- Kekeliruan Cara Memahami Identitas diri
Tesis “benturan peradaban”, menurut Sen, juga tidak bisa dilepaskan dari kesalahan Huntington dalam memahami identitas diri. Sejarah dan latar belakang bukanlah satu-satunya cara untuk memahami diri kita (sebagaimana hal itu dipahami oleh Huntington). Sen melihat terdapat begitu banyak ragam kategori tempat kita menjadi bagiannya secara serentak. Pada saat yang bersamaan, seseorang bisa disebut seorang Asia, seorang warga India, seorang Bengali dengan leluhur dari Bangladesh, seorang yang tinggal di Amerika, seorang ekonom, yang mendalami filsafat, seorang penulis, seorang pegiat demokrasi, juga seorang feminis, seorang religious, dsb. Ini hanya contoh kecil tentang aneka ragam kategori seseorang dalam serentak. Tentu saja masih banyak kategori lain yang bisa disebutkan disini yang membuat seseorang terlibat.[19]
Dari analisa di atas, menurut Sen, ada dua bentuk reduksionisme yang tampak memenuhi kepustakaan analisa sosial dan ekonomi. Pertama, reduksionisme dengan bentuk “pengabaian identitas”, yang terwujud dalam prilaku menihilkan rasa berbagai identitas apapun dengan orang lin. Kedua, bentuk reduksionisme yang disebut dengan “afiliasi tunggal”. Reduksionisme ini mengandaikan bahwa setiap orang , demi tujuan praktis, terkait hanya dengan satu kolektivitas saja, tidak lebih tidak kurang.[20] Padahal secara pribadi kita semua terkait dengan berbagai macam identitas dalam konteksnya yang berlainan-terkait dengan latar belakang, lingkungan pertemanan, atau kegiatan sosial kita. Dalam satu dan lain hal, sesungguhnya kita tercakup dalam berbagai kelompok yang berbeda, dan masing-masing kelompok tersebut bisa memberikan identitas yang secara potensial penting bagi yang bersangkutan.
Asumsi tentang ketunggalan ini bukan hanya menjadi gizi bagi teori tentang identitas, melainkan juga menjadi senjata oleh aktivis sektarian yang menginginkan agar kelompok masyarakat melupakan sama sekali ikatan-ikatan mereka lainnya, mengingat hal itu dapat melunakkan kesetiaan mereka pada kawanannya secara khsusus.[21]
Implikasi
Semakin menguatnya kecenderungan untuk mengklasifikasi warga dunia berdasarkan agamanya juga makin membuat semangat respon Barat terhadap terorisme dan konflik global. Rasa hormat kepada orang lain lebih ditunjukkan dengan memuji kitab suci mereka ketimbang memperhatikan beragam aktifitas dan pencapaian orang tersebut dalam bidang non-keagamaan-dalam suatu dunia yang terintegrasi secara global. Dalam menangani apa yang disebut sebagai “terorisme Islam” kebijakan Barat diarahkan terutama untuk memaknai apa itu Islam. Kaum ulama, misalnya, dianggap sebagai juru bicara resmi bagi dunia Islam, meskipun sesungguhnya banyak orang lain yang kebetulan juga beragama Islam memiliki perbedaan tajam dengan apa yang dikemukakan oleh seorang mullah atau lainnya. Terlepas dari keberagaman kita yang tak pernah seragam, dunia kemudian dipahami bukan sebagai kumpulan orang-orang, melainkan sebagai federasi agama-agama dan peradaban-peradaban. Konyolnya lagi identitas-identitas itu diasumsi sebagai takdir yang terberi, dan hal itu berdampak pada merebaknya alienasi di berbagai negara Barat, termasuk Inggris.
Kelemahan konseptual yang diidap oleh upaya untuk mencapai pemahaman tunggal atas warga dunia melalui pemilahan-pemilahan peradaban tidak hanya bertentangan dengan nilai kemanusiaan, namun juga mengecilkan kemajemukan identitas yang dimiliki manusia, yang tidak niscaya menempatkan manusia dalam posisi saling berlawanan.
