KOEKSISTENSI KERAGAMAN KULTURAL PERSPEKSTIF ISLAM

KOEKSISTENSI KERAGAMAN KULTURAL PERSPEKSTIF ISLAM

Selain ayat tersebut di atas, juga ditegaskan bahwa keragaman manusia dengan berbagai implikasinya sudah menjadi kehendak Allah, dan justru dalam rangka keragaman itu masing-masing dianjurkan untuk berlomba meraih prestasi dalam hal kebaikan, dan kemudian hanya Allah lah yang akan menjadi hakim atas amal manusia semuanya. Hal itu seperti ditegaskan dalam QS. al-Maidah (5): 48: “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”.[16]

Dalam pandangan Shihab, penggunaan kata lau dalam firman Allah “sekiranya Allah menghendak”, menunjukkan bahwa hal tersebut ditak dikehendakiNya. Menurutnya, ini berarti Allah tidak menghendaki menjadikan manusia semua sejak dulu hingga kini, satu umat saja, yakni satu pendapat, satu kecenderungan, bahkan satu agama dalam segala prinsip dan rinciannya, karena jika Allah menghendaki yang demikian, Dia tidak akan memberi manusia kebebasan memilah dan memilih, termasuk kebebasan memilih agama dan kepercayaan. Kebebasan memilah dan memilih itu dimaksudkan agar manusia berlomba-lomba dalam kebajikan, dan dengan demikian akan terjadi peningkatan kreatifitas dan kwalitas manusia karena perlombaan yang sehat itu.[17]

Meskipun ayat tersebut merupakan penegasan tentan keragaman yang menjadi kehendak Allah terhadap penciptaan manusia, tidak berarti ayat ini menafikan kehendak Allah tentang kesatuan manusia. Sebab mereka diturunkan dari kesatuan asal-usul.[18]

Senada dengan pernyataan Shihab di atas, Hamka menuturkan bahwa keragaman manusia dengan berbagai kecenderungannya merupakan kehendak Tuhan. Tuhan maha kuasa untuk menjadikan manusia dengan berbagai ragamnya satu ragam saja, baik keyakinan, bangsa, suku, sifat dan adat-istiadat manusia. Tapi Tuhan tidak menghendaki yang demikian. Hal itu, menurutnya, dalam rangka menguji kemampuan atau potensi manusia masing-masing, terutama adalah potensi akalnya dalam menyusaikan hidup dengan sekelilingnya sejalan ruang dan waktu. Namun demikian, apapun prestasi manusia, pada akhirnya, keputusan hanya ada di tangan Tuhan kelak di kemudian hari. Segala hal yang diperselisihkan manusia hendaknya jangan menimbulkan permusuhan dan kebencian, sebab asal-usul manusia adalah satu jua.[19]

Dengan mencermati penjelasan kedua mufassir tersebut dapat digaris bawahi bahwa, meskipun dengan adanya redaksi dan penuturan kata dan kalimat yang agak berbeda, namun keduanya mempunyai pandangan yang sama, bahwa selain mengakui keragaman manusia dengan berbagai ragam kebudayaan dan kecenderungan nya sudah merupakan sunnatullah, mereka juga mengemukakan bahwa keragaman ini juga berorientasi kepada kesatuan manusia, sebab mereka dari asal-usul yang satu. Oleh karena itu, segala perbedaan hendaknya tidak menjurus kepada kebencian dan saling bermusuhan.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *