KOEKSISTENSI KERAGAMAN KULTURAL PERSPEKSTIF ISLAM

KOEKSISTENSI KERAGAMAN KULTURAL PERSPEKSTIF ISLAM

Penutup
            Dengan penjelasan di atas dapat digarisbawahi bahwa koeksistensi keragaman kultural manusia dalam Islam, terkonfigurasi secara jelas dalam dasar-dasar ajaran Islam tentang kehidupan sosial-keagamaan yang menyangkut keniscayaan keragaman manusia, tuntunan toleransi dan juga anjuran untuk melakukan dialog dengan pihak non-Muslim. Dengan demikian, sejatinya, Islam menyuguhkan konsep yang jelas tentang koesistensi keragaman kultural manusia ini. Namun sayangnya, ajaran dasar Islam ini, masih belum dipahami secara seksama oleh umat Islam. Mungkin karena permasalahan historis menyangkut hubungan Muslim dan non-Muslim yang selalu memberi nuansa dalam pengejawantahan ajaran Islam tersebut.

[1] . QS. Al-Anbiya’ (21): 107:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ [٢١:١٠٧]

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

 

[2] . Dalam QS. al-Baqarah (2): 62, dan juga dalam al-Ma’idah (5): 69, umpamanya, ditegaskan bahwa Islam disejajarkan dengan sistem keyakinan lainnya, yang memperoleh ultimatum dan sekaligus konsekwensi darinya di depan Tuhan untuk diuji tentang kebenaran masing-masing.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَىٰ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ [٥:٦٩]

[3] . salah satu penegasan al-Qur’an terkait dengan hal ini adalah firman Allah, QS. al-Ma’idah (5): 48:

ِ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ [٥:٤٨]

Begitu juga ditegaskan bahwa Allah mencegah keganasan antar manusia untuk saling menghancurkan tempat-tempat ibadah, yang mengandung arti bahwa penghancuran tempat ibadah bagi agama apapun, tidak diperbolehkan dalam Islam. QS. al-Haj (22): 40, sebagai berikut:

الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا ۗ وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ [٢٢:٤٠]

[4] . Budhy Munawar Rachman, Argumen Islam Untuk Pluralisme, (Jakarta: Grasindu, 2010), hlm. LII.

[5] . Muhammad Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Vol. 11, (Jakarta: Lentera Hati, 2003), hlm. 38.

[6] . Gamal Al-Banna, Al-Ta’addudyah fi al-Mujtama’ al-Islami, (Kairo: Dar al-Fikr al-Islami, 2001, hlm. 10.

[7] . Mohamed Fathi Osman, Islam, Pluralisme dan Toleransi Keagamaan, (Jakarta: Paramadina, 1996), hlm. 1-4.

[8] . QS. A-Hujurat (49): 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ [٤٩:١٣]

[9] . Wawasan, Op.cit. hlm. 337.

[10] . Hamka, Tafsir Al-Azhar, vol. XXVI, hlm. 208.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *