Rasa akan identitas bisa memberi sumbangan berarti bagi kekuatan dan kehangatan hubungan kita dengan pihak lain, seperti tetangga, anggota suatu komunitas yang sama, sesama warga negara atau penganut agama yang sama. Perhatian kita pada identitas tertentu bisa mempererat pertalian dan membuat kita bersedia melakukan berbagai hal satu sama lain dan turut membawa kita melampaui hidup yang berpusat pada diri sendiri. Literatur mutakhir tentang “modal sosial” yang dikupas secara cermat oleh Robert Putnam dan beberapa pemikir lain, men unjukkan dengan cukup jelas bagaimana kesamaan identitas dalam satu komunitas sosial dapat membuat kehidupan di komunitas tersebut berjalan jauh lebih baik. Rasa keterikatan terhadap komunitas itu kemudian dipandang sebagai sumber daya-laiknya modal.[10] Namun demikian rasa keterikatan yang kuat terhadap suatu identitas bisa mengandung di dalamnya persepsi tentang jarak dan keterpisahan dari kelompok lain. Hal ini sering kali memicu tumbuhnya perselisihan antar kelompok. Biasanya kekerasan dipicu oleh pemaksaan identitas tunggl (peradaban) yang penuh permusuhan ini kepada orang-orang awam, yang digelorakan oleh para penebar teror.
Kekerasan terkait dengan konflik identitas tampaknya terjadi berulang kali diseluruh penjuru dunia dan berkembang terus menerus.[11] Seperti yang terjadi di Rwanda dan Konggo boleh jadi telah berubah, namun upaya untuk membidik satu kelompok oleh kelompok lain terus berlanjut dengan kekuatan yang kian membesar. Israel dan Palestina terus berkecamuk akibat sengketa identitas. Al-Qaaedah sangat mengandalkan upaya untuk mengeksploitasi identitas Islam militan yang ditujukan terutama untuk melawan masyarakat Barat. Sepertinya tindakan di atas bermaksud mengenyahkan ciri-ciri identitas lain – yang tidak terlalu tampak berbeda – yang juga dimiliki oleh orang-orang yang berada di pihak lawan, termasuk salah satunya adalah keberadaan mereka sesama manusia.
Pendekatan soliteris ini membuka jalan bagi lahirnya kesalahpahaman di antara hampir setiap orang di dunia. Pendekatan ini tentu berpotensi menimbulkan konflik, kekerasan dan kekejian yang mendera penduduk dunia. Dalam konteks inilah Amatya Sen melakukan analisis kritis atas berbagai mainstream teori sosial yang berbicara mengenai masalah indentitas. Ia mencoba melawan kemacetan berfikir dan menawarkan kondisi sosial masa depan yang lebih damai dan lebih baik. Setidaknya terdapat tiga kritik Sen terhadap teori tersebut:
- Kesalahan Asumsi: Konfrontasi Antar Peradaban atau Agama
Kritik pertama dikemukakan Sen menyangkut teori “benturan antar peradaban” yang dikemukakan oleh Samuel Huntington, yang berasumsi adanya konfrontasi antar agama atau peradaban. Pandangan teori ini dibangun dengan mengasumsikan keterpisahan identitas yang dominan dan kukuh. Pandangan ini dilihat oleh Sen sebagai reduksionis, karena hanya melihat manusia diri sisi agamanya saja.