalah kegiatan pengamatan (pengambilan data) untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran. Dalam penelitian ini guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar, sedangkan peneliti mengamati, menilai, dan mendokumentasi semua tindakan selama proses belajar.

  1. Interview/Wawancara

Wawancara atau interview dapat diartikan dapat sebagai teknik mengumpulkan data dengan menggunakan bahasa lisan baik secara tatap muka ataupun melalui saluran media tertentu. Jadi interview adalah salah satu cara pengumpulan data dengan mengadakan dialog atau tanya jawab dengan orang yang menjadi nara sumber informasi atau keterangan secara lisan dan saling berhadapan dengan orang yang diminta keterangan.

Teknik interview yang dipakai dalam penelitian ini adalah interview bebas terpimpin yaitu proses pengajuan pertanyaan yang dilakukan secara bebas tetapi isi pertanyaannya berpedoman kepada pokok-pokok yang ditetapkan terlebih dahulu. Wawancara ini ditunjukkan kepada guru kelompok B2 yang dapat memberikan informasi tentang data yang dibutuhkan oleh peneliti dalam mengembangkan kemampuan konsentrasi anak hiperaktif RA Al-Bayyinah Muarasanding Garut.

  1. Dokumentasi

Satori menyatakan bahwa dokumentasi adalah catatan kejadian yang sudah lampau yang dinyatakan dalam bentuk lisan, tulisan dam karya ilmiah. Dokumentasi yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu pengumpulan data anak yang berupa catatan-catatan perilaku, kejadian dan foto-foto saat proses pembelajaran. Dokumentasi untuk mengetahui perkembangan anak dan permasalahan yang ada agar dapat dilakukan tindakan dan analisis dengan benar untuk meningkatkan kemampuan konsentrasi anak.

  1. Instrumen Pengumpulan Data

Sanjaya menyatakan bahwa instrumen dalam penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Dengan menggunakan instrumen pengumpulan data bertujuan untuk memperoleh data kemudian dibandingkan dengan standar yang telah di tentukan.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pedoman pengamatan digunakan peneliti untuk panduan yang dapat membantu melakukan pengamatan agar lebih terarah informasi tentang seluruh proses pembelajaran.

  1. Teknik Analisis Data

Pengelolaan data merupakan langkah penting dalam penelitian tindakan kelas. Sudjana menyatakan bahwa analissi data adalah suatu proses mengolah dan menginterprestasikan data dengan tujuan untuk mendudukan berbagai informasi sesuai dengan fungsinya sehingga memiliki makna dan arti yang jelas sesuai tujuan penelitian.

Data yang diperoleh dalam penelitian ini dikumpulkan dan dianalisis. Semua data yang diperoleh melalui observasi dan dokumentasi dirangkum dalam satu rangkuman perkembangan anak dan analisis dengan membandingkan perkembangan anak yang seharusnya dicapai. Selain untuk mengetahui perkembangan anak yang diharapkan sesuai dengan tingkat pencaian perkembangan. Adapun rumus yang digunakan untuk mencari presentasi dalam penilaian ini sebagai berikut :

f

        P  =   N x100%

Keterangan :

f =  frekuensi yang dicari persentasinya

N =  number of cases (Jumlah frekuensi atau banyaknya individu)

P = Angka Persentase

  1. Indikator Keberhasilan

Dalam penelitian ini indikator keberhasilan adalah mengembangkan kemampuan konsentrasi anak hiperaktif di RA Al-Bayyinah. Kemampuan konsentrasi yang dimaksud adalah konsentrasi anak, antusias anak, tanggung jawab, keterampilan mengerjakan tugas. Keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini ditunjukan dengan adanya pengembangan kemampuan konsentrasi anak kearah yang lebih baik. Menurut  Arikunto (2010 : 192), keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila 76% atau lebih mendapat nilai dengan kriteria baik. Hasil yang dicapai anak untuk kemampuan konsentrasi anak hiperaktif melalui metode bermain konstruktif lego sebagai berikut :

  1. Anak mampu konsentrasi dalam ketepatan menyelesaikan tugas

Kriteria baik ditunjukan apabila 76% atau lebih anak atau lebih bisa konsentrasi.

  1. Anak memiliki antusisme dan keberanian menjawab tugas dalam pembelajaran

Kriteria baik ditunjukan apabila 76% atau lebih anak atau lebih memiliki inisiatif untuk melakukan kegiatan belajar tanpa bantuan.

  1. Desain Penelitian

Desain penelitian merupakan rancangan peneliti dalam menghadapi sebuah penelitian dan menjadi panduan penelitian. Seperti yang diutarakan oleh Nazir desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanan penelitian. Tujuan dari desain ini adalah sebagai panduan peneliti dalam penelitian pustaka.

Dalam penelitian ini, maka desain penelitian yang dibuat berdasarkan tahapan-tahapan sebagai berikut :

  1. Menentukan permasalahan
  2. Menyusun perangkat metodologi yang terdiri dari rangkaian metode-metode yang mencakup;
  3. Menentukan metode pengukuran atau prosedur operasional konsep
  4. Menentukan sumber data yang digunakan
  5. Menentukan teknik pengumpulan data
  6. Menentukan metode analisis
  7. Analisis data
  8. Interprestasi data

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dengan mengacu pada penelitian model Kurt Lewin bahwa penelitian tindakan terdiri dari empat komponen pokok yang juga menunjukan langkah yaitu perencanaan atau planning, tindakan atau acting, pengamatan atau observing, dan refleksi atau reflecting.