Klasifikasi berdasarkan agama atau peradaban yang demikian, menurut Sen, dapat menjadi sumber distorsi yang memicu permusuhan di kalangan manusia.
Tak pelak lagi, kekerasan sektarian yang melanda seantero dunia saat ini karena disebabkan oleh kerancuan konseptual mendasar tentang identitas manusia, yang mengubah manusia multidimensi menjadi makhluk satu dimensi. Ilusi tentang identitas tunggal yang menjadi landasan bagi mereka yang mendalangi konfrontasi, dipupuk dan diplintir secara cermat oleh para pemimpin aksi penganiayaan atau pembantaian itu. Maka tidak heran bila menumbuhkan ilusi tentang identitas tunggal ini, yang dieksploitir untuk maksud-maksud konfrontatif, menarik bagi mereka yang suka menebar kekerasan, dan tidak heran pula jika reduksionisme macam itu justru dicari-cari. Namun menjadi pertanyaan besar mengapa upaya untuk menonjolkan identitas tunggal itu bisa begitu berhasil, padahal tesis tersebut amat naif, mengingat kita semua memiliki afiliasi yang majemuk. Memandang seseorang semata berdasarkan satu diantara banyak identitas yang dimilikinya tentu merupakan langkah intelektual yang ngawur, namun dari segi efektifitasnya, pemupukan tentang singularitas ini terbukti mudah dimanfaatkan, digencarkan.
Penutup
Atas dasar itu, menurut hemat penulis, tesis “the clash of civilization” merupakan teori yang keblinger, karena berbau reduksionis, srampangan, soliteris dalam mengklasifikasi keragaman identitas manusia dan memaksanya menjadi satu, yaitu identitas agama atau peradaban yang kejam dan bengis. Konsep intelektual semacam itu perlu dikonfrontir dengan konsep lain yang lebih menyadarkan manusia akan asosiasi dan afiliasi-afiliasi dirinya sebagai makhluk sosial sebagaimana adanya. Agar manusia tidak terbius dalam kerangkeng ilusi didentitas tunggal yang mereka miliki.***
[1] . Mahmud Hamid Zaqzuq, Reposisi Islam di Era Globalisasi, (Yogjakarta: Pustaka Pesantren, 2004), hlm. 82
[2] . Samuel P. Huntington, Benturan Antar Peradaban, (Yogjakarta: Al-Qalam, 2000), hlm. 7-8.
[3] .Samuel P. Huntington, Benturan antar Peradaban, Masa Depan Politik Dunia, (terj.) Saeful Muzani, dalam Nasir Tamara(edt.), Dialog Agama dan Dialog Antar Peradaban, (jakarta: Yayasan paramadina, 1996, hal. 6-11
[4] . Op.cit. hlm. 9
[5] . Ibid.
[6] . Vaclav Havel, “The Measure of Man”, New York Times, 8 Juli 1994, hlm. A27.
[7] . Huntington, Op.cit. hlm. 10.
[8]. D.S. Greenway’s Prase, Boston Globe, 3 Desember 1992, hlm. 19.
[9] . Nasir Tamara(ed.), Dialog Agama dan Dialog Antar Peradaban, (jakarta: Yayasan paramadina, 1996, hal. 6-11
[10] . Robert D. Putnam, Bowling alone: The Collapse and the Revival of the American Community (New York: Simon & Schuster, 2000).
[11] . Amartya Sen, The Illusion of Destiny, (New York: 2006), hal. 5
[12] . Lihat, Sen. Op.Cit. hal. 14-17
[13] . Ibid. hal. 60
[14] . ibid. hal. 76
[15] . ibid
[16] . ibid. hal. 16
[17] . Ibid. hal. 16-17
[18] . Ibid. hal. 14-15.
[19] . Lihat, Leon Wieseltier, Againt Identity ( New york, Drentel, 1996.
[20] . Amartiya Sen, Op.cit, hal. 32
[21] .ibid. hal. 27-28