KOEKSISTENSI KERAGAMAN KULTURAL PERSPEKSTIF ISLAM

KOEKSISTENSI KERAGAMAN KULTURAL PERSPEKSTIF ISLAM

 

  1. Multikulturalitas Sebagai Sunnatullah

Keragaman merupakan keniscayaan dan kenyataan sosial yang tidak bisa dibantah. Pada zaman sekarang ini, dapat dikatakan praktis hampir tidak ada satu masyarkat pun yang hidup tanpa dihadapkan pada kenyataan kemajemukan seperti ini, baik dalam keragaman ras, bangsa, bahasa maupun keragaman dalam bentuk komitmen ketuhanan atau keragaman budaya.

Dalam konteks Indonesia, keragaman sudah menjadi bagian dari ideologi nasional yang dirumuskan dengan istilah bhinneka tunggal ika, suatu istilah yang berasal dari Empu Tantular, yang bermakna kesatuan dalam keragaman (unity in diversity). Keragaman itu juga tercermin dalam ideologi Pancasila yang terdiri dari berbagai ideologi-ideologi besar dunia, tapi intinya adalah paham kegotong-royongan, kekeluargaan dan kebersamaan.[4]

Menurut hemat penulis, keragaman merupakan hukum sejarah yang tidak bisa terelakkan. Setiap orang lahir berbeda antara satu dengan lainnya. Penelitian terakhir membuktikan bahwa tidak ada dua orang di dunia ini yang suaranya sama, meski orang kembar sekalipun, begitu juga tidak ada dua orang yang sidik jarinya sama, padahal mereka diturunkan dari nenek moyang yang sama.[5] Bahkan Gamal Al-Banna menuturkan bahwa dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menegaskan keragaman manusia, baik dari segi etnisitas, kesukuan, kebangsaan, jenis kelamin, sistem keyakinan sebagai kehendak Allah atau sunnatullah.[6]

Fathi Osman, dengan mengutip Ensikplopaedia Britanica membagi keragaman menjadi dua, keragaman bawaan dan keragaman perolehan. Keragaman fisik dan psikologis, seperti, keragaman etnis, suku, bangsa masuk dalam kategori keragaman bawaan, sedangkan keragaman yang menyangkut aspek pengetahuan, gagasan, pemikiran, pengalaman dan lain sebagainya, termasuk kategori perbedaan perolehan. Sedangkan yang menyangkut sistem keyakinan atau agama menempati ruang antara keragaman bawaan dan keragaman perolehan. Hal itu karena sistem keyakinan, menurut Osman dapat diwariskan oleh generasi sebelumnya, dan juga dapat berkembang melalui sistem keyakinan pribadi.[7]

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *