Secara tradisi, Islam menolak penggunaan simbol-simbol yang berhubungan dengan tokoh sentral pembawa risalah, yaitu Rasulullah Muhammad SAW., baik simbol berupa gambar atau dalam bentuk patung atau bentuk visual lainnya. Hal serupa juga terjadi pada agama Yahudi yang secara tradisi mempertahankan dan mengajarkan sistem keyakinan dan peribadatan iconoclastme, yaitu sistem peribadatan atau keyakinan yang menolak visualisasi sang pembawa risalah dan juga objek sesembahannya (Tuhan), baik visualisasi berupa gambar atau patung. Oleh karena itu ketika muncul karikatur atau visual apapun bentuknya yang menyangkut nabi Muhammad, akan menemui penolakan dari kaum muslimin, karena dianggap tidak sejalan dengan tradisi dan ajaran Islam yang benar.
Realitas historis pengalaman agama-agama (Hindu, Budha, Kristen dan Konghuchu) yang tampil mendahului Islam telah menjadi pijakan dan pedoman bagi para ulama terdahulu yang kemudian berijma’ untuk menjauhkan Islam dari penggunaan visualisasi Muhammad, yaitu agar agama Islam tidak terseret dan tidak terjebak pada “pensucian” dan pengkultusan kepada muhammad atau pengilahian kepada muahammad, sebagaimana yang dialami oleh agama-agama pendahulunya. Bahkan pada kelompok Islam tertentu, seperti kaum salaf, umpamanya, menghindari penyebutan istilah “sayyid” kepada Muhammad, karena istilah sayyid, identik dengan sebutan para Pendeta di kalangan Kristiani Arab yang disebut al-Ruhban atau rahib. Tentu tujuan utamanya bukan sekedar itu, tapi akibat yang mungkin terjadi manakala hal itu diucapkan secara kaprah yang bisa menimbulkan salah paham, terutama bagi kalangan yang masih awam. Dengan kata lain bila istilah sayyid disebutkan secara kaprah, tidak mustahil akan menimbulkan persepsi mengenai posisi Muhammad sebagai mana para pendeta yang dikuduskan dan dikultuskan. Bila ini terjadi maka tidak menutup kemungkinan juga, secara dinamis akan berkembang dan merubah orientasi keyakinan dan peribadatan umat Islam bukan pada Tuhan Allah, tapi berbelok kepada Muhammad. Hal ini lah yang ingin dihindari oleh umat Islam terkait penyebutan istilah sayyid kepada Muhammad, begitu juga yang berkaitan dengan visualisasi Nabi Muhammad, agar terhindar dari pengkultusan pada nabi atau pengilahiannya.