Kelima, karakteristik dan berbedaan budaya kurang bisa menyatu dan karena itu kurang bisa kompromi dibanding karakteristik dan perbedaan politik dan ekonomi. Lebih dari etnisitas, agama mendiskriminasi secara tajam dan eksklusif sesama manusia. Orang bisa menjadi separuh Prancis dan separuh Arab, tapi tidak bisa menjadi separuh Muslim dan separuh Katolik.
Keenam, meningkatnya regionalisme ekonomi akan semakin memperkuat kesadaran peradaban. Tapi dipihak lain, regionalisme ekonomi akan berhasil bila ia berakar dalam budaya yang sama. Budaya dan agama akan membentuk dasar organisasi kerjasama ekonomi. Seperti yang telah menyatukan sepuluh negara-negara Muslim non-Arab: Iran, Pakistan, Turki, Azarbaijan, Kazakstan, kyrgystan, Turkmenistan, Tadjikistan, Uzbekistan, dan Afganistan. Satu pendorong bagi persaingan dan perluasan organisasi ini, yang didirikan mulanya pada tahun 1960-an oleh Turki, Pakistan dan Iran, adalah realisasi oleh para pemimpin sejumlah negara ini bahwa mereka tak punya kesempatan untuk masuk ke Masyarakat Eropa.
Kritik Amartya Sen
Amartya Sen, seorang ekonom, budayawan dan filosof asal India, melihat teori Huntington tentang “Benturan Antar Peradaban” sebagai teori yang salah. Dia menelesik kesalahan teori tersebut dengan melakukan restrospeksi dan analisis kritis atas berbagai mainstream teori sosial yang berbicara mengenai masalah identitas yang banyak disalahpahami.
Setiap orang memiliki identitas yang banyak dan beragam. Hal itu karena, secara pribadi, setiap orang terkait dengan berbagai macam identitas dalam konteksnya yang berlainan – dalam hidup masing-masing; seperti, terkait dengan latar belakang, lingkungan pertemanan, atau kegiatan sosial. Seseorang, misalnya, pada saat yang sama dapat sekaligus menjadi warga negara Indonesia, keturunan Jawa, seorang misisi dangdut, seorang pegiat hak asasi manusia, seorang yang percaya pada Tuhan Allah (Muslim), dan sebagainya. Seperti, sebut saja Ngadimin, umpamanya, dia secara kebetulan lahir dari orang tua bersuku Jawa yang berberbicara dengan bahasa Jawa, tapi pada saat yang sama dia adalah seorang Muslim, pecinta musik dangdut, seorang advokat, dan pegiat HAM, dan menjadi warganegara sebuah negara-bangsa yaitu Indonesia. Dengan demikian, seseorang tidak hanya beridentitas tunggal, “seorang Muslim”, umpamanya, tapi masih banyak lagi identitas lainnya yang melekat pada dirinya.
Rasa memiliki suatu identitas bukan hanya bisa menjadi sumber lahirnya kebanggaan dan kebahagiaan, melainkan pula sumber tumbuhnya kekuatan dan kepercayaan diri. Tidak heran bila gagasan tentang identitas memperoleh pengakuan yang begitu luas. Namun demikian, identitas juga bisa memicu pembunuhan dan membuat orang mati sia-sia. Rasa keterikatan yang kuat dan eksklusif pada suatu kelompok bisa mengandung di dalamnya persepsi tentang jarak dan keterpisahan dari kelompok lain. Kesetiakawanan kelompok bisa memicu tumbuhnya perselisihan antar kelompok.