KOEKSISTENSI KERAGAMAN KULTURAL PERSPEKSTIF ISLAM

KOEKSISTENSI KERAGAMAN KULTURAL PERSPEKSTIF ISLAM

Dalam pandangan Hamka, ayat ini merupakan tantangan bagi manusia, karena Islam adalah agama yang benar. Ia Islam memberikan kesempatan kepada semua manusia untuk berfikir secara bebas dan murni untuk mencari kebenaran. Kalau manusia mau berfikir secara jernih, tidak sekedar taklid atau mengikuti kecenderungan nafsunya, dia akan sampai pada kebenaran itu. Tapi bila dipaksa-paksa, justru akan tidak menemukan kebenaran itu. Hamka menambahkan bahwa tantangan yang diberikan Islam kepada manusia ini memperoleh respons dari sarjana Kristen Arabia, Phillips K. Hitti yang mengakui ayat ini merupakan salah satu ayat dalam Islam yang patut menjadi anutan manusia pada segala zaman.[28]

Sikap toleransi Islam juga dapat dilihat dari beberapa penegasan Al-Qur’an terkait dengan penghargaan dan pengakuannya terhadap komunitas dan eksistensi agama lain. Seperti, larangan Allah kepada umatnya untuk tidak mengolok-olok atau mencerca orang-orang lain (non-Muslim) yang tidak menyembah kepada-Nya, “Dan janganlah kalian mengolok-olok orang-orang (penganut agama lain) yang menyembah selain Allah”[29]; kebebasan menganut suatu sistem keyakinan “Tidak ada paksaan untuk menganut agama (Islam)”;[30] penghargaan terhadap keyakinan yang dianut orang lain, “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”[31], larangan penghancuran tempat-tempat ibadah “Seandainya Allah tidak menolak keganasan sebagian orang atas sebagian yang lain, niscaya hancurlah biara-biara, gereja-gereja, sinagog-sinagog dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut asma Allah”[32], dan sebagainya.

Konsep ta’aruf dalam Islam, seperti ditegaskan dalam QS. Al-Hujurât [49]: 13, merupakan konsep yang sangat agung dalam bingkai kerukunan dan perdamaian antar sesama manusia. Karena dalam konsep itu terkandung pemahaman bukan hanya sekedar saling mengenal, tapi juga unsur saling menghargai, dan saling memberi. Konsep ini juga terkandung pemahaman bahwa Islam mengajarkan hubungan yang harmonis antar sesama manusia.

Tidak bisa dipungkiri bahwa toleransi akan menjadi perekat yang paling kuat untuk merekatkan antara manusia yang satu dengan manusia lainnya. Dalam toleransi terkandung ketulusan dan kesediaan untuk menerima perbedaan dan pemikiran dari pihak lain. Yang lebih penting dari itu adalah bahwa pihak lain akan dipandang sebagai kawan, bukan sebagai lawan. Pihak lain akan dipahami sebagai sesama makhluk Tuhan yang mempunyai hati nurani dan akal budi.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *