Pendekatan ini tentu berpotensi menimbulkan konflik, kekerasan dan kekejian yang mendera penduduk dunia. Dalam konteks inilah Amatya Sen melakukan analisis kritis atas berbagai mainstream teori sosial yang berbicara mengenai masalah indentitas. Ia mencoba melawan kemacetan berfikir dan menawarkan kondisi sosial masa depan yang lebih damai dan lebih baik. Pendekatan soliteris ini membuka jalan bagi lahirnya kesalahpahaman di antara hampir setiap orang di dunia.
Sen melihat tesis “benturan antar peradaban” berpijak dari ide dasar sistem klasifikasi tentang penduduk dunia berdasarkan peradaban dan agama (dengan pendekatan soliteris terhadap identitas manusia), dimana berbeda tajam dengan pengelompokan atas dasar kebangsaan dan kelas yang lebih dulu muncul.
Sen, dalam makalahnyan mengemukakan bahwa terdapat dua kelemahan tentang penjelesan berbasis peradaban dalam melihat berbagai peristiwa dunia kontemporer. Pertama, kelemahan yang paling mendasar terletak pada digunakannya satu bentuk yang ambisius dari ilusi tentang ketunggalan identitas. Maksudnya bahwa klasifikasi tunggal tentang identitas manusia merupakan satu-satunya sistem yang sesuai. Dalam hal ini, Sen masih mempertanyakan “apakah memang peradaban itu saling berbenturan? Kelemahan kedua, menurut Sen adalah betapa serampangannya karakterisasi yang diberikan kepada peradaban-peradaban dunia. peradaban-peradaban itu dianggap homogen dan jumud, padahal analisa empiris terhadap masa lalu dan masa kini tidak menunjukkan kecenderungan demikian. Berbagai keragaman penting diabaikan begitu saja, sementara interaksi antar peradaban tersebut secara substansial dilupakan.