Provokasi “Benturan Peradaban”
Film Innocence of Muslims (kesucian umat Islam) merupakan produk budaya yang bertolak dari ketakutan dan kebencian, yaitu ketakutan dan kebencian Barat terhadap Islam, atau Islamophobia, kata Amin Rais. Islamophobia adalah penyakit mental akut dan menahun yang telah mendera Dunia Barat ketika bersinggungan dengan Islam. Bahkan gejala Islamophobia ini di Barat sudah muncul sejak perang salib, dan semakin menguat pada abad XIX. Hal itu karena semakin disadari banyaknya warga atau masyarakat Barat yang tertarik dan memeluk agama Islam. Sehingga mereka khawatir munculnya gelombang konversi keyakinan masyarakat Barat ke dalam Islam. Maka segala cara mereka lakukan untuk menghinakan dan menelanjangi Islam, agar tercipta opini publik Barat akan kebusukan Islam. Pada dekade 80-an, umpamanya, Salman Rusydi, seorang kebangsaan Inggris menulis sebuah buku berjudul “Satanic Verses” yang isinya jelas-jelas menistakan kitab suci al-Qur’an sebagai kitab yang berisi ayat-ayat setan. Apalagi pelecehan dalam bentuk karikatur nabi Muhammad sudah berulang untuk sekian kalinya, sampai akhirnya muncul dalam bentuk sajian film “innosence of Muslim”, yang secara transparan dan tidak ragu-ragu lagi menghina Islam dan kaum muslimin sejadi-jadinya.
Menurut hemat penulis, bahwa semakin menguatnya sentimen Barat terhadap Islam akhir-akhir ini, yang ditandai dengan beredarnya film “Innosence of Muslims” yang sengaja menista Islam, berikut pembuatan karikatur Nabi Muhammad, tidak bisa dilepaskan dari provokasi tesis “The clash of Cilization” yang dikemukakan Huntington di awal dekade 90-an.
Provokasi itu bisa disima dari pernyataan Huntington tentang tesis “benturan peradaban” tersebut. Dalam tesisnya, Huntington mengemukakan bahwa identitas peradaban akan semakin penting di masa depan, dan dunia akan dibentuk sebagian besar oleh interaksi antara tujuh atau delapan peradaban besar, yakni Barat, Konfosius, Jepang, Islam, Hindu, Ortodok Slavia, dan Amerika Latin. Namun dari sekian peradaban tersebut, Islam dianggap paling digdaya atau berbahaya bagi kelangsungan peradaban Barat.
Dalam dunia baru tersebut, tegas Huntington, konflik-konflik yang paling mudah menyebar dan sangat penting sekaligus paling berbahaya bukanlah konflik antarkelas sosial, tetapi konflik antara orang-orang yang memi¬liki entitas-entitas budaya yang berbeda-beda. Selain Huntington, beberapa sarjana Barat juga membumbui tesis tersebut, diantaranya adalah Vaclav Havel dan Jacques Delors. Menurut keduanya, “konflik-konflik yang terjadi di masa yang akan datang lebih disebabkan oleh faktor-faktor budaya daripada fak¬tor-faktor ekonomi ataupun ideologi.”