  1. Kesimpulan

Berdasarkan deskripsi data hasil pengamatan penelitian tindakan dengan menggunakan metode bermain konstruktif lego pada peserta didik RA Al-Bayyinah yang dilaksanakan selama dua siklus, maka dapat disimpulkan :

  1. Kemampuan konsentrasi anak hiperaktif di kelompok B RA Al-Bayyinah Muarasanding Garut Kota masih sangat rendah, hal ini dapat dilihat dalam kegiatan pembelajaran untuk anak, masih ada anak yang tidak mampu konsentrasi dalam menerima materi pembelajaran dari guru. Ditambah dengan kurangnya antusisme anak pada saat pembelajaran juga kurangnya penggunaan media pembelajaran, semakin menambah bukti bahwa kemampuan konsentrasi anak di RA Al-Bayyinah harus ditingkatkan.
  2. Meningkatkan kemampuan konsentrasi anak hiperaktif dikelompok B RA Al-Bayyinah Muarasanding Garut Kota sebelum tindakan dengan persentase 26,33%. setelah diberi tindakan melalui bermain lego Pada siklus I,  kemampuan konsentrasi anak hiperaktif meningkat menjadi 31,50% berada pada kriteria berkembang sesuai harapan. Sedangkan pada siklus 2, kemampuan konsentrasi anak hiperaktif mengalami 89,48% yaitu berada pada kriteria berkembang sesuai harapan. Dengan demikian meningkatkan kemampuan konsentrasi anak hiperaktif di kelompok B RA Al-Bayyinah Muarasanding Garut Kota dapat dikatakan berhasil karena peningkatan kemampuan konsentrasi anak sudah melampaui indikator keberhasilan yang sudah ditetapkan  yaitu 80%.
  3. Saran
    1. Bagi lembaga sekolah

Hendaknya sekolah memberikan pelatihan, sosialisasi dan sarana prasarana bagi guru terkait dengan metode pembelajaran anak usia dini.

  1. Bagi guru

Penelitian ini bisa dipakai sebagai rujukan atau literasi dalam metode pembelajaran aktif anak usia dini.

  1. Bagi Peneliti berikutnya

Untuk peneliti selanjutnya dipersilahkan untuk menggunakan penelitian ini sebagai rujukan atau literasi dalam kegiatan-kegiatan ilmiah dimasa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Mayke S.Tedjasaputra. 2001. Bermain Mainan dan Permainan Untuk Anak Usia Dini. Jakarta: Grasindo.

Nana, Sudjana. 2004. Pendidikan Tindakan Kelas. Bandung: PT Sinar Bumi

Nurul Inova, Vebriani. 2013. Skripsi. Meningkatkan Kreativitas Anak melalui kontruktif Lego. Tidak Diterbitkan. Yogyakarta. UNY

Wina, Sanjaya. 2011. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Prenada media Group

 

E-LEARNING

Pengertian 

Sistem pembelajaran elektronik atau e pembelajaran (Inggris: Electronic learning disingkat E-learning) adalah cara baru dalam proses belajar mengajar. E-learning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan e-learning, peserta ajar (learner atau murid) tidak perlu duduk dengan manis di ruang kelas untuk menyimak setiap ucapan dari seorang guru secara langsung. E-learning juga dapat mempersingkat jadwal target waktu pembelajaran, dan tentu saja menghemat biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah program studiatau program pendidikan.

Plus Minus E-learning

Seperti Sebagaimana yang disebutkan di atas, e-learning telah mempersingkat waktu pembelajaran dan membuat biaya studi lebih ekonomis. E-learning mempermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan/materi, peserta didik dengan dosen/guru/instruktur maupun sesama peserta didik. Peserta didik dapat saling berbagi informasi dan dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang, dengan kondisi yang demikian itu peserta didik dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran.

Dalam e-learning, faktor kehadiran guru atau pengajar otomatis menjadi berkurang atau bahkan tidak ada. Hal ini disebabkan karena yang mengambil peran guru adalah komputer dan panduan-panduan elektronik yang dirancang oleh “contents writer”, designer e-learning dan pemrogram komputer.

Dengan adanya e-learning para guru/dosen/instruktur akan lebih mudah : melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang mutakhir mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna meningkatkan wawasannya mengontrol kegiatan belajar peserta didik.

Kehadiran guru sebagai makhluk yang hidup yang dapat berinteraksi secara langsung dengan para murid telah menghilang dari ruang-ruang elektronik e-learning ini. Inilah yang menjadi ciri khas dari kekurangan e-learning yang tidak bagus. Sebagaimana asal kata dari e-learning yang terdiri dari e (elektronik) dan learning (belajar), maka sistem ini mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Sejarah dan Perkembangan E-learning

E-pembelajaran atau pembelajaran elektronik pertama kali diperkenalkan oleh universitas Illinois di Urbana-Champaign dengan menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (computer-assisted instruction ) dan komputer bernama PLATO. Sejak itu, perkembangan E-learning dari masa ke masa adalah sebagai berikut:

  1. Tahun 1990 : Era CBT (Computer-Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi e-learning yang berjalan dalam PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun multimedia (Video dan AUDIO) DALAM FORMAT mov, mpeg-1, atau avi.
  2. Tahun 1994 : Seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara massal.
  3. Tahun 1997 : LMS (Learning Management System). Seiring dengan perkembangan teknologi internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak , dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul LMS. Perkembangan LMS yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar. Bentuk standar yang muncul misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Commettee), IMS, SCORM, IEEE LOM, ARIADNE, dsb.
  4. Tahun 1999 sebagai tahun Aplikasi E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi e-learning berbasis Web berkembang secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah, dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan multimedia , video streaming, serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data yang lebih standar, dan berukuran kecil.

E-Learning 2.0

Istilah e-Learning 2.0 digunakan untuk merujuk kepada cara pandang baru terhadap pembelajaran elektronik yang terinspirasi oleh munculnya teknologi Web 2.0. Sistem konvensional pembelajaran elektronik biasanya berbasis pada paket pelajaran yang disampaikan kepada siswa dengan menggunakan teknologi Internet (biasanya melalui LMS). Peran siswa dalam pembelajaran terdiri dari pembacaan dan mempersiapkan tugas. Kemudian tugas dievaluasi oleh guru. Sebaliknya, e-learning 2.0 memiliki penekanan pada pembelajaran yang bersifat sosial dan penggunaan perangkat lunak sosial (social networking) seperti blogwiki, podcast dan Second Life. Fenomena ini juga telah disebut sebagai Long Tail learning. Selain itu juga, E-learning 2.0 erat hubungannya dengan Web 2.0, social networking (Jejaring Sosial) dan Personal Learning Environments (PLE).

Manfaat Elearning / E-Learning – Pembelajaran Online via Internet atau Intranet Services.

Semakin banyak perusahaan dan individu yang memanfaatkan e-learning sebagai sarana untuk pelatihan dan pendidikan karena mereka melihat berbagai manfaat yang ditawarkan oleh pembelajaran berbasis web internet ini. Dari berbagai komentar yang dilontarkan, ada tiga persamaan dalam hal manfaat yang bisa dinikmati dari e-learning.

  1. Fleksibilitas
    Jika pembelajaran konvensional di kelas mengharuskan siswa untuk hadir di kelas pada jam-jam tertentu (seringkali jam ini bentrok dengan kegiatan rutin siswa), maka e-learning memberikan fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses pelajaran.
    Siswa tidak perlu mengadakan perjalanan menuju tempat pelajaran disampaikan, e-learning bisa diakses dari mana saja yang memiliki akses ke Internet. Bahkan, dengan berkembangnya mobile technology (dengan palmtop, bahkan telepon selular jenis tertentu), semakin mudah mengakses e-learning. Berbagai tempat juga sudah menyediakan sambungan internet gratis (di bandara internasional dan cafe-cafe tertentu), dengan demikian dalam perjalanan pun atau pada waktu istirahat makan siang sambil menunggu hidangan disajikan, Anda bisa memanfaatkan waktu untuk mengakses e-learning.
  2. Independent Learning

E-learning memberikan kesempatan bagi pembelajar untuk memegang kendali atas kesuksesan belajar masing-masing, artinya pembelajar diberi kebebasan untuk menentukan kapan akan mulai, kapan akan menyelesaikan, dan bagian mana dalam satu modul yang ingin dipelajarinya terlebih dulu. Ia bisa mulai dari topik-topik ataupun halaman yang menarik minatnya terlebih dulu, ataupun bisa melewati saja bagian yang ia anggap sudah ia kuasai. Jika ia mengalami kesulitan untuk memahami suatu bagian, ia bisa mengulang-ulang lagi sampai ia merasa mampu memahami. Seandainya, setelah diulang masih ada hal yang belum ia pahami, pembelajar bisa menghubungi instruktur, nara sumber melalui email atau ikut dialog interaktif pada waktu-waktu tertentu. Jika ia tidak sempat mengikuti dialog interaktif, ia bisa membaca hasil diskusi di message board yang tersedia di LMS (di Website pengelola). Banyak orang yang merasa cara belajar independen seperti ini lebih efektif daripada cara belajar lainnya yang memaksakannya untuk belajar dengan urutan yang telah ditetapkan.

  1. Biaya
    Banyak biaya yang bisa dihemat dari cara pembelajaran dengan e-learning. Biaya di sini tidak hanya dari segi finansial tetapi juga dari segi non-finansial. Secara finansial, biaya yang bisa dihemat, antara lain biaya transportasi ke tempat belajar dan akomodasi selama belajar (terutama jika tempat belajar berada di kota lain dan negara lain), biaya administrasi pengelolaan (misalnya: biaya gaji dan tunjangan selama pelatihan, biaya instruktur dan tenaga administrasi pengelola pelatihan, makanan selama pelatihan), penyediaan sarana dan fasilitas fisik untuk belajar (misalnya: penyewaan ataupun penyediaan kelas, kursi, papan tulis, LCD player, OHP).

Dalam hal biaya finansial William Horton (Designing Web-Based Training, 2000) mengutip komentar beberapa perusahaan yang telah menikmati manfaat pengurangan biaya, antara lain: Buckman Laboratories berhasil mengurangi biaya pelatihan karyawan dari USD 2.4 juta menjadi USD 400,000; Aetna berhasil menghemat USD 3 juta untuk melatih 3000 karyawan; Hewlett-Packard bisa memotong biaya pelatihan bagi 700 insinyur mereka untuk produk-produk chip yang selalu diperbaharui, dari USD 7 juta menjadi USD 1.5 juta; Cisco mengurangi biaya pelatihan per karyawan dari USD 1200 – 1800 menjadi hanya USD 120 per orang. Biaya non-finansial yang bisa dihemat juga banyak, antara lain: produktivitas bisa dipertahankan bahkan diperbaiki karena pembelajar tidak harus meninggalkan pekerjaan yang sedang pada posisi sibuk untuk mengikuti pelatihan (jadwal pelatihan bisa diatur dan disebar dalam satu minggu ataupun satu bulan), daya saing juga bisa ditingkatkan karena karyawan bisa senantiasa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan pekerjaannya, sementara bisa tetap melakukan pekerjaan rutinnya

Sedangkan manfaat pembelajaran elektronik menurut A. W. Bates (Bates, 1995) dan K. Wulf (Wulf, 1996) terdiri atas 4 hal, yaitu:

  • Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance interactivity). Apabila dirancang secara cermat, pembelajaran elektronik dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran, baik antara peserta didik dengan guru/instruktur, antara sesama peserta didik, maupun antara peserta didik dengan bahan belajar (enhance interactivity). Berbeda halnya dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran konvensional dapat, berani atau mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan ataupun menyampaikan pendapatnya di dalam diskusi.
    Mengapa? Karena pada pembelajaran yang bersifat konvensional, kesempatan yang ada atau yang disediakan dosen/guru/instruktur untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat terbatas. Biasanya kesempatan yang terbatas ini juga cenderung didominasi oleh beberapa peserta didik yang cepat tanggap dan berani. Keadaan yang demikian ini tidak akan terjadi pada pembelajaran elektronik. Peserta didik yang malu maupun yang ragu-ragu atau kurang berani mempunyai peluang yang luas untuk mengajukan pertanyaan maupun menyampaikan pernyataan/pendapat tanpa merasa diawasi atau mendapat tekanan dari teman sekelas (Loftus, 2001).
  • Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility). Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja (Dowling, 2002). Demikian juga dengan tugas-tugas kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan kepada instruktur begitu selesai dikerjakan.

Tidak perlu menunggu sampai ada janji untuk bertemu dengan guru/instruktur. Peserta didik tidak terikat ketat dengan waktu dan tempat penyelenggaraan kegiatan pembelajaran sebagaimana halnya pada pendidikan konvensional. Dalam kaitan ini, Universitas Terbuka Inggris telah memanfaatkan internet sebagai metode / media penyajian materi. Sedangkan di Universitas Terbuka Indonesia (UT), penggunaan internet untuk kegiatan pembelajaran telah dikembangkan. Pada tahap awal, penggunaan internet di UT masih terbatas untuk kegiatan tutorial saja atau yang disebut sebagai tutorial elektronikâ (Anggoro, 2001).

  • Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience). Dengan fleksibilitas waktu dan tempat, maka jumlah peserta didik yang dapat dijangkau melalui kegiatan pembelajaran elektronik semakin lebih banyak atau meluas. Ruang dan tempat serta waktu tidak lagi menjadi hambatan. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seseorang dapat belajar. Interaksi dengan sumber belajar dilakukan melalui internet. Kesempatan belajar benar-benar terbuka lebar bagi siapa saja yang membutuhkan.
  • Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities). Fasilitas yang tersedia dalam teknologi internet dan berbagai perangkat lunak yang terus berkembang turut membantu mempermudah pengembangan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan penyempurnaan atau pemutakhiran bahan belajar sesuai dengan tuntutan perkembangan materi keilmuannya dapat dilakukan secara periodik dan mudah.
Di samping itu, penyempurnaan metode penyajian materi pembelajaran dapat pula dilakukan, baik yang didasarkan atas umpan balik dari peserta didik maupun atas hasil penilaian instruktur selaku penanggung-jawab atau pembina materi pembelajaran itu sendiri. Pengetahuan dan keterampilan untuk pengembangan bahan belajar elektronik ini perlu dikuasai terlebih dahulu oleh instruktur yang akan mengembangkan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan pengelolaan kegiatan pembelajarannya sendiri. Harus ada komitmen dari instruktur yang akan memantau perkembangan kegiatan belajar peserta didiknya dan sekaligus secara teratur memotivasi peserta didiknya.

Jurnal Powerpoint

PENGARUH PENGGUNAAN POWERPOINT  TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA PADA BIDANG STUDI  IPA SUB KONSEP ORGAN-ORGAN DALAM SISTEM PERNAPASAN MANUSIA

Endah Jubaedah

Abstrak

Penelitian ini didasarkan pada latarbelakang bahwa relatif rendahnya hasil belajar siswa khususya pada pembelajaran IPA. penelitian ini  untuk menemukan pengaruh yang signifikan dalam penggunaan powerpoint dalam pembelajaran IPA di SMPN 1 Karangtengah. Metode yang digunakan adalah metode penelitian Quasi Eksperiment. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan powerpoint mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar kognitif siswa pada pembelajaran IPA dalam sub konsep organ-organ sistem pernapasan pada manusia.

The study were based on a relatively low background that student learning outcomes especially in natural science learning. The study to find a significant effect in the use of Powerpoint in learning science at SMPN1 Karangtengah. The result showed there is a significant effect on cognitive learning outcomes of students in learning science , this is evidenced by the growing understanding of the concept of the student in the learning process after a given learning with powerpoint

Kata kunci: Powerpoint, Hasil Belajar, IPA, Organ Sistem Pernapasan Manusia, Kognitif

Pendahuluan

Pendidikan merupakan proses kultural yang sangat kompleks yang dapat diguankan sebagai perencanaan kehidupan (Sardiman, 2010:14). Proses pendidikan tidak dapat dipisahkan dari proses pembangunan yang dijarahkan dan bertujuan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang berkalitas dan pembangunan sector ekonomi yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan.

Pada hakikatnya proses belajar mengajar memerlukan suatu cara untuk berinteraksi dengan siswa. Salah satunya  mampu menerapkan metode pembelajaran dan media pembelajaran. Pada kenyataan sebagian guru hanya mampu menerapkan beberapa metode ataupun media pembelajaran. Padahal, untuk menunjang pembelajaran yang bermakna diperlukan penerapan berbagai media pembelajaran dalam mengajar. Akan tetapi penggunaan media pembelajaran yang bervariasi tidak menguntungkan kegiatan belajar mengajar bila pengguanaan tidak tepat dengan situasi lingkungan dan kondisi  psikologi anak didik.

Berdasarkan pengamatan sementara di SMPN 1 Karangtengah Kabupaten Garut ditemukan permasalahan mengenai masih rendahnya prestasi belajar siswa pada pembelajaran IPA Biologi, kegiatan pembelajaran yang masih bersifat konvensional serta belum adanya pemanfaatan media pembelajaran powerpoint. Siswa masih diberikan metode yang masih bersifat lebih pasif seperti metode ceramah sedangkan untuk media hanya berpusat pada media yang bersifat teks seperti buku rujukan.

Rendahnya prestasi dan negatifnya sikap murid khususnya terhadap mata pelajaran IPA adalah disebabkan beberapa hal seperti: kurikulum yang padat, materi pada buku pelajaran yang dirasakan terlalu banyak dan sulit untuk dimengerti, media belajar yang kurang efektif, metode pengajaran yang tradisional dan tidak interaktif, sistem evaluasi yang buruk, dan rendahnya motivasi siswa.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan masalah adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana hasil belajar siswa sebelum menggunakan powerpoint dalam pembelajaran IPA di SMPN 1 Karangtengah?
  2. Bagaimana hasil belajar siswa setelah menggunakan powerpoint dalam pembelajaran IPA di SMPN 1 Karangtengah?
  3. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan dalam penggunaan powerpoint terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA di SMPN 1 Karangtengah?

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan dalam penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui hasil belajar siswa sebelum menggunakan powerpoint dalam pembelajaran IPA di SMPN 1 Karangtengah
  2. Untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah menggunakan powerpoint dalam pembelajaran IPA di SMPN 1 Karangtengah
  3. Untuk menemukan pengaruh yang signifikan dalam penggunaan powerpoint terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA di SMPN 1 Karangtengah

Kajian Literatur

Microsoft powerpoint merupakan sebuah software yang dibuat dan dikembangkan oleh perusahaan Microsoft, dan merupakan salah satu program berbasis multimedia. Didalam komputer, biasanya program ini sudah dikelompokkan dalam program microsoft office. Program ini dirancang khusus untuk menyampaikan presentasi, baik yang diselenggarakan oleh perusahaan, pemerintahan, pendidikan, maupun perorangan, dengan berbagai fitur menu yang mampu menjadikannya sebagai media komunikasi yang menarik.

Darmawan (2012: 162) mengemukakan bahwa powerpoint merupakan office bagi para programer pembelajaran yang sangat menguntungkan. Hal ini dilihat pada versi powerpoint yang semakin maju dengan kelangkapan fitur-fitur yang semakin lengkap.

