Sesunggunya secara konseptual, menurutnya, tesis benturan antar peradaban ini Cuma menumpang belaka pada kategorisasi tunggal sejalan dengan apa yang disebut sebagai garis-garis peradaban. Padahal garis peradaban itu sendiri ternyata ditarik mengikuti pemilahan berdasarkan agama semata dan menjadi satu-satunya aspek yang diacu sebagai dasar pengamatan. Huntington membuat kontras tajam antara “peradaban Islam”, “peradaban Hindu”, “peradaban Budha”, dsb. Asumsi tentang adanya konfrontasi antar agama ini dicakupkan ke dalam pandangan yang dibangun secara srampangan mengenai keterpisahan yang dominan dan kukuh.[17]
- Pandangan Reduksionis
Kritik Sen kedua berkenaan dengan pandangan reduksionistis tentang afiliasi tunggal identitas tunggal. Illusi tentang identitas tunggal, menurut Sen, jauh lebih memecah belah dari pada beragamnya jenis-jenis klasifikasi yang mencirikan dunia tempat tinggal kita. Kelemahan mencolok kategorisasi tunggal yang tanpa pilihan ini sungguh-sungguh berdampak pada melemahnya daya dan jangkauan nalar sosial politik kita. Ia menilai bahwa nilai kemanusiaan kita ditantang secara kasar manakala keragaman di antara kita dipampatkan ke dalam satu sistem kategorisasi tunggal yang semena-mena.
Kritik Sen mendapatkan konteksnya di saat dunia yang kita huni ini tidak pernah surut dari konflik dan pertikaian berbasis identitas. Pengalaman masa kecil Sen di tahun 1940-an menyaksikan kematian seorang Muslim dalam kerusuhan komunal di Bengala antara warga Hindu dan dan Muslim mungkin juga menjadi bagian dari kekhidupan kita ini. Di sini kita juga menyaksikan tragedi irasionalitas Bom bali, konflik Poso dan Ambon, konflik Dayak-Madura yang berkembang dari keterpisahan identitas yang sangat kukuh.[18]