Tesis Huntington
Pada akhir 1980-an, dunia komunis berada di ambang kehancuran, dan Perang Dingin menjadi catatan sejarah. Setelah berakhirnya Perang Dingin, menurut Huntington, yang menjadi persoalan terpenting dunia bukanlah persoalan-persoalan ideologis, politis, ataupun persoalan ekonomi, tetapi persoalan budaya. Masyarakat dan negara berusaha menemukan jawaban atas persoalan manusia yang paling mendasar: Siapakah kita? Dan mereka menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut melalui cara-cara tradisional, sebagaimana dilakukan oleh umat manusia pada umumnya, dengan mengacu pada sesuatu yang dipandang paling bermakna bagi mereka. Orang-orang saling mengidentikkan diri melalui asal-usul (keturunan), agama, bahasa, sejarah, nilai-nilai, adat- kebiasaan, dan institusi-institusi. Mereka mengidentifikasikan diri dengan berbagai kelompok budaya: suku-suku bangsa, kelompok-kelompok etnis, komunitas-komunitas keagamaan, kebangsaan, dan pada wilayah yang paling luas, peradaban-peradaban.[2]
Menurutnya,[3] identitas peradaban akan semakin penting di masa depan, dan dunia akan dibentuk sebagian besar oleh interaksi antara tujuh atau delapan peradaban besar. Yakni Barat, Konfosius, Jepang, Islam, Hindu, Ortodok Slavia, Amerika Latin, dan mungkin juga Afrika. Namun dari sekian peradaban tersebut, Islam dan Konfosius dianggap paling digdaya atau berbahaya bagi kelangsungan peradaban Barat. Konflik terpenting di masa yang akan datang akan terjadi sepanjang garis pemisah budaya yang saling memisahkan peradaban-peradaban ini. Dalam dunia baru ini, politik lokal adalah etnisitas; politik global adalah peradaban. Persaingan antara negara-negara adidaya digantikan oleh adanya benturan antarperadaban.[4]
Dalam dunia baru tersebut, tegas Huntington, konflik-konflik yang paling mudah menyebar dan sangat penting sekaligus paling berbahaya bukanlah konflik antarkelas sosial, antara golongan kaya dengan golongan miskin, atau antara kelompok-kelompok (kekuatan) ekonomi lainnya, tetapi konflik antara orang-orang yang memiliki entitas-entitas budaya yang berbeda-beda.[5] “Konflik-konflik kultural,” menurut Vaclav Havel, “semakin meningkat dan berbahaya dibanding waktu-waktu sebelumnya,”[6] dan Jacques Delors menyatakan bahwa “konflik-konflik yang terjadi di masa yang akan datang lebih disebabkan oleh faktor-faktor budaya daripada faktor-faktor ekonomi ataupun ideologi.” Konflik kultural yang paling berbahaya terjadi di sepanjang garis persinggungan antar peradaban.[7]