Jadi Penggunaan program ini pun memiliki kelebihan sebagai berikut:

  1. Penyajiannya menarik karena ada permainan warna, huruf dan animasi, baik animasi teks maupun animasi gambar atau foto.
  2. Lebih merangsang anak untuk mengetahui lebih jauh informasi tentang bahan ajar yang tersaji.
  3. Pesan informasi secara visual mudah dipahami peserta didik.
  4. Tenaga pendidik tidak perlu banyak menerangkan bahan ajar yang sedang disajikan.
  5. Dapat diperbanyak sesuai kebutuhan, dan dapat dipakai secara berulang-uang
  6. Dapat disimpan dalam bentuk data optik atau magnetik. (CD / Disket / Flashdisk), sehingga paraktis untuk di bawa ke mana-mana.

Hasil belajar  berasal dari kata hasil dan belajar. Hasil adalah pendapatan, sesuatu yang diciptakan, sukses. Muhibbin syah (2000: 65) mengatakan bahwa belajar adalah tanggapan perubahan tingkah laku individu yang relatif mnenetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Maka hasil belajar oleh siswa merupakan pengetahuan, pengetahuan, keterampilan serta nilai dan sikap yang diperoleh seseorang setelah terjadi interaksi dengan sumber belajar.

Pada prinsipnya hasil belajar itu merupakan segenap rasa psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dari proses belajar (Syah, 2008 : 150).

Menurut Syah (2006 : 114) faktor- faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat kita bedakan menjadi tiga macam,yakni:

  • Faktor internal (faktor dari dalam siswa, yakni keadaan/ kondisi jasmani dan rohani siswa.
  • Factor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa.

Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan mempelajari materi- materi pelajaran

Menurut taksonomi Bloom (Sudjana, 2004: 55-55) ada tiga ranah (wilayah) yang berhubungan degan pengembangan indiivdu dalam proses belajar untuk mendapat perubahan dan pengembangan potensi diri yang dimiliki sehingga dapat diperoleh karakteristik tingkah laku yang sesuai dengan tujuan yang dikehendaki yakni:

  1. Ranah kognitif (intelektual), meliputi : ilmu pengetahuan (pengenalan, perseptual, dan ingatan), pemahaman, aplikasi dan penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi
  2. Ranah apektif (sikap), meliputi : penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi
  3. Ranah psikomotor (keterampilan), meliputi : gerakan reflex, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perceptual, keharmonisan dan ketepatan, gerakan keterampilan kompleks dan gerakan ekspresif dan interpretative

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuanyang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan. Di tingkat SMP/MTs diharapkan ada penekanan pembelajaran Salingtemas (Sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana.

Menurut mata pelajaran IPA di SMP/MTs bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

  1. Meningkatkan keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya.
  2. Mengembangkan pemahaman tentang berbagai macam gejala alam, konsep dan prinsip IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran terhadap adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat
  4. Melakukan inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bersikap dan bertindak ilmiah serta berkomunikasi
  5. Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara, menjaga, dan melestarikan lingkungan serta sumber daya alam
  6. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan
  7. Meningkatkan pengetahuan mengenai konsep, dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.

Untuk materi organ tubuh sistem pernapasan manusia ini bertujuan sebagai berikut:

  1. Siswa dapat menyebutkan Struktur organ-organ  pernapasan pada manusia
  2. siwa dapat menjelaskan Fungsi organ pernapasan pada manusia
  3. Guru dapat menggunakann powerpoint dalam materi organ tubuh sistem pernapasan manusia
  4. Guru dapat mengembangkan powerpoint dalam materi organ tubuh sistem pernapasan manusia
  5. guru dan siswa dapat menetahui hikmah dibalik lengkapnya organ tubuh yang dimiliki manusia dengan penuh rasa syukur terhadap-Nya.

Pada penelitian ini materi yang disajikan tentang Organ-organ pernapasan manusia. Bernapas adalah  salah atu ciri makhluk hidup. Bernapas merupakan uapaya makhluk hidup untuk memasukkan gas oksigen ke dalam tubuh dan mengeluarkan gas karbon dioksida ke luar tubuh. Untuk bernapas manusia mempunyai alat atau organ pernapasan.

Organ respirasi (pernafasan) pada manusia dibedakan menjadi saluran pernafasan dan paru-paru beserta alveolusnya. Saluran pernafasan terdiri dari hidung, pharinx bagian epiglotis, larynx (tenggorokan), trache, dan bronchus dengan bronkeolusnya.

Organ atau alat pernapasan pada manusia terdiri dari hidung, pangkal tenggorokan, batang tenggorokan, cabang batang tenggorokan, dan paru-paru. (Syamsuri, 2007: 85)

Metodologi Penelitian

Pendekatan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kuantitatif. Menurut Arikunto (2006: 12) Pendekatan secara kuantitaif merupakan pendekatan yang banyak dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya. Dengan pedekatan ini mereka (Para peneliti) akan mendapatkan hasil penelitiannya secara terperinci.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian eksperimen. Bentuk metode eksperimen yang digunakan adalah dengan menggunakan bentuk, yaitu (quasi experiment). Menurut Sukmadinata ( 2010: 59) Quasi eksperiment pada dasarnya hampir sama dengan eksperiment murni, bedanya adalah dalam pengontrolan variabel.

Dalam penelitian ini desain yang digunakan adalah one group pretest-postest design. Di dalam desain ini tes dilalukan sebanyak dua kali yaitu sebelum dan sesudah experiment. Sebelum experiment (T1) disebut pretest dan sesudah eksperimen (T2) disebut posttest.  Menurut (Sogiyono, 2006: 110 – 111) Bentuk desain ini  hasil penelitian dapat diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum di beri perlakuan.

Menurut (Sanjaya, 2013: 103) Bentuk Desain ini dapat dilihat di bawah ini:

Prates                          Perlakuan                                Pascates

T1                                        X                                           T2

 

 

Gambar 2.  Desain kelompok Tunggal  denganPra dan Pascates  (Sanjaya, 2013: 103)

Tabel 1.

Kelebihan Dan Kekurangan Desain One Group Pretest Postest

Kelemahan Kelebihan
–          Tidak ada jaminan bahwa X adalah satu-satunya faktor atau bahkan faktor utama yang menimbulkan perbedaan antara T1 dan T2.

–          Ada beberapa hipotesis tandingan yang mungkin diajukan

1.      History: selama mendapat perlakuan sebagian subjek pindah ke rumah yang lebih baik atau orangtua mereka lebih menaruh perhatian terhadap kegiatan belajar mereka

2.      Maturation: kenyataan bahwa mereka menjadi lebih, atau menjadi kurang menaruh perhatian, atau menjadi lebih antusias.

–          Pretest itu memberi landasan untuk membuat komparasi prestasi subjek yang sama sebelum dan sesudah dikenai X (experimental treatment).

–          Rancangan ini juga memungkinkan untuk mengontrol selection variable dan morality variable, jika subjek yang sama mengambil T1dan T2 kedua-duanya.

Sumber : http://senidanrupa.blogspot.com/2013/04/desain-penelitian.html {05.45 03 Desember 2013)

Variabel penelitian:

  1. Variabel Bebas (X) sering disebut juga variabel Independent, yaitu variabel yang mempengaruhi variable lain, adapun variabel (X) ini adalah Penggunaan media powerpoint
  2. Variabel Terikat (dependent) atau Y adalah Hasil belajar.

Data yang diperoleh yaitu dari siswa kelas VIII, maka populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelasVIII di SMPN 1 Karangtengah.  Untuk sampel penelitian, Menurut Arikanto (2006: 131) sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dalam penelitian sampel diambil dari populasi yaitu 1 kelas siswa kelas VIII SMPN 1 Karangtengah serta di ambil tehnik samplingnya secara simple random sampling

Untuk pengumpulan data serta pengolahannya tentang variabel yang akan diteliti maka kegiatan penelitian ini digunakan intsrumen. Menurut Arikunto (2006: 160) instrument penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah. Adapun instrument yang digunakan adalah tes dan angket.

Dalam tahap analisis data penelitian, data yang dihasilkan penelitian ini dalam bentuk tes. Untuk tes yang digunakan adalah tes pretest dan posttest. Sebelum tes- tes ini disajikan atau diberikan kepada siswa, soal ini perlu diuji cobakan terlebih dahulu.Hal ini diperlukan karena untuk mengetahui tingkat kesukaran, validitas  dan reliabilitas soal.

Dalam penelitian ini pengolahan data dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif yaitu melalui metode quasi eksperimen. Metode analisis data yang digunakan untuk menguji objek penelitian ini menggunakan uji statistik, dengan menggunakan bantuan program aplikasi Microsoft Exel.

Untuk menganalisa data dilakukan dengan analisa statistik untuk data kuantitatif, sebagai berikut:

  1. Uji Normalitas

Untuk menguji normalitas distribusi tiap kelompok sampel dilakukan uji chi kuadrat

  1. Uji t  ( ujihipotesis)
  1. Menentukan normalitas sebaran data
  2. Menentukan t hitung
  3. Menentukan derajat kebebasan (db)
  4. Menentukan nilai t dari table
  5. Pengujian hipotesis

Untuk uji dua pihak  Kriteria :

jika thitung  < t(1-α) (db), maka Ho diterima

jika thitung > t(1-α) (db), maka Ho ditolak

Hasil Penelitian Dan Pembahasan

Pada penelitian ini digunakan penelitian Quasi Eksperimental design dengan model one group pretest – posttest design. Model ini kelompok tidak diambil secara acak atau pasangan, juga tidak ada kelompok pembanding tetapi di beri tes awal tes akhir disamping perlakuan.

Untuk mengetahui peningkatan rata- rata skor tes sebelum dan sesudah perlakuan, diperoleh dengan membandingkan hasil pretest dan postest. Pretest adalah tes awal yang dilakukan sebelum proses pembelajaran, sedangkan postest adalah tes akhir setelah proses pembelajaran belangsung. Dari hasil pretest dan postest akan di peroleh selisih (gain) antara keduanya. Gain yang sudah dihitung dengan menggunakan uji t yang merupakan salah satu yang menunjukan seberapa besar pengaruh penggunaan powerpoint terhadap hasil belajar kognitif siswa sebelum dan sesudah setelah pembelajaran berlangsung

  1. Hasil Belajar Kognitif Siswa Sebelum Menggunakan Powerpoint Dalam pembelajaran IPA (Hasil Pretest)

Data yang diperoleh dari hasil pretest sebelum di analisis terlebih dahulu dihitung dengan menggunakan statistik berikut ini:

Tabel 2.

Hasil Perhitungan Pretest

No Statistik Jumlah
1 N 31
2 1050
3 X 33,87

Keterangan:

N          : Jumlah seluruh peserta pretest

∑          : Jumlah nilai pretest seluruh siswa

X          : Nilai rata- rata pretest

Setelah didapatkan nilai siswa dari uji pretest kemudian di uji normalitasnya dari sebaran data tersebut dan diperoleh bahwa hasil belajar siswa sebelum pembelajaran berdistribusi normal dan mempunyai nilai x2 hitung < x2 tabel (Subana, 2005 : 132) atau 6,757 < 11,34.

  1. Hasil Belajar Kognitif Siswa Setelah Menggunakan Powerpoint Dalam pembelajaran IPA (Hasil postest)

Data yang diperoleh dari hasil postest sebelum dianalisis terlebih dahulu dihitung dengan menggunakan statistik sebagai berikut:

Tabel 3.

Hasil Perhitungan Postest

No Statistika Jumlah
1 N 31
2 2210
3 X 71,29

 

Keterangan:

N          : Jumlah seluruh peserta postest

∑          : Jumlah nilai postest seluruh siswa

X          : Nilai rata- rata postest

Setelah didapatkan nilai siswa dari uji postest kemudian di uji normalitasnya dari sebaran data tersebut dan diperoleh bahwa hasil belajar siswa sesudah pembelajaran berdistribusi normal dan mempunyai nilai x2 hitung < x2 tabel (Subana, 2005 : 132) atau 8,884 < 11,34.

Data – data hasil belajar kognitif siswa dalam mata pelajaran IPA Biologi khususnya sub konsep organ sistem pernapasan pada manusia yang dikumpulkan dalam penelitian dengan pemberian soal tes kemampuan awal (pretest) dan tes kemampuan akhir (postest) siswa.

Pretest diberikan kepada siswa sebelum dimulai pembelajaran, sedangkan postest diberikan pada akhir pembelajaran dengan tujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana hasil belajar siswa terhadap bahan pelajaran setelah mengalami kegiatan pembelajaran dengan menggunkan powerpoint. Dengan jumlah tes dan bentuk tes yang sama dengan pretest.

Data yang diperoleh dari nilai pretest dan nilai postest dapat dipakai untuk mendapatkan nilai gain (selisih) yaitu dengan cara mengurangi nilai postest masing- masing siswa dengan nilai pretest. Maka perlakuan seperti itu dapat di lihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 4

Rekapitulasi Nilai Pretest, Posttest dan  Gain 

Pretest Postest Gain
Skor Presentase Skor Presentase Skor Presentase
Jumlah (∑) 1050 2210 1160
Rata- rata(X) 33,87 33,87% 71,29 71,29% 37,41 37, 41%

Berdasarkan tabel rekapitulasi nilai pretest dan postest siswa pada sub konsep organ-organ dalam sistem pernapasan manusia dengan menggunakan powerpoint dapat diketahui nilai rata – rata pretest sebesar 33,87 dengan presentase 33,87%, nilai rata- rata postest  sebesar 71,29 dengan presentase 71,29% dan nilai gain sebesar 37,41 dengan presentase 37,41%. Dengan nilai tersebut dapat diketahui penggunaan pada bidang studi IPA dalam sub konsep organ-organ system pernapasan manusia dapat meningkatkan hasil belajar kognitif siswa sebesar 37,41%. Aspek yang paling meningkat sangat baik adalah pada hasil nilai- nilai postest. Peningkatan tersebut dapat terjadi dari gabungan proses antara pengerjaan latihan, dan tanya jawab. Hal ini menunjukan bhwa proses pembelajaran dapat dikatakan berhasil.

Selain itu, untuk mengetahui lebih jelas ada tidaknya pengaruh penggunaan powerpoint terhadap hasil belajar kognitif siswa perlu dilakukan perhitungan uji t dengan kriteria jika t hitung > t tabel atau 20,35 > 2,475. Maka dapat disimpulkan terdapat peningkatan yang signifikan raihan skor IPA Biologi pada sub konsep organ-organ dalam sistem pernapasan pada manusia antara pretest, posttest, dan gain (Subana, 2005 : 132).

Data untuk mengetahui sejauhmana respon siswa pada penggunaan powerpoint pada pembelajaran IPA sub konsep organ-organ sistem pernapasan manusia yaitu dengan skala likert yang tujuannya untuk mengidentifikasi kecenderungan atau sikap orang. Bentuk skala ini menampung pendapat yang mencerminkan sikap sangat setuju, setuju, ragu- ragu, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Rentang skala ini diberi skor 1 sampai 5. Aspek yang digunakan mencangkup tanggapan tentang powerpoint  pada sub konsep organ-organ pada sistem pernapasan manusia, apersepsi, aktivitas, penugasan dan evaluasi. Jumlah seluruh item pernyataan adalah 20 pernyataan dengan 5 aspek.

Hasil penelitian yang di peroleh mengenai respon siswa pada sub konsep orga-organ pada sistem pernapasan manusia dengan menggunakan powerpoint adalah sebagai berikut:

Tabel 4.2

Respon Siswa Terhadap Penggunaan Powerpoint Pada Pembelajaran IPA Sub Konsep Organ-Organ Sistem Pernapasan Manusia

 

 

No

 

 

Pernyataan

Sangat Setuju Setuju Ragu- Ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju
SS S RR TS STS
% % % % %
1 Powerpoint 21,90% 19,30% 6,90% 16,90% 12,50%
2 Apersepsi 17,50% 25,60% 11,90% 15,60% 6,90%
3 Aktivitas 25,60% 15% 11,30% 13,80% 11,80%
4 Penugasan 13,80% 29,40% 11,80% 11,90% 10,60%
5 Evaluasi 18,10% 27,50% 13,10% 10% 8,80%

 

Dari tabel 4.8 diatas dapat diketahui rata- rata jawaban siswa dari tiap aspek adalah setuju (S), dan yang paling banyak menjawab setuju adalah pada aspek penugasan yaitu sebesar 29,40%. Artinya pembelajaran dengan menggunakan powerpoint yang penugasannya banyak di tanggapi dengan baik dapat diterima oleh siswa, dan pada umumnya siswa memahami konsep powerpoint yang diberikan guru mengenai organ-organ pada system pernapasan manusia. Maka sikap / tanggapan siswa terhadap pembelajaran IPA dengan menggunakan powerpoint dapat di katakan tinggi.

Peningkatan rata- rata persentase minat siswa dalam pembelajaran menggunakan powerpoint dengan sub konsep Organ-organ pada sistem pernapasan manusia dengan kualifikasi jawaban adalah setuju per aspek. Hal ini menunjukan powerpoint dapat di pahami dengan baik.

Pengujian hipotesis dilakukan dengan ketentuan : “ Tolak Ho” jika t hitung > t tabel. Dari hasil perhitungn diketahui t hitung  20,35 > t tabel 2,475; dengan demikian Ho di simpulkan bahwa pada tingkat kepercayaan 99% “Penggunaan powerpoint mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar kognitif siswa pada pembelajaran IPA dalam sub konsep organ-organ system pernapasan pada manusia”

Berdasarkan data dari hasil penelitian, data yang terkumpul berupa data kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari hasil angket sedangkan kuantitatif diperoleh dari hasil jawaban pada pretest dan posttest. Data tersebut kemudian dianalisis secara posttest dan dari keduanya di deskripsikan sehingga diperoleh suatu kesimpulan.

Sebelumnya data dari penelitian dari instrument soal harus di validitas dan reliabilitas. karena dengan menggunakan instrument yang valid dan reliable dalam pengumpulan data, maka diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan reliable. Menurut Arikunto (2006:173) instrument yang valid dan reliabel merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliabel.

Setelah kita ketahui hasil instrument yang valid dan reliable akan kita ketahui daya  pembeda dan tingkat kesukaran instrument tersebut. Dengan hasil tersebut uji normalitas sola pretest posttest baru kita analisis. Hal ini dilakukan agar kita tahu baru data yang dihasilkan berdistribusi normal atau tidak normal.

  1. Hasil Belajar Kognitif Siswa Dengan Menggunakan Powerpoint Pada Pembelajaran IPA

Dari data hasil belajar kognitif siswa berdasarkan grafik 3.1 dapat di lihat nilai rata- rata pretest adalah 33,87%, nilai rata-rata postest  adalah 71,29 sedangkan nilai rata- rata gain adalah 37,41%. Setelah dilakukan analisis data uji t menunjukan hasil belajar kognitif siswa dalam sub konsep organ-organ pada system pernapadsan manusia dengan menggunakan powerpoint mengalami peningkatan dan berpengaruh terhadap hasil belajar yaitu dengan nilai t hitung > t tabel atau 20,35 > 2,475. Maka dapat disimpulkan terdapat peningkatan yang signifikan raihan skor IPA pada sub konsep organ-organ pada ostte pernapasan manusia dengan menggunakan powerpoint antara pretest, posttest dan gain (Subana, 2005 : 132).

Menurut Ramlan Desma (2013) dalam penelitiannya pengaruh penggunaan macromedia lash, program powerpoint  dan peta konsep terhadap hasil belajar kimia pada pokok  bahasan hidrokarbon, penggunaan program ini pun memiliki kelebihan  sebagai berikut : (a). Penyajiannya  menarik karena ada permainan warna,  huruf dan animasi baik animasi teks  maupun animasi gambar atau foto. (b). Lebih merangsang anak untuk mengetahui  lebih jauh informasi tentang bahan ajar  yang tersaji. (c). Pesan informasi secara  visual mudah dipahami peserta didik. Hal ini menunujkkan bahwa powerpoint dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

  1. Pengaruh Penggunaan Powerpoint Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran IPA Di SMPN 1 Karangtengah

Berdasarkan tabel rekapitulasi nilai pretest dan postest  diatas siswa pada sub konsep organ-organ dalam sistem pernapasan manusia dengan menggunakan powerpoint dapat diketahui nilai rata – rata pretest sebesar 33,87 dengan presentase 33,87%, nilai rata- rata postest  sebesar 71,29 dengan presentase 71,29% dan nilai gain sebesar 37,41 dengan presentase 37,41%. Dengan nilai tersebut dapat diketahui penggunaan pada bidang studi IPA dalam sub konsep organ-organ system pernapasan manusia dapat meningkatkan hasil belajar kognitif siswa sebesar 37,41%.

Sedangkan Dari tabel 4.8 diatas dapat diketahui rata- rata jawaban siswa dari tiap aspek adalah setuju (S), dan yang paling banyak menjawab setuju adalah pada aspek penugasan yaitu sebesar 29,40%. Artinya pembelajaran dengan menggunakan powerpoint yang penugasannya banyak di tanggapi dengan baik dapat diterima oleh siswa, dan pada umumnya siswa memahami konsep powerpoint yang diberikan guru mengenai organ-organ pada system pernapasan manusia. Maka sikap / tanggapan siswa terhadap pembelajaran IPA dengan menggunakan powerpoint dapat di katakan tinggi. Darmawan (2012: 162) mengemukakan bahwa powerpoint merupakan office bagi para programer pembelajaran yang sangat menguntungkan. Hal ini dilihat pada versi powerpoint yang semakin maju dengan kelangkapan fitur-fitur yang semakin lengkap.

Dari data dan penjelasan diatas membuktikan bahwa penggunaan powerpoint mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap  hasil belajar kognitif siswa pada pembelajaran IPA di SMPN 1 Karangtengah. Terbukti pula bahwa powerpoint dapat meningkatkan hasil belajar siswa, karena siswa menjadi lebih dapat memahami  dan menerapkan konsep dari organ-organ pada sistem pernapasan manusia. Untuk itu  (Ha)  Diterima dan (Ho) ditolak. Jadi Terdapat pengaruh dalam penggunaan media powerpoint terhadap peningkatan hasil belajar kognitif siswa pada pokok bahasan organ-organ pada sistem pernapasan manusia.

Simpulan dan Saran

Berdasarkan hasil penelitian mengenai Penggunaan Powerpoint Terhadap peningkatan hasil belajar kobnitif siswa pada bidang studi  IPA Sub Konsep Organ-Organ Sistem Pernapasan Manusia di SMPN 1 Karangtengah, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Hasil belajar siswa sebelum menggunakan powerpoint dalam pembelajaran IPA di SMPN 1 Karangtengah rendah
  2. Hasil belajar siswa setelah menggunakan powerpoint dalam pembelajaran IPA di SMPN 1 Karangtengah baik.
  3. Terdapat pengaruh yang signifikan dalam penggunaan powerpoint terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA di SMPN 1 Karangtengah

Dari simpulan diatas menunjukan bahwa secara empirik terdapat pengaruh yang signifikan dalam penggunaan powerpoint terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA di SMPN 1 Karangtengah.

Berdasarkan hal tersebut rekomendasinya sebagai berikut:

  1. Bagi Sekolah

Disarankan agar sekolah bisa memilih alternative media yang lebih bisa meningkatkan hasil belajar dan motivasi siswa dalam tiap pembelajaran, khususnya pembelajaran IPA.

  1. Bagi guru

Guru IPA hendaknya menggunakan powerpoint dalam pembelajaran IPA khususnya bada sub konsep organ-organ pada sistem pernapasan manusia.

  1. Bagi siswa

Siswa hendaknya lebih termotivasi dan semangat dalam pembelajaran IPA khususnya sub konsep organ-organ pada sistem pernapasan manusia.

Daftar Pustaka

Arikunto. (2006). Prosedur Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara

Arikunto. (2009). Dasar- Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Darmawan.  (2012). Teknologi pembelajaran. Bandung:  PT. Rosdakarya

Ketut Suarningsih. (2013). Fungsi dan kegunaan Microsoft word . (Online), tersedia: http://ktsuarningsih.wordpress.com/2013/01/12/fungsi-dan-kegunaan-microsoft-word/ (Januari 12 2013)

Muhibbin Syah.  ( 2006). Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Muhibbin Syah. (2008). Psikologi Pendidikan (Pendekatan Baru). Bandung:  PT. Rosdakarya

Nana Sudjana. (2004). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Rosdakarya.

Qurotul Novida  Priyanti. (2013) Proposal. (Online). Tersedia:  http://www.slideshare.net/QurotulNovidaPriyanto/fix-proposal [12.2013]

Sanjaya. (2013). Penelitian Pendidikan.  Jakarta: Prenada Media Group

Subana. (2005). Statistik Pendidikan.  Bandung: Pustaka Setia

Sugiyono. (2006). Metode Penelitian Pendidikan, Bandung, Alfabeta..

Suharsimi Arikunto. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Pratik, Jakarta: Rineka Cipta

Sukmadinata. ( 2010). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Usman. (2009). Menjadi Guru Professional. Bandung,:Rosdakarya.

———–. Alat Pernapasan Manusia. http://biologilma.blogspot.com/2011/02/alat-pernapasan-manusia.html{20.01 06desember2